oleh

Belum Rampung, Jaling Ablas Lagi

DARMARAJA – Baru selesai beberapa minggu, Jalan Lingkar (Jaling) kembali amblas. Sehingga, pengerjaan Jalan Lingkar di Blok Legok Huni, perbatasan Desa Neglasari, Kecamatan Darmaraja, dan Desa Cisurat, Kecamatan Wado, tak kunjung selesai.

Padahal belum lama ini, jalan tersebut sudah dapat diselesaikan oleh pihak terkait.
Namun selang beberapa hari setelah selesai dihotmik, tiba-tiba jalan tersebut napak ada pergerakan tanah lagi.

Seiring berjalannya waktu, tanah di jalan tersebut terus bergerak sampai kedalaman 10 centimeter, dan terus bergerak lagi sampai 30 centimeter. Saat ini pun, diperkirakan amblasnya jalan tersebut sudah sekitar 40 sampai 50 centimeter. Akibatnya, kondisi itu pun menjadikan rawan akan kecelakaan bagi pengguna jalan.

“Iya benar, setiap hari sepertinya tanah tersebut terus bergerak. Buktinya saat saya meninjau kelokasi pada Sabtu (21/1) lalu masih sekitar 30 centimeter, tapi saat ini saya dapat laporan sudah sekitar 50 centimeter,” kata Kepala Desa Neglasari, Undang Saripudin, kemarin (24/1).

Dalam hal ini, pihak desa menilai, bahwa jalan tersebut memang tidak akan pernah kelar. Menurutnya, di blok tersebut kondisi tanahnya sangat labil dan kondisi awal Blok Lebak Huni, merupakan wilayah yang sangat curam serta selalu terjadi pergerakan tanah.

“Penilaian saya, di blok tersebut memang kurang cocok untuk dijadikan jalan. Karena saya tahu dari awal, di tempat itu wilayah yang memang sangat rawan longsor,” ujarnya.

Kades mengatakan, pada awal pembangunan Jalan Lingkar, pihak desa sudah mengingatkan pihak terkait bahwa lokasi tersebut tidak cocok untuk dibuat jalan. Namun mereka tetap pada pendiriannya, bila jalan lingkar akan dibangun di tempat tersebut.

“Awalnya saya sudah ingatkan kepada pihak konsultannya, kalau di blok itu kondisinya rawan longsor. Malah saya menyarankan jalan dialihkan 150 meter sebelum tempat yang sekarang anjlok ke kiri,” ucapnya.

Dikonfirmasi, Humas Pembangunan Jalan Lingkar, Asep Soma, menerangkan, bahwa kejadian tersebut bukan karena kualitas jalan yang jelek. Dimana pihaknya sudah mengikuti aturan yang ada, dan pengerjaannya pun dimaksimalkan. Namun hasilnya sangat diluar dugaan, karena alam berkehendak lain.

“Ini faktor alam, bukan faktor pengerjaannya. Saya yakinkan kalau kami sudah membangun jalan ini dengan aturan yang ada, dan sesuai dengan prosedur yang seharusnya,” katanya.
Ia menilai, jalan tersebut memang harus dijembatankan, karena melihat kondisi seperti itu, tidak menutup kemungkinan hal serupa akan kembali terjadi jika jalan diperbaiki lagi. (eri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed