oleh

Harga Si Melon Melejit

KELANGKAAN tabung gas atau elpiji bersubsidi 3 kg semakin parah di Provinsi Bengkulu. Bahkan di Kota Bengkulu, harga elpiji melon tersebut sudah naik dua kali lipat dari harga di pangkalan.

Di tingkat pangkalan naik berkisar Rp 1.200 per tabungnya dari Rp 15.300 menjadi Rp 16.500. Sedangkan di tingkat pengecer harganya melangit dari Rp 17 ribu menjadi tembus Rp 30 ribu per tabung.

Kelangkaan ini terjadi sejak akan diedarkannya elpiji 5,5 kg oleh Pertamina. Tak hanya di Kota Bengkulu, di 10 kabupaten/kota juga sulit didapat.

Padahal PT Pertamina mengklaim, pendistribusian tidak dikurangi bahkan ditambah. Akan tetapi di beberapa pangkalan tetap banyak kosong.

”Sulit cari elpiji 3 kg kini. Kami menjual Rp 30 ribu per tabung kini. Sebab kami mengambilnya dari penjual Rp 25 ribu. Sekarang bisa dicek, kalaupun ada tabungnya di warung-warung itu isinya kosong,” ujar Rustianto pengecer di Kelurahan Pagar Dewa kepada RB kemarin.

Merespons situasi itu, advokad Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) H. Ahmad Nurdin mengakui sulitnya masyarakat miskin mendapatkan elpiji 3 kg.

Untuk itu pihaknya mendesak agar aparat penegak hukum mengusut kelangkaan tersebut. Apakah ada permainan di kalangan agen atau pangkalan atau ada oknum yang menimbun.

Tak hanya itu, juga pengguna elpiji besubsidi seperti rumah makan itu juga harus ditindak. ”Ini yang kita juga heran, kenapa pemerintah daerah sendiri diam. Aparat juga ikut tidak ada yang bertindak. Di sisi lain masyarakat menjerit sulitnya mendapatkan elpiji 3 kg.

Harusnya persoalan kebutuhan masyarakat ini harus ditindaklanjuti dengan cepat. Bukan malah dibiarkan,” ujarnya.

Anehnya lagi, Pertamina terus menyuplai, tetapi kelangkaan terus terjadi. Kemudian soal kenaikan sudah jelas ada ketetapannya atau Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun, itu masih tetap dilanggar.

Maka dengan itu seharusnya pangkalan juga harus disanksi dan diawasi betul. Baik oleh pertamina dan pemerintah daerah. ”Untuk di Kota Bengkulu kan HET-nya Rp 15.300 di pangkalan. Tapi sudah ada yang menjual di atas itu. Apalagi di eceran sudah di atas Rp 20-30 ribuan.

Artinya sama saja elpiji yang dibeli masyarakat itu tidak bersubsidi lagi,” paparnya.

Sementara Executive LPG I Rayon Bengkulu-Jambi Rahma Ramadhan ketika dikonfirmasi mengatakan pendistribusian elpiji 3 kg tidak ada pengurangan. Akan tetapi penggunanya yang meningkat. Tak hanya rumah tangga, tetapi masih banyak restroran yang masih ikut menggunakan elpiji 3 kg.

Seharusnya untuk pengawasannya itu dilakukan pemerintah daerah. ”Untuk pangkalan yang menjual di atas HET, kami langsung sanksi dikurangi jatahnya 50 persen. Bahkan, beberapa hari ke depan agen diminta terus melakukan operasi pasar. Tapi banyak juga masyarakat yang ketika membeli itu dalam jumlah banyak. Alasannya karena takut kurang dan khawatir elpiji 3 kg dicabut subsidinya,” ujarnya.

Lanjut Rahma, dijualnya elpiji non subsidi 5,5 kg itu, bukan untuk mengurangi jata pendistribusian elpiji 3 kg. Tetapi untuk mengurangi pengguna elpiji 3 kg terutama rumah tangga yang menengah ke atas dan restroran atau hotel selama ini tidak mampu menggunakn elpiji 12 kg.

”Intinya kami akan cek lagi ke lapangan. Dimana macetnya, sehingga kelangkaan terjadi. Kalau di agen itu sudah ditelusuri terus menyalurkan ke pangkalan sesuai ketentuannya. Kita minta juga Pemerintah daerah melakukan tindakan terhadap masih banyaknya restroran yang menggunakan elpiji 3 kg tersebut,” pungkasnya.
(che/ami/flo/jpnn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed