oleh

Panen Raya Alami Krisis

TOMO – Panen raya mangga gedong gincu di Kecamatan Tomo pada tahun 2016 ini, mengalami krisis. Bahkan, beberapa petani memaksakan panen di saat mangga berumur muda. Hal itu menyebabkan harga mangga berada di bawah standar.

Serangan hama lalat buah yang mencapai 40 persen dan intensitas curah hujan yang tinggi, menjadi penyebabnya. Akibatnya, buah mangga yang dihasilkan berkualitas buruk.

“Mangga yang dihasilkan berwarna ‘blewuk’ dan bertotol-totol tidak secerah biasanya. Sangat tidak menarik,” ujar Ketua Kelompok Tani Jembar Makmur, Desa Jembarwangi Kecamatan Tomo, Inta Suminta kepada Sumeks, Selasa (1/11).

Inta menambahkan mangga pun cepat mengalami busuk karena serangan entod longong (lalat buah) dan kadar air yang tinggi. “Isi mangga banyak mengandung ulat yang menyebabkan proses pembusukan cepat. Kadar air pun bisa menyebabkan pembusukan,” tambahnya.

Karena kualitas yang buruk itu, kata dia, para petani hanya menjual mangga gedong gincu seharga Rp 13.000/Kg. Padahal, sewaktu normal untuk grade A mangga gedong gincu bisa dijual seharga Rp 32.000/kg, untuk grade B bisa dijual seharga Rp 20.000 -25.000/kg. “Sangat jauh dari harga ketika panen bagus,” tandasnya.

Disebutkan Inta, di saat panen raya, mangga gedong gincu grade A bisa mencapai hasil 40 persen dari seluruh panen serta untuk grade B mencapai 30 persen. Sementara, sisanya merupakan afkiran.

“Sedangkan hasil panen sekarang mengalami kehancuran. Sangat sulit dibedakan grade A, B ataupun afkiran. Kalaupun dari luar terlihat bagus, tetapi di dalam mangga masih terdapat serangan yang tidak terlihat. Yaitu, hama lalat buah,” terangnya.

Seorang petani lainnya, Rohendi membenarkan hasil panen mangga banyak yang mengalami gagal panen. Sebutnya, faktor cuaca menjadi kunci utama. “Cuaca hujan terus menyebabkan hama banyak menyerang buah mangga. Terutama, hama lalat buah,” jelasnya.

Dikatakan Rohendi, oleh karena itu banyak petani menjerit karena panennya terhitung gagal. Selain itu, kata dia, banyaknya hama menyebabkan kualitas dari mangga sendiri menurun.

“Banyak konsumen yang mengeluhkan kualitas mangga pada musim ini. Mereka berharap panen pada saat puncak akan mengalami perbaikan,” tutupnya. (atp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed