oleh

Kang Maman, Kembali Tebar Virus Literasi di Kabupaten Sumedang

Literasi

Kang Maman kembali menularkan virus literasi kepada warga Sumedang. Kali ini, tidak sendiri tapi didampingi para pejabat terkait, mulai tingkat pusat hingga kabupaten. Sebagai narasumber terakhir dari empat pembicara lainnya, dengan gayanya yang khas, Kang Maman pun membuat para peserta tidak beranjak hingga akhir acara. Berikut catatannya.

Handri S Budiman, Kota

Najat Belkacem, nama seorang perempuan yang pertama kali disebut Kang Maman, saat mengisi acara Gerakan Safari Gemar Membaca Perpustakaan Nasional (Perpusnas), di Gedung KGS, Jalan Kartini, Sumedang. Siapa dia? Mengapa namanya disinggung di acara Gerakan Literasi? Saya pikir, ini angel cerdik dari seorang Kang Maman, saat melihat sesuatu/peristiwa yang ada di hadapannya.

Ya, sebelum acara talkshow Safari Gemar Membaca berlangsung, Perpusnas secara simbolis menyerahkan mobil perpustakaan keliling kepada Pemkab Sumedang melalui Anggota DPR RI Komisi X Donny Ahmad Munir. Lantas apa hubungannya simbolis mobil perpustakaan keliling dengan perempuan yang di masa kecilnya menjadi pengembala kambing tersebut?

Hidup di sebuah pedalaman di Negeri Maroko, kehidupan layak sepertinya hanya sebuah angan bagi Najat kecil. Jangankan menikmati kebahagian untuk dirinya, melihat kebahagiaan tetangganya pun sepertinya sulit. Terlebih, di wilayah pedalaman yang sangat jarang terlihat benda mewah, sebut saja mobil.

Dalam sebulan, mungkin satu mobil yang dia lihat, itupun mobil perpustakaan keliling. Yang isinya hanya tumpukan buku. Tapi, disinilah pola pikir Najat mulai terbuka. Jendela dunia sepertinya baru saja ia buka. Peristiwa di belahan dunia pun akhirnya bisa ia lihat.

Ya, melalui buku yang dibawa mobil perpustakaan keliling itu, akhirnya ia mengetahui bahwa dunia itu tidak seluas desa yang selama itu yang tinggali bersama sanak saudaranya. Beragam ilmu dia lahap dari buku-buku yang penuh inspirasi itu. Dan, pada akhirnya Ia pun dinobatkan sebagai Menteri Pendidikan Prancis termuda, setelah sebelumnya, kedua orangtuanya mengajak hijrah ke negeri yang terkenal dengan menara eiffel-nya itu.

Lantas kini, Apakah mobil perpustakaan keliling yang baru saja dimiliki Perpusda Sumedang, itu bisa melahirkan sosok anak-anak pedalaman yang kelak menjadi pemimpin di negeri ini? Kita lihat seberapa kuat bahan bakar minyak (BBM/bensin), mengantarkan mobil perpustakaan ini menjelajahi wilayah-wilayah terpencil d Kabupaten Sumedang. Atau, bahkan kita akan melihat seberapa sabarnya para pustakawan di Perpusda, menjelajahi kampung demi kampung, untuk mengajak anak-anak yang ada di pelosok, untuk mengenal luasnya dunia ini.

Tapi sepakat dengan ujaran Kang Maman di Forum Literasi tersebut. Bahwa gerakan literasi sudah seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Tidak lagi kita jadi komentator yang mengoceh kesana kemari, sementara dia sendiri belum tentu bisa menjalankan tugas yang dibebankan.

Teringat juga, penulis kepada Ipul Saepulloh (25), pendiri Sepeda Baca dan Panti Baca Ceria ini. Meski tidak menjadi bagian pemerintahan, namun kepeduliannya pada gerakan literasi, patut diacungi jempol. Dengan sepeda yang merupakan alat transportasi satu-satunya yang ia miliki, tak menyurutkan Ipul, untuk terus menebar virus literasi. Ipul terus mengayuh sepeda demi memberikan jendela dunia bagi masyarakat Sumedang, khususnya kepada kalangan anak usia dini.

Dan, apa yang dilakukan Ipul, mendapat apresiasi tinggi dari Kang Maman. Bahwa, tingkatan literasi yang dibawa Ipul, tak hanya sekadar di tataran teknis maupun fungsional, melainkan menuju gerakan literasi budaya.

“Literasi ini ada tiga tingkatan. Pertama, literasi teknis dimana gerakan ini hanya sekadar menghilangkan buta hurup. Kedua, literasi fungsional, yakni membaca menjadi kebutuhan hanya di saat pembaca membutuhkan bahan yang akan menunjang pada profesinya. Dan, ketiga literasi budaya, dimana gerakan membaca dan menulis sudah menjadi kebutuhan sehari-hari,” ujar Kang Maman.

Dan, dimanakan posisi Indoensia dalam tingkatan literasi? Menurut data Unesco pada tahun 2012, minat baca warga Indonesia berada pada angka 0,001 persen. “Artinya, dari 1.000 orang yang berkumpul, hanya ada satu orang yang memiliki minat membaca. Kalau 250 juta, berarti hanya 250 ribu orang saja,” jelasnya.

Sementara itu, Kang Maman menyebutkan, penyalahgunaan narkoba sudah mencapai 5,9 juta orang. Menurutnya, angkatan produktif sudah terjerumus ke dalam dunia narkoba, tidak litetatif, sehingga bagaimana mau bersaing. “Kalau keadaannya seperti ini, kita akan menjadi penonton di negrei sendiri,” ujarnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed