oleh

Kiprah Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) Geliatkan Ekonomi, Jadi Wadah Wanita, Kembangkan Usaha Mandiri

Sebelum adanya Emansipasi wanita, perempuan kerap dipandang sebelah mata. Sebab, ada istilah perempuan itu cukup di dapur, sumur, dan maaf (kasur). Namun di zaman modern ini, derajat wanita bisa setara degan laki-laki. Apalagi banyak komunitas perempuan yang bisa menjadi wadah pengembangan bakat dan kemampuan perempuan. Seperti Perempuan Kepala Keluarga (Pekka).

HERI PURNAMA, Situraja

PROGRAM perempuan kepala keluarga (Pekka) bisa memberdayakan kaum perempuan, terutama janda. Tentu saja, komunitas atau perkumpulan ini dibuat untuk mengembangkan bakat dan kemampuan para single fighter ini dalam mengelola home industri.

Program dari BPMPDKBPP Kabupaten Sumedang ini, sudah beberapa tahun ini dijalankan oleh kelompok wanita yang ada di Desa Karangheuleut, Kecamatan Situraja. Produk yang mereka kembangkan cukup keratif dan bervariasi mulai dari produk makanan ringan seperti, cireng goreng, sistik daun singkong, daun bayam dan beberapa jenis makanan lainnya. Bahkan ada juga produksi selimut.

“Kita disini terdiri dari 14 anggota, yang dinamakan kelompok Pekka Rengganis. Kelompok ini sudah berdiri dari bulan Desember tahun 2013,” kata ketua kelompok home industri,Wini Mulyasari saat berbincang dengan Sumeks, kemarin.

Adapun, produk yang dihasilkan oleh kelompok tersebut, kata dia, sudah bisa memberikan penghasilan kepada anggotanya meski masih kecil. Namun hal itu akan terus dikembangkan oleh pihaknya agar bisa membuat partai pengelolaan produknya lebih besar lagi.

“Tentunya kita tidak mau hanya sampai disini saja, kita punya ambisi agar bisa lebih mengembangkan program ini agar bisa lebih banyak menampung tenaga kerja perempuan. Namun kendalanya dari segi permodalan,” ucapnya.

Wini juga menerangkan, bahwa produknya masih perlu banyak di sosialisasikan ke daerah tetangga. Seperti desa tetangga, kecamatan tetangga dan sampai kabupaten tetangga agar pemasaranya semakin meluas dan bisa berkembang pesat.

“Untuk pemasaran, masih sedikit terkendala. Adapun produk ini bisa sampai Jakarta kalau ada tamu dari Jakarta lalu membawa oleh-oleh dari sini, kita maunya produk ini bisa dipasarkan di beberapa pusat perkotaan,” kata dia.

Dia juga menjelaskan, bahwa pernah pihaknya mau mencoba kerja sama dengan pihak griya atau pasar moderen. Namun kendalanya mereka masih ragu untuk bisa menarik peminat di tempat seperti itu. Sementara barang yang sudah kadarluarsa pasti akan dipulangkan kepada mereka dan tentunya hal itu akan mubadjir dan malah berpotensi merugi.

“Kita masih belum berani untuk kerjasama dengan griya atau sejenisnya, karena ditakutkan barang yang tidak terjualnya terlalu banyak. Kita belum punya pembekalan ilmu untuk mengelola kembali barang yang tidak laku itu untuk dimanfaatkan kebutuhan lain seperti pakan ikan atau keperluan lainnya,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Desa Karangheuleut, Rodiah menyebutkan, bahwa pihaknya masih tetap memberikan motivasi kepada kelompok home industri tersebut untuk mengembangkan programnya tersebut. Sebab, dengan berkembangnya hal itu, akan banyak membuka lowongan kerja untuk masyarakat.

“Kita sebagai pemerintah desa tentunya terus memberikan dorongan dan motivasi kepada para kelompok home industri,” kata dia.

Dia menilai, bahwa perkembangan hasil produk dari kelompok tersebut sudah merangkak lebih baik dari sebelumnya, dan pemasarannya pun sudah lebih baik, namun untuk mengembangkannya masih butuh bantuan dari intansi terkait mengenai permodalan.

“Siapa tau kedepannya mereka bisa menciptakan sebuah perusahaan yang bisa mendongkrak perekonomian desa ini, saya sangat mengapresiasi terhadap kelompok tersebut,” kata dia. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed