oleh

Kiprah Ipul Saefulloh Bergelut di Dunia Literasi

**Habiskan Waktu Luangnya Agar Masyarakat Gemar Membaca

Banyak orang tidak peduli dengan gerakan hidup membaca. Alasannya beragam, mulai tidak adanya fasilitas membaca hingga kesadaran masyarakat untuk membaca yang semakin kurang. Namun, semua itu tidak menjadi kendala bagi Ipul SaIpul loh untuk membangkitkan minat baca. Berikut ceritanya.
ASEP NURDIN, Kota

MIMPI besar Ipul Saefulloh (25) untuk memiliki perpustakaan mulai menemui titik cerah. Perjuangan pun ditempuh dengan berbagai kendala. Sebuah ruangan kecil yang bersebelahan dengan bagian dapur rumah kontrakannya menjadi perpustakaan mini pertamanya.

Ya, di Babakan Perikanan, RT 03 RW 07, Kelurahan Talun, Kecamatan Sumedang Utara, kontrakan sederhana Ipul berdiri. Tidaklah sulit untuk menemukan rumah yang Ipul kontrak bersama ibu dan keempat adiknya, meskipun kami sempat tersesat.

Sebuah rumah sederhana namun tertata rapih dengan tulisan ‘Taman Bacaan Ceria’ pada salah satu bagian list plang. Menunjukan jika rumah tersebut memiliki ruang baca atau dengan kata lain perpustakaan.

Meski hidup dalam kesederhanaan, namun ia mampu meluangkan pikiran dan waktunya untuk kepentingan umum. Tak tanggung-tanggung, sebuah cita-cita yang sangat mulia terbenak dihatinya agar anak-anak gemar membaca. Meski dirasakannya itu sesuatu yang mustahil, ditengah era perkembangan teknologi seperti ini. Sebab, anak-anak zaman sekarang lebih condong ke permainan online dan gadget.

Namun bagi Ipul, itu sebuah tantangan. Tampak sejumlah ibu-ibu tengah mengajak bermain anak-anaknya di teras rumah. Keakraban itu terjadi karena keluarga Ipul terutama sang ibu adalah sosok yang disenangi tetangga. Terlebih dengan keberadaan taman bacaan ceria, membuat mereka betah tinggal lama-lama di rumah yang berada di belakang kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang itu.

“Buku-buku itu sudah mau setahun bertengger dalam rak,” kata Ipul sambil menunjuk sebuah rak buku tiga tingkat yang terbuat dari papan Albasiah.

Ruangan perpustakaan milik panti ‘Taman Baca Ceria’ itu berukuran kurang lebih 1,5 x 3 Meter. Meskipun tanpa plafon dan hanya beralaskan karpet, namun terasa nyaman saat berada didalamnya.

“Awalnya hanya sekitar 40 jenis buku yang saya punya. Waktu itu tepat tanggal 1 Mei, saya resmikan ruangan ini dijadikan ‘Taman Baca Ceria’,” kenang Ipul .

Niat Ipul menjadikan bagian dari rumah kontrakannya untuk dijadikan taman baca, berawal dari kegemaraannya membaca buku sejak ia masih duduk di bangku SD. Kebiasaannya itu ia tularkan kepada adik-adiknya, bahkan kepada orang lain sekali pun.

Bukan hanya sampai disitu, dengan menggunakan sepeda, ia jajakan buku-buku tersebut kesejumlah tempat dimana terdapat kerumunan anak-anak. Seperti salah satunya area Car Free Day.

“Melihat anak-anak mau membaca, saya sudah senang,” terang Ipul.
Meskipun hanya berjualan cemilan dan membantu temannya berjualan barang via online, namun Ipul tidak memungut iuran sepeser pun dari para pembaca di taman bacaannya, semua itu ia jalani dengan penuh rasa ikhlas.

Kendati tidak mendapat sentuhan dari pemerintah setempat, namun apresiasi datang dari kang Maman Suherman, sang notulen dan penulis ILK Trans 7.

Belaiau menyumbangkan ratusan judul buku untuk melengkapi perpustakaan milik Ipul .
“Saya bercita-cita ingin memiliki perpustakaan yang lengkap dengan ruangan yang representatif,” kata Ipul .

Nantinya, sambung dia, ada beberapa program perpustakaan yang akan dijalankan, antara lain, bedah buku, kelas mewarnai, dongeng dan skrining film.
“Mudah-mudahan mimpi besar ini menjadi kenyataan,” pungkasnya. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed