oleh

SMK Korpri Bangun Masjid Berkapasitas 1000 Jamaah

Tak hanya sebagai lembaga pendidikan formal yang menuntut anak didiknya cerdas dan pintar, SMK Korpri Sumedang siap mencetak pribadi yang unggul dan agamis. Upaya itu dibuktikan dengan pembangunan masjid Babul Jannah di lingkungan sekolah yang berkapasitas 1000 jamaah. Berikut liputannya.

ASEP NURDIN, Kota

BUKAN hanya dididik untuk menjadi tenaga menengah yang terampil, namun siswa-siswi SMK Korpri Sumedang harus memiliki keimanan yang tangguh sebagai bekal hidup di masyarakat.

Hal itu yang mendasari pihak sekolah untuk melakukan pelebaran Masjid Babul Jannah. Masjid yang berada di lingkungan SMK Korpri itu rencananya akan berkapasitas 1000 jemaah.

“Pembangunan Masjid Babul Jannah, merupakan lanjutan pembangunan masjid yang sudah ada. Mengingat kapasitasnya yang sudah tidak memadai, dengan berbekal niat yang ikhlas, alhamdulillah, pembangunan masjid sudah berjalan,” kata Kepala SMK Korpri, Drs H Nurul Falah melalui Pembantu Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Dendi Susilo kepada Sumeks, Senin (14/11).

Dikatakannya, perluasan bangunan Masjid Babul Jannah, merupakan bagian dari program sekolah dalam mencetak pribadi yang agamis (ksusus bagi siswa muslim).

“Selain sebagai sarana ibadah, sewaktu-waktu masjid juga akan dipakai siswa untuk belajar. Sengaja kita bangun masjid dengan konsep terbuka (tanpa pintu dan jendela) agar siswa betah saat berada di dalam masjid, sambil belajar, sambil I’tikaf,” katanya.

Dendi berpendapat, meskipun sejumlah mata pelajaran di SMK tidak seperti di sekolah-sekolah keagamaan, namun ia meyakini jika semua ilmu bersumber dari Al Qur’an.

“Kami tidak memandang bahwa pelajaran agama itu hanya PAI, tetapi pelajaran Matekatika, Komputer, dan lainya pun termasuk pelajaran Agama. Karena kami menganggap bahwa pelajaran agama itu memiliki makna yang sangat luas. Ketika ilmu itu didasari oleh agama, maka Insya Alloh ilmu itu akan bermanfaat,” katanya.

Ia mencontohkan, pelajaran kewirausahaan jika didampingi dengan agama yang kuat maka akan menghasilkan pengusaha-pengusaha yang jujur.

“Begitupun jika pendidikan komputer didasari dengan agama maka mereka akan menggunakan soft ware yang legal, karena agama melarangnya memanfaatkan sesuatu barang yang sifatnya ilegal,” kata Dendi.

Ia menambahkan, pelebaran Masjid Babul Jannah, atas inisiatif kepala sekolah yang melihat kapasitas masjid sudah tidak dapat lagi menampung para jemaah terutama pada saat sembahyang sholat jum’ at.
“Karena selain digunakan siswa, masjid tersebut dimanfaatkan warga sekitar untuk melaksanakan sembahyang jum’ at,” katanya.

Untuk biaya pelebaran masjid, lanjut Dendi, berasal dari infak dan sodaqoh para guru dan siswa serta dukungan dari alumni.

“Para alumni yang sudah sukses banyak membantu kami baik berupa uang atupun material bahan bangunan,” katanya.

Ia mengaku, dengan bermodalkan uang sebesar Rp10 juta, proyek pelebaran masjid tersebut sudah menghabiskan biaya hingga Rp146 juta.

“Alhamdulillah, karena dengan niatan yang tulus, pelebaran Masjid pun dapat terlaksana, meskipun belum mencapai tahap finishing. Kami yakin, kalau kita menolong agamanya Alloh, niscaya Alloh juga akan menolong kita” kata Dendi menirukan perkataan kepala sekolah, Drs H Nurul Falah.

Ia menambahkan, pihaknya tidak akan menutup mata jika ada pihak lain yang ikut membantu pelebaran Masjid Babul Jannah.

“Jika ada yang peduli, tentu kami akan amanah dalam menerapkan titipan tersebut,” katanya. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed