DIPAGAR: Komplek Saung Budaya Sumedang masih dipagari bambu pasca ditutup Satpol PP Sumedang, beberapa waktu lalu. (DOK SUMEKS)

Peliput/Editor: toha/iman nurman

Pendapatan Sabusu Hilang Selama Dikelola Swasta

KOTA- Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata pada Dinas Budaya Pariwisata dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Sumedang, Dedeh mengatakan pendapatan pajak dari Saung Budaya Sumedang (Sabusu) hilang pasca dikelola oleh swasta. Padahal, kata dia, ketika dikelola pemerintah pendapatan dari Sabusu bisa mencapai Rp20 juta per tahun.

Dedeh mengungkapkan, sebelum penutupan, pengelolaan masih dipegang oleh Disbudparpora termasuk PAD yang masuk sebesar Rp20 Juta per tahun. Namun setelah di ambil alih, sampai saat ini belum ada kejelasan, apakah mau diberhentikan atau dilanjut.

“Kami menyambut baik  apabila Saung Budaya Sumedang dikelola oleh pemda. Karena nantinya akan fokus  untuk peningkatan nilai budaya. Namun berbeda  bila dikelola oleh pihak ke tiga, pengelolaan pun tidak maksimal karena bercampur dengan  bisnis,” ujarnya.

Disbudparpora Kabupaten Sumedang menilai pengelolaan Sabusu sebaiknya dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Sumedang agar pemanfaatan Sabusu bisa lebih maksimal.

“Setelah dinonaktifkan  pada tanggal 31 Juli 2015, kini nasib Sabusu yang sebelumnnya dikelola oleh pihak ketiga sudah menemui babak akhir. Keputusannya tergantung dari kebijakan Bupati dan Sekertaris Daerah,” katanya.

Dewan Kebudayaan Sumedang (DKS), kata dia, lembaga yang sah di Kabupaten Sumedang, yang dirasa sangat pas sebagai pengelola kebudayaan termasuk Sabusu. “Dimana nantinya pemberdayaan seni dan budaya bisa lebih melekat disana,” ujarnya.

Sementara Kepala Bagian Kerjasama  Kabupaten Sumedang berencanan akan menyeleksi mitra pengelola Sabusu, yang mana nantinya bisa dilimpahkan ke pihak ketiga maupun ke pihak pemerintahan.

“Sekarang mulai penjajakan, rencana dalam waktu dekat mudah-mudahAn sebelum tahun 2016 sudah mendapatkan pemenangnya,” ujar Kabag perencanaan Edi Supena saat dihubungi Sumeks, kemarin.
Edi menuturkan, Sabusu merupakan aset pemerintah yang harus dikelola sebagai tempat wahana menginformasikan seni budaya yang berada di kabupaten Sumedang. Oleh sebab itu, kata ia, perlu adanya peralihan/tufoksi yang bertujuan  mengembangkan, melestariakan seni budaya yang ada di wilayah Sumedang.

“Kita akan kembalikan ke tufoksi awal. Jika nantinya, siapa yang akan mengola tergantung hasil rapat, baik oleh Disbudparpora, Dinas Pendidikan maupun oleh Ekonomi kreative, Sesuai dengan peraturan Permendagri Nomor 22 tahun 2009,” ujarnya. (cr9)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.