oleh

Ratusan Santri dari Berbagai Pesantren di Sumedang Mengikuti Musabaqoh Kitab Kuning

**Tunjukan Eksistensi dan Lestarikan Ilmu-ilmu Agama

Selain menunjukkan eksistensi para santri di kalangan masyarakat umum, sejumlah kegiatan terus dilakukan. Apalagi ini, untuk melestarikan salahsatu keunggulan agama yang tertuang dalam sebuah kitab kuning. Seperti dilaksanakannya Musabaqoh Kitab Kuning yang diselenggarakan Dewan Koordinasi Cabang (DKC) Garda Bangsa Kabupaten Sumedang. Berikut catatannya.


MENJARING bakat-bakat yang piawai dalam suatu bidang, perlu dilakukan. Selain untuk menguji hasil pelajaran dalam suatu bidang, penjaringan yang dilakukan dengan cara seleksi juga untuk merangkul bakat lainnya agar mampu terangsang.

Apalagi nantinya, dari banyaknya talenta yang ada dari sebuah perlombaan, akan mampu menjadi sebagai generasi penerus. Dan sudah jelas, para penerus itu sebagai pengganti untuk menersukan suatu bidang dalam kemajuan hingga terus berjalan.

Salah satunya terlihat dari kegiatan Musabaqoh Kitab Kuning. Lebih dari 100 santriwan dan santriwati se-Kabupaten Sumedang, mengikuti pelaksanaan Musabaqoh Kitab Kuning yang diselenggarakan Dewan Koordinasi Cabang (DKC) Garda Bangsa Kabupaten Sumedang, bertempat di Kantor PCNU Kabupaten Sumedang, Jalan Kutamaya Nomor 50, Minggu (26/3).

Disebutkan panitia penyelenggara acara, Rifqi Taufiqurrahman, kegiatan ini merupakan program nasional yang digagas Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang dikalsanakan Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa.

“Secara teknis, pelaksanaan kegiatan terdiri dari tiga tahapan. Babak penyisihan, yang saat ini (kemarin) digelar oleh Dewan Koordinasi Cabang (DKC) Kabupaten Sumedang. Selanjutnya babak semi final di tingkat provinsi dan babak final di tingkat pusat,” kata Rifqi saat ditemui Sumeks, kemarin.

Menurutnya, ada dua kategori yang dilombakan. Pertama, kategori ula yang meliputi Kitab Fathul Qorib untuk Qiroatnya dan Imrithi untuk nadomnya. ”

“Untuk yang keduanya kategori ulya. Ini semua meliputi kitab Ihya Ullumuddin untuk Qiroatnya dan Alfiyah Ibnu Malik untuk Nadomnya,” terang Rifqi.

Sementara itu Ketua PKB Kabupaten Sumedang, Didi Suhrowardi, begitu mengapreaiasi kegiatan yang digelar sayap partainya tersebut. Menurutnya, untuk yang pertama kalinya Musabaqoh Kitab Kuning digelar di Sumedang, banyak peserta yang antusias dalam kegiatan tersebut.

“Musabaqoh ini tidak semata-mata mencari juara. Yang terpenting, bagai manacaranya kitab kuning ini lestari dan dikenal di tengah masyarakat luas,” harapnya.

Artinya, melalui kegiatan Musabaqoh Kitab Kuning, khalayak menjadi tahu tentang berbagai ilmu yang digali para santri di pondok pesantren.

“Karena di dalam Kitab Kuning ituluah, terdapat berbagai macam ilmu agama,” tuturnya.
Selain itu, dengan diselenggarakannya Musabaqoh Kitab Kuning, menunjukan eksistensi santri kepada mastarakat. Bahwa dari keberadaan santri, memiliki peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita adalah Islam moderat yang senantiasa berjalan pada relnya sebagai warga negara yang baik, dan menjaga keutuhan NKRI,” tuturnya.

Hal tersebut, sependapat dengan Ketua PCNU Kabupaten Sumedang, KH Sa’dulloh. Dia menyebutkan, Kitab
Kuning sebagai gudangnya ilmu agama harus terus dipelihara dan dilestarikan.

“Maka para santrilah sebagai pejuang agama dan penerus bangsa yang berjasa dalam melestarikan Kitab Kuning,” harapnya.

Menurutnya, satu-satunya lembaga pendidikan yang tidak dapat dimasuki ideologi yang lain, adalah pondok pesantren. Berbeda dengan sekolah umum, yang begitu mudah dimasuki ideologi lain.

“Tentu pesantren punya keistimeaan. Yaitu tidak mudah dimasuki ideologi yang lain.” tukasnya. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed