oleh

Proyek PDAM, Korek Luka Lama Kasus Cipanteuneun (1)

CIMALAKA – Penolakan warga Desa Licin, Kecamatan Cimalaka, terkait rencana pengambilan air oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Blok Legoksawit, menguak luka lama warga setempat. Kekesalan warga pun kembali menguak, mengingat persoalan mata air Cipanteuneun ini, pun hingga kini belum mendapatkan kompensasi dari PDAM.

Sebab itu, anggota DPRD, Zulkipli M Ridwan MM, menilai penolakan warga suatu hal yang wajar. Terlebih, sebut Zulkipli, pada kasus Blok Legoksawit, PDAM tidak melakukan prosedur dan mekanisme yang semestinya dilakukan.

Pernyataan Zulkipli terkait luka lama mata air Cipanteuneun ini, pun dibenarkan Ketua LPM Desa Licin Kecamatan Cimalaka, Dadang Darwin.

Menurut Dadang, sejak PDAM mengambil air dari Cipanteuneun pada 1980an, hingga kini belum jelas kontribusi bagi warga sekitar Cipanteuneun ataupun Pemerintah Desa Licin dan Cimalaka.

Selain itu, MoU terkait kesepakatan PDAM dengan warga dan Pemdes terdahulu (Ajum Sukaryadi, periode 1974-1982), belum diketahui dan menjadi bahan pertanyaan.

Bahkan, kata dia, hingga kini, pengambilan air dari Cipanteuneun sangat merugikan warga. Sebab, hal itu berdampak keringnya sumber air untuk pengairan hektaran sawah dan puluhan kolam milik warga. Malah, kata Dadang, kini PDAM akan kembali mencaplok sumber air bagi warga Desa Licin di Blok Legoksawit.

“Seharusnya, PDAM mempunyai rasa malu. Karena, urusan pengambilan air dari Cipanteuneun saja sampai kini belum terselesaikan dan manjadi hutang dengan pemerintahan desa atau warga. Masih saja mau mengambil sumber air yang kini dikelola oleh warga,” ujar Dadang di kantornya, Kamis (26/1).

Dadang menambahkan warga dua desa, yaitu Desa Licin dan Cimalaka, masih kecewa dengan apa yang telah diperbuat PDAM. “Kekecewaan warga belum terobati. Kini, hal itu akan diulang kembali, tentu saja warga akan menolak keras dengan apa yang dilakukan PDAM,” tambahnya.

Dikatakan Dadang, sebelumnya, beberapa tahun ke belakang karena kekecewaan tersebut warga Desa Licin dan Cimalaka sempat melakukan protes terhadap PDAM dengan merusak pipa-pipa aliran air PDAM. Sebutnya, mereka beralasan pengambilan air dari Cipanteuneun telah mengeringkan sawah-sawah dan kolam mereka. “Tapi kejadian itu kini tidak terulang. Bahkan, sudah tidak ada lagi,” tegasnya.

Diterangkan Dadang, awalnya PDAM akan mengambil air dari resapan/saluran dan akan dibuatkan semacam cekdam. Tetapi, kata dia, pada kenyataannya PDAM mengambil air secara langsung dari mata air (ditodong). Sehingga, aliran air untuk warga menjadi berkurang bahkan kering.

“Warga menginginkan pengambilan air jangan langsung dilakukan ke mata air. Mereka menginginkan pengambilan air dari saluran air yang tersedia dan dibagi dengan warga melewati saluran yang satunya. Karena air langsung diambil dari mata air, akibatnya saluran bagi warga menjadi kecil. Padahal, semula aliran air cukup besar,” terangnya.

Terakhir, Dadang mengatakan pengambilan air di Cipanteuneun menjadi contoh dan pengalaman buruk bagi warga Desa Licin. Terangnya, warga mengharapkan kejadian itu jangan terulang kembali. “Sebaiknya, PDAM jangan memaksakan diri melanjutkan program yang ada. Hal itu untuk menghindari kejadian-kejadian yang lebih buruk lagi,” pungkasnya. (red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed