oleh

Pengembang Besar Incar Perum Kelas Menengah

PENGEMBANG besar mulai mengarahkan bidikan ke perumahan kelas menengah. Setidaknya hal itu yang terlihat dalam sejumlah pameran properti tahun ini.

Para pengembang ternama menawarkan rumah dengan harga kurang dari Rp 1 miliar.

Iwan Wijaya, event sales manager Hardaya Widya Graha, menyatakan bahwa kecenderungan pengembang besar membidik segmen menengah terlihat mulai tahun ini.

Dalam kegiatan Surabaya Properti Expo pada 11–20 November, ada 80 pengembang dengan 130 proyek yang berpartisipasi.

’’Menurut perhitungan kami, sekitar 40 persen pengembang yang mengikuti pameran menawarkan produk untuk segmen menengah,’’ ujar pengelola Grand City Mall and Convex tersebut.

Iwan menjelaskan, pada pameran properti tahun lalu, animo pengembang besar untuk menggarap segmen kelas menengah masih terbatas.

Namun, segmen menengah kini lebih menarik karena ditopang end user yang nembutuhkan properti. ”Khususnya untuk hunian,’’ ucapnya.

Meski perekonomian masih belum stabil, sebagian end user merasa kebutuhan hunian tetap mendesak.

Dengan demikian, permintaannya masih tinggi. Apalagi, kondisi perekonomian belum stabil sehingga pengembang tidak lagi mengandalkan penjualan properti premium.

’’Bagi pengembang, sekaligus untuk perluasan pasar,’’ tuturnya.

Para investor, kata Iwan, juga masih mengincar properti sebagai alat investasi. Apalagi, sektor properti juga menjadi incaran dana repatriasi program tax amnesty.

’’Jadi, tax amnesty juga berkontribusi terhadap pertumbuhan sektor properti pada akhir tahun,’’ jelasnya.

Sementara itu, dari total 130 proyek yang ditawarkan, sebanyak 40 persen merupakan proyek landed house.
Sisanya dibagi proyek high rise dan pergudangan masing-masing sebesar 30 persen.

Hampir 70 persen proyek yang dipamerkan berasal dari Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo.

Sisanya tersebar di Jatim, Jakarta, Jogjakarta, Singapura, dan Australia.

Iwan optimistis ada pertumbuhan transaksi ketimbang kegiatan pameran sebelumnya.

Pada pameran serupa pada Juni lalu, dibukukan transaksi dari tanda jadi sebesar Rp 170 miliar, kemudian pada Januari sebesar Rp 200 miliar.

“Pameran ini tidak hanya menyasar masyarakat Surabaya dan sekitarnya, tapi juga Indonesia bagian timur. Sebab, banyak yang menyekolahkan anaknya di Surabaya,’’ ungkapnya. (res/fri/jpnn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed