oleh

Uang Intensif Perawat Turun

KOTA – Puluhan perawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Sumedang mengancam akan melakukan demo kepada pihak manajemen Rumah Sakit. Mereka menolak kebijakan pihak manajemen rumah sakit yang menyamaratakan insentif tindakan perawat, yang berimbas kepada turunnya tunjangan perawat yang bertugas di Poliklinik, OK, IGD, Ponek dan Hemodelisa.

Salah seorang perawat yang enggan disebut namanya mengatakan, uang insentif tersebut merupakan uang tindakan dokter. Akan tetapi dibagi dua atas kebijaksanaan pihak dokter. Sebab sebagian tuga ada yang ditangani oleh dokter.

“Jadi uang itu merupakan hak dokter, akan tetapi diberikan kepada kami setengahnya. Sebab kata dokter, kami pun berhak menerima, karena sebagian tindakan dilakukan oleh perawat,” salah seorang perawat yang enggan disebutkan namanya.

Dalam satu bulan, ia bisa mendapatkan uang insentif tindakan sebesar Rp2 hingga Rp3 Juta. Akan tetapi semenjak kebijakan tersebut diberlakukan, pendapatnya menurun drastis. Untuk perawat asosier yakni Rp455 ribu sedangkan untuk kepala ruangan Rp671 Ribu dan Perawat Primer Rp660 ribu.

“Untuk pembayarannya, jadi untuk uang insentif tindakan yang bulan September dibayar Oktober. Akan tetapi terjadi keterlambatan, hingga untuk September sekarang dibayar awal November,”  terangnya.

Pihak manajemen beralasan disamaratakannya uang insentif tersebut untuk kebersamaan bagi seluruh perawat. Namun ternyata pada kenyataannya memicu konflik karena sebagian perawat merasa hak nya diambil.

“Masa mau disamakan perawat yang melakukan tindakannya banyak dan sedikit, yang sudah lama dan yang baru. Kebersamaan sih kebersamaan, tapi tidak seperti ini juga. Adil itu bukan berarti sama rata, tapi sesuai dengan hak yang dikerjakan, ini keringat kami,” terangnya.

Pada hari Selasa (8/11) kemarin, dilakukan rapat dan musyawarah dengan pihak terkait. Namun tetap tidak menemui titik temu dan pihak RS tetap pada kebijakan dengan menyamaratakan uang insentif.

“Kemarin diadakan rapat, tapi masih tetap saja tidak ada titik temu. Jalan terakhir kalau aspirasi kami tidak didengar kami akan demo,” jelasnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Kepala Bidang Keperawatan, Engkur mengatakan, tidak ada kebijakan baru untuk bidang keperawatan. Hanya saja sebelumnya tindakan perawat tidak ditarif, akan tetapi sekarang ditarif dengan mengacu kepada perbup.

“Maksudnya kebijakan baru seperti apa? Tidak ada kebijakan baru di bidang keperawatan. Hanya saja yang sebelumnya tidak ditarif, sekarang ditarif, sudah begitu saja,” ujar Engkur. (her)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed