oleh

Kang Maman Tebar Virus Literasi

KOTA – Antusiasme peserta Workshop Gerakan Literasi Sumedang, patut diacungi jempol. Setidaknya, dari 500 peserta yang teregistrasi di panitia, tidak beranjak dari atrium Plaza Asia Sumedang, hingga acara berakhir.

Kehadiran Kang Maman Suherman, penulis dan NoTulen Indonesia Lawak Klub (ILK), sebagai narasumber menjadi magnet tersendiri, disamping pembicara lainnya, Ketua P2TP2A Kabupaten Sumedang Hj Ani Gestaviani.

Event dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Harian Pagi Sumedang Ekspres (Sumeks) ke-7 ini, pun mendapat apresiasi dari Kang Maman. Dalam akun instagram @matahatimaman, pria berkepala plontos ini pun meng-upload foto peserta dengan caption “Wowwwwww…… Bahagia melihat lautan pelajar Sumedang yg hadir di acara Gerakan Literasi Sumedang”.

Kang Maman menilai, Gerakan Literasi merupakan kebutuhan umat manusia di muka bumi. Karena dengannya, segala bentuk ilmu pengetahuan akan dapat digali. Dalam beragama pun, jika tidak dibarengi dengan ilmunya maka diibaratkan orang berjalan tanpa pandangan mata.

“Jika masyarakat Indonesia literatifnya rendah tidak mau belajar, tidak menjadikan buku dan membaca sebagai kebutuhan, kita semakin akan tertinggal dan angkatan produktif kita akan kalah saing oleh tenaga kerja bangsa lain yang lebih literatif,” katanya.

Sebenarnya, kata dia, untuk mencetak masyarakat yang berkualitas tidak perlu mempermasalahkan pasar bebas yang belakangan gencar diberitakan.

“Kalau kita mau bersaing, pasti bisa. Asakan mau belajar, asalkan mau membaca. Dengan cara seperti itu tingkat literatif bangsa ini akan jauh lebih maju,” paparnya.

Kang Manan berpendapat, untuk ikut bersaing dengan bangsa manapun kuncinya hanya satu, yakni berani membudayakan membaca.

“Mau bangsa manapun, jika literatifnya rendah ya pasti kalah oleh bangsa yang memiliki minat baca tinggi,” tuturnya.

Disebutkan, minat baca warga negara Indonesia, sangat menyadihkan. Menurut data UNESCO tahun 2012, berada pada angka 0,001 persen. “Artinya, dari 1.000 orang yang berkumpul, hanya ada satu orang yang memiliki minat membaca. Kalau 250 juta, berarti hanya 250 ribu orang saja,” jelasnya.

Sementara itu, kata Kang Maman, penyalahgunaan narkoba sudah mencapai 5,9 juta orang. Menurutnya, angkatan produktif sudah terjerumus kedalam dunia narkoba, tidak litetatif, sehingga bagaimana mau bersaing.

“Kalau keadaannya seperti ini, kita akan menjadi penonton di negrei sendiri,” ujarnya.

Untuk Gerakan Literasi ini, gaungnya baru terdengar sejak lima tahun terakhir setelah mengetahui data yang menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia yang sangat rendah. “Akhirnya pemetintah mendorong dengan berbagai macam program, seperti Gerakan Indonesia membaca, Gerakqn Literasi Sekolah dan 30 menit membaca sebelum jam pelajaran,” katanya.

Tetapi menurutnya, sebenarnya gerakan perpustakaan berjalan memiliki pengaruh yang cukup besar. Meskipun namanya gerakan, terkadang mengalami pasang surut. (nur)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed