oleh

Buat Belajar yang Menyenangkan

KOTA – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Dr. H. Asep Hilman mengatakan Filosofi Budaya Masyarakat Jawa Barat yang terkenal dengan silih asah silih asih dan silih asuh,  jika diterapkan di dalam dunia pendidikan maka akan menghasilkan  proses Kegiatan Belajar Mengajar yang sangat luar biasa.

Menurutnya, filosofi tersebut tidak dibuat oleh profesor atau guru besar dari universitas terkemuka, tetapi sudah hadir dalam keseharian masyarakat sunda.

“Mungkin prinsip itu yang menginspirasi Almarhumah Een Sukaesih, meskipun ditengah serba keterbatasannya, namun beliau mampu menggelorakan semangat dalam mendidik melalui kasih sayangnya yang ia ungkapkan,” kata Asep.

Iinilah, lanjut Asep yang kemudian digagas oleh rekan-rekan di Kabupaten Sumedang untuk menjadi embrio pendidikan karakter.

“Sementara kita sedang menggalakan pendidikan karakter, maka tidak usah jauh- jauh mengutip pendapat para ahli dari luar negri, kita tiru saja bagai mana ketulusan sang guru qolbu dalam mendidik, dan buku tentang perjalanan beliau sudah mendapat pengakuan masyarakat nasional bahkan internasional,” terangnya.

Untuk  mewujudkan pendidikan yang berbasis kasih sayang, lanjut Asep, kita sudah menyelenggarakan guru berinsfirasi dengan fokus kepada tokoh Een Sukaesih.

“Intinya, ada semacam representasi nilai-nilai yang almarhumah laksanakan pada saat beliau masih hidup kepada guru-guru sejawat lainnya, dan Alhamdulillah muncul lah tokoh-tokoh dalam pemilihan guru insfirasi,” katanya.

Selanjutnya, tentu nilai-nilai yang Almarhumah gelorakan ini bisa kita tarik dan dimasukan kepada kurukulum pendidikan.

“Dalam teori kurikulum, tidak harus mengubah struktur  kurikulumnya, tetapi  ada yang disebut dengan klugien,” katanya.

Sisipkan saja, kata dia, sesuai kan dengan nilai norma yang sudah ada pada kurikulum pendidikan serta diberikan tambahan pelengkap apa yang sudah diberikan Almarhumah Een Sukaesih.

“Kurukulum hanya sebagai dokumen saja, yang lebih penting itu, bagaimana implementasinya  lebih kepada role model atau penampilan gurunya itu sendiri , Bu Een yang santun, Bu Een yang bersahaja, yang tidak banyak permintaan tetapi mampu menjadikan sosoknya sebagai panutan bagi anak-anaknya,” kata Asep.

Di sanalah prinsi yang seharusnya dimiliki para guru.  Ditangisi kepergiannya, dirindukan kehadirannya dan keberadaannya membuat nyaman.”Esensi pendidikan yang paling hakiki itu disana,” katanya. (mg1)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed