oleh

Balad Sambalado Ingin Sumedang Maju

KOTA – Komunitas Saya Mah Balad Widodo (Sambaldo), dengan tegas menyesalkan pemeriksaan terhadap dua wartawan beberapa waktu lalu, oleh Propam Polda Jawa Barat di Mapolres Sumedang. Dimana pemeriksaan itu dilakukan atas dugaan keterlibatan politik praktis yang dilakukan komisaris Setya Widodo.

Seperti disampaikan Koordinator Sambalado, M Rizkiandi dalam jumpa persnya di Selaz Cafe, Senin (23/1). Menurut Diki sapaan akrab M Rizkiandi, langkah pemeriksaan tersebut merupakan kekeliruan yang tidak mendasar. Pasalnya, kedua wartawan tersebut tidak ada kaitannya dengan kegiatan dukung-mendukung.

“Kalaupun mereka ada bersama kami, hanya sebatas melakukan peliputan saja,” kata Diki.
Sambalado, kata Diki, hanyalah merupakan perkumpulan masyarakat kecil yang memiliki keinginan untuk adanya suatu perubahan di Kabupaten Sumedang.

“Karena kami menilai, dari tahun ketahun tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik. Kita lihat saja, infrastruktur yang terkesan apa adanya, atau ada apa-apanya,” terang Diki.

Kondisi saat ini, menurutnya, diperarah dengan penempatan SDM yang tidak proforsional. Sehingga mengakibatkan tidak ada profesionalisme dalam berbagai pembangunan. Melihat realita seperti itulah, komunitas yang didominasi anak muda ini, menawarkan visi dan misi kepada beberapa pihak di Sumedang, yang diangap kompeten dan dapat menjadi figur.

“Alhamdulillah, dayung bersambut. Setelah melalui perjuangan panjang, pada akhirnya kami mendapat respon
positif dari beliau (Kompol Widodo, red) yang kebetulan memiliki tekad dan keinginan yang kuat sama dengan kami,” paparnya.

Hingga pada akhirnya, komunitas yang digawangi M Rizkiandi diberi nama Sambalado. “Saya rasa, sosok yang tegas, disiplin, dan berpihak kepada masyarakat kecil, ada pada diri beliau,” ujarnya.

Ia beralasan, kenapa harus Sambalado? karena didasari atas dasar amanat UUD 45. “Kami sebagi warga negara Indonesia berhak untuk berdemokrasi, sehingga kami memiliki keyakinan jika Sumedang dipimpin seseorang yang figurnya seperti beliau, pasti harapan Sumedang menjadi maju dan lebih baik akan terlaksana,” tandasnya.

Menyikapi adanya tudingan Kompol Setya Widodo yang terlibat ke dalam poitik praktis, kata Diki, pihaknya menyatakan sikap. Menurutnya, Sumedang ingin dipimpin figur Setya Widodo.

“Kegiatan kami selama ini terkait Sambalado, bukanlah kegiatan politik praktis,” tegas Diki.

Meski begitu, pihaknya berjanji akan, terus berjuang agar Sumedang berubah kearah yang lebih baik. “Kami akan terus melakukan kegiatan positif untuk masyarakat Kabupaten Sumedang, dan akan terus menyosialisasikan keberadaan Sambalado,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Sumedang (Forkowas) Azis Opah Abdullah, menegaskan bahwa wartawan di Sumedang, bukan mempersoalkan dugaan politik praktis.

“Yang kami sesalkan, cara yang dilakukan kapolres dalam prosesnya,” ujarnya.
Sumedang, kata Azis, dikenal memiliki warga yang santun. Maka ia pun, sebagai warga asli Sumedang berharap memiliki kapolres yang santun termasuk dalam persolan yang melibatkan kedua wartawan tersebut.

“Tak bernada tinggi seperti pada saat menyuruh wartawan masuk ruangan untuk dimintai keterangan,” sebutnya.

Sebelumnya Kapolres Sumedang, AKBP Agus Iman Rifai mengatakan, pemanggilan terhadap kedua wartawan tersebut untuk konfirmasi atas dugaan politik praktis yang dilakukan Kompol Setya Widodo. “Bukan BAP, itu hanya konfirmasi saja terkait dugaan politik praktis yang dilakukan Kompol Setya Widodo,” ujarnya. (nur)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed