oleh

Lingga Budaya Tanggapi Padepokan Terjerat Hukum

PASEH – Maraknya tokoh-tokoh dan ketua padepokan yang terjerat kasus hukum di Indonesia mendapat tanggapan berbagai tokoh di Sumedang. Salah satunya, Ketua Padepokan Seni Lingga Budaya Paseh, A Mumuh.

Menurutnya, kini nama padepokan yang identik sebagai tempat menuntut ilmu ataupun belajar warga, menjadi tercoreng. Sebutnya, nama padepokan seolah menjadi kotor karena ulah beberapa oknum.

“Karena ulah mereka, nama padepokan menjadi terkotori. Padahal, tidak semua padepokan bermasalah dengan hukum,” ujar Mumuh kepada Sumeks di sekretariat Padepokan Seni Lingga Budaya, Selasa (1/11).
Disebutkan Mumuh, selama ini masih banyak padepokan-padepokan yang lurus dan tidak menyimpang.
Terangnya, hal itu tergantung dari tujuan didirikannya padepokan itu sendiri.

“Bagi padepokan-padepokan yang lurus dan bagus, sampai saat ini tidak ada bermasalah dengan hukum. Tetapi, bagi padepokan yang menyimpang, nanti juga akan terlihat sendiri penyimpangannya,” jelas dia.

Dikatakan Mumuh, banyaknya padepokan yang terjerat kasus hukum, seperti Padepokan Kanjeng Dimas Taat Pribadi ataupun Aa Gatot, tidak berpengaruh bagi padepokan seni yang dipimpinnya. Terpenting, padepokannya terus akan berusaha untuk lurus dan baik. “Sehingga, akan berperan dan berguna bagi masyarakat. Serta, tidak merugikannya,” tandasnya.

Menurutnya, kasus padepokan yang terjadi di beberapa tempat, karena para tokohnya tergiur dengan kekayaan. Sebutnya, tokoh-tokoh padepokan itu rela melakukan apapun demi tujuannya tercapai.

“Mereka menginginkan kekayaan dengan cara instan. Sehingga, rela berbuat seperti menipu dan lain-lainnya yang tidak diperbolehkan,” tegasnya.

Mumuh pun mengimbau masyarakat, agar tidak mudah tergiur dengan iming-iming. Selain itu, kata dia, pengikut suatu padepokan juga terkadang terlalu patuh pada tokoh padepokan tersebut. “Warga diharapkan dapat berfikir secara sehat. Mereka jangan mudah terlanjur tergiur dengan janji-janji yang diberikan para tokoh tersebut,” harapnya.

Mumuh mengharapkan, ketegasan setiap aparat untuk menindak tegas padepokan-padepokan yang menyimpang. “Nama padepokan sendiri akan kembali membaik apabila semuanya ditindak tegas. Hal itu akan berjalan seiring dengan waktu,” tutupnya. (atp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed