oleh

Visi World Class Navy Seharusnya Dimulai dari Seskoal

Visi ‘World Class Navy’ yang digaungkan pemimpin terdahulu seharusnya dimulai dari Lembaga Pendidikan Tertinggi TNI AL, yakni Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal). Karena Seskoal, di samping mendidik Perwira Siswa (Pasis) dalam negeri baik TNI AD dan TNI AU, juga turut serta mendidik para Perwira Siswa dari negara-negara sahabat atau mancanegara.

Hal tersebut disampaikan Wakil Komandan Seskoal Laksamana Pertama TNI T.S.N.B Hutabarat usai menerima Apel Pagi hari Senin (7/11) lalu, di lapangan Apel Seskoal, Bumi Cipulir, Jakarta Selatan.

Ini adalah apel perdana pasca dilantik sebagai Wadan Seskoal pada Jumat (4/11), minggu lalu. Apel tersebut digunakan Wadan Seskoal sebagai ajang untuk memperkenalkan diri sekaligus memberikan arahan terkait penugasan-penugasan ked epan.

Laksamana bintang satu ini, menyampaikan beberapa hal yang harus disiapkan untuk menerima kehadiran Pasis di Seskoal, di samping kesiapan mental para personel Seskoal. Di antaranya adalah rasa aman di lingkungan kampus baik aman dari pencurian, orang keluar masuk penjagaan, aman dari bahaya kebakaran dan rasa aman lainnya.

Berikutnya adalah kelengkapan terkait dengan fasilitas dan yang terakhir adalah rasa nyaman terkait dengan kebersihan, etika, sopan santun dan lain-lain.

Untuk mendukung kegiatan-kegiatan tersebut, Wadan Seskoal mengharapkan agar prajurit dan PNS yang ditugaskan di Seskoal melaksanakan tugas dengan penuh kekhlasan.

“Kita bukan lagi bekerja jamannya kerja rodi, harus dipaksa dulu baru bekerja. Kita bekerja harus berdasarkan keikhlasan. Ikhlas itu adalah kita tahu bahwa itu memang harus dikerjakan. Keikhlasan itu, dilihat maupun tidak dilihat kita laksanakan. Kita bisa bekerja secara optimal sesuai fungsi kita masing-masing adalah suatu kebanggaan,” ujar Wadan Seskoal.

Personel yang ditempatkan di Seskoal harus beda dibandingkan dengan personel yang ditugaskan di tempat lain. Dari sisi kemampuan harus baik karena melayani keberadaan perwira-perwira siswa dari negara-negara sahabat, sehingga tidak bisa hanya melakukan sebatas rutinitas namun dituntut harus berpikir yang out of the box.(fri/jpnn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed