oleh

Omzet Penjualan Burung Menurun

CIMANGGUNG – Sejumlah pedagang burung kicau atau peliharaan mengaku mengeluh terkait menurunnya omzet penjualan mereka karena kalah saing dengan sistem penjualan online. Seperti pedagang burung yang biasa mangkal di Jalan Raya Bandung-Garut tepatnya di depan Gitet milik PLN yang berlokasi di Desa Sindangpakuon, Kecamatan Cimanggung, bernama Sajito (46).

Menurut Sajito, pedagang di pasar burung maupun dipinggiran jalan peminatnya mulai menurun. Padahal beberapa tahun kebelakang burung kicau menjadi primadona bagi para pedagangnya karena banyak diminati pencintanya.

“Sepinya minat pembeli burung kicauan dikarenakan maraknya penjualan burung via online. Ini yang sangat berdampak kepada penjual seperti saya ini,” keluh Sajito kepada Jateks, kemarin.

Dia mengaku, sudah hampir sebulan ini, penjualan burung sepi. Padahal jika dibandingkan tahunsebelumnya justru lebih ramai. Diakuinya sejak 20 tahun silam dirinya berjualan burung kicau hingga sekarang.

“Namun baru tahun sekarang penjualan sepi. Padahal burung yang dijual ini sebagian didatangkan dari daerah Jogjakarta dari pengepul. Burung yang dijual harganya masih sangat terjangkau karena harganya mulai Rp 25 ribu hingga Rp 1 juta,” tuturnya. 

Meskipun begitu harga tersebut tergantung jenis burungnya. Namun, pihaknya saat ini hanya mampu menjual burung 3 hingga 5 ekor per harinya. 

“Padahal biasanya saya bisa menjual burung itu lebih dari 10 ekor per harinya. Sekarang turun dratis. Malah pernah waktu itu sehari aja burung enggak ada yang laku,” ujarnya.

Dikatakanya, para pembeli biasanya memburu beberapa jenis burung kicau yang harganya relatif murah dan sudah gacor. Seperti, Burung Cangkurileng. Namun, karena adanya lapak online, kini burung yang murah pun tak pernah dilirik pembeli. (kos)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed