oleh

Penyakit Pembuluh Darah Ranking I di Kabupaten Sumedang

**Gaya Hidup yang Serba Instan Berpengaruh Besar

Tak disangka, penyakit Pembuluh Darah menjadi ranking satu di Kabupaten Sumedang. Setiap tahunnya, jumlahnya pun meningkat. Hal ini, dipengaruhi juga dengan gaya hidup yang serba instan. Berikut ulasannya.

ASEP HEDIANA, Kota

KEPADA siapapun, yang namanya penyakit dapat menyerang kapan saja. Bahkan bisa juga merenggut jiwa karena penyakit yang diderita sudah parah. Itu pun dengan macam-macam penyakit yang diderita setiap orangnya.

Berbicara masalah penyakit, di dari jumlah penduduk Sumedang sekitar 1,2 juta jiwa, sekira 80 ribu warganya ternyata menderita penyakit pembuluh darah. Diantaranya jantung, hipertensi dan stroke. Dan penyakit ini, setiap tahunnya kecenderungannya terus meningkat.

Salah satu penyebab dari munculnya penyakit tersebut, menurut Ketua IDI Cabang Sumedang dr. H. Hilman Taufik Ws.MKes, penyumbangnya adalah gaya hidup (life style).

“Penyakit pembuluh darah di Sumedang sekarang ranking I kalau dilihat dari jumlah penduduk ada sekitar 6,9 persen atau sekira 80 ribu warga yang menderita dan harus dikekola dengan baik. Karena kalau tidak dikelola dengan baik akan mengalami kecacatan atau kematian. Jumlah penduduk 1,2 juta kali 6,9 persen ya sekitar 80 ribuan yang harus ditangani,” jelas Hilman yang membuka Simposium dan Workshop Manajemen Hipertensi Terkini dan Penyakit Kardioserebrovaskuler di Gedung Rawat Jalan RSUD, Sabtu, (18/3).

Menurut Hilman, dari gaya hidup yang menuntut kesibukkan seseorang membuat gaya hidup atau pola hidup pun jadi serba instan. Dimana makanan instans belum tentu sudah teruji sehat atau tidaknya bagi tubuh.

Dan penanganan bagi warga yang menderita golongan penyakit pembuluh darah ini, dilakukan secara konsfrehensif dan rujukan yang sesuai kompetensi, berbagi mana yang harus atau masih bisa ditangani di puskesmas, dokter praktek atau rumah sakit.

“Kalau semuanya harus ditangani oleh rumah sakit jelas tidak akan terangani,” jelasnya.
Disebutkan, pihaknya sebagai pengurus IDI, punya kewajiban untuk melaksanakan program Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan ( P2KB ) yang dilakukan setiap tiga bulan sekali. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme dokter, sesuai dengan yang sudah menjadi standar di institusi pelayanan. Baik di puskesmas, klinik, praktek sendiri atau rumah sakit.

“Setiap lima tahun sekali dokter wajib untuk daftar registrasi atau Surat Tanda Registrasi (STR). Dan sarat STR harus mengumpulkan Satuan Kridit Profesi (SKP). Jika SKP-nya tidak terpenuhi maka tidak dapat STR dan kalau tidak dapat STR maka tidak dapat Surat Ijin Praktek (SIP). Kalau tidak ada SIP maka dokter tak bisa praktek,” jelas Hilman.

Selama lima tahun minimal harus punya 25 SKP, jadi setiap tahunnya dokter harus mengikuti seminar atau simposium antara 12-14 kali. Dan tema yang diusung bisa berbdeai beda, tergantung kasus yang sedang banyak terjadi atau kasunya lagi naik. Seperti di Sumedang kasus penyakit pembuluh darah itu ranking satu, maka dijadikan tema untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme.

“Dengan kegiatan ini pun diharapkan masyarakat Sumedang percaya bahwa semua dokter yang di Sumedang selain punya kualitas juga mempunyai STR dan SIP,” pungkas Hilman.

Disamping itu, Ketua Panitia Simposium, dr. Hj. Darmiana MM, diikuti oleh anggota IDI yang ada di Sumedang, menyebutkan yang hadir dalam acara tersebut sekitar 120 dari jumlah anggota IDI 216 orang.

“Ini kegiatan dari kita untuk kita, untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme dokter yang tergabung di IDI Sumedang,” kata Darmiana. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed