oleh

Meneladani Sang Guru Qolbu, Een Sukaesih

KOTA – Ratusan kepala sekolah dari berbagai jenjang pendidikan, guru, perwakilan masyarakat se-Kabupaten Sumedang termasuk berbagai steak holder menghadiri Seminar Pendidikan Berbasis Budaya dan Kasih Sayang, yang diselenggarakan Paguyuban Motekar Sumedang, Minggu (6/11) di Aula Tampomas Gedung IIP Kabupaten Sumedang.

Salah seorang pemateri dari Paguyuban Motekar Sumedang, Drs. Herman Suryatman, M. Si mengatakan, seminar digelar berangkat dari keprihatinan terkait tentang kekerasan yang acap kali menodai dunia pendidikan.

“Kita sering mendengar dan melihat berita-berita di berbagai media massa tentang kasus kekerasan di sekolah. Bagaimana seorang guru yang memperlakukan anak didiknya dengan kurang baik atau sebaliknya, anak didik yang kurang santun terhadap gurunya, sehingga berujung pada proses hukum,” kata Herman kepada Sumeks.

Sejalan dengan memasukinya era globalisasi, lanjut Herman, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2016 yang pasti dampak positif dan negatifnya akan muncul.

“Kalau tidak diantisipasi dengan baik, dampak buruk teknologi akan menghancurkan anak-anak kita sebagai generasi penerus,” terang dia.

Karena, kata Herman, kekerasan atau pornografi akan lebih mudah diakses. “Kalau ini tidak segera dihentikan, khawatir anak-anak kita akan meniru segala sesuatu yang mereka dapat dari akses internet tersebut,” terangnya.

Untuk menghadang dampak buruk tersebut, lanjut mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumedang itu, ada dua kata kunci, kembali kepada budaya dan pendidikan yang berbasisi kasih sayang.

“Apalagi kalam Ilahi menegaskan, pentingnya menebarkan kasih sayang seperti yang tercantum dalam Al-qur an, Arrohman dan Arrohim,” kata Herman.

Dalam materi yang disampaikannya, Herman mengulas kisah sang Guru Qolbu, almarhum Een Sukaesih. Prinsip dasar pendidikan yang diterapkan sang guru qolbu, selalu santun dan mencerdaskan, demokratis dan memampukan. Lalu telaten dan mengasihi, menggembirakan, humanis serta nyunda.

Hal senada disampaikan Sekda Sumedang, H Zaenal Alimin. Menurutnya, untuk menciptakan pendidikan yang berbasis budaya dan kasih sayang, harus diawali dengan niatan yang tulus dari para tenaga pengajarnya.

“Ajari, anak didik kita dengan penuh rasa kasih sayang,” katanya saat memberikan sambuatan sebelum seminar dilaksanakan.

Dalam acara seminar tersebut hadir sejumlah narasumber seperti Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dr H Asep Hilman M.Pd, Tokoh Pendidikan Nasional, Prof. Mohamad Surya, dan Prof. Ganjar Kurnia (mantan Rektor Unpad).

Sementara itu, Ketua Paguyuban Motekar Sumedang, Dedi Mulyadi mengtakan kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan dunia pendidikan yang dibalut dengan kasih sayang. Dimana guru dalam mendidik dan mengajar peserta didiknya layaknya seorang ibu kepada anaknya sebdiri.

“Kiprah almarhumah Een Sukaesih harus dijadikan referensi dan suri tauladan bagi para guru. Karena mengajar yang dibarengi dengan kasih sayang maka akan menghasilkan murid yang soleh dan solehah,” katanya. (mg1/adv)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed