Acil Bimbo Ajak Jaga Lembur

Acil Bimbo Ajak Jaga Lembur

BERIKAN PAPARAN: Budayawan yang juga aktivis lingkungan Acil Bimbo saat menjadi pembicara di Acara Diskusi bersama warga Jatinangor dan Yayasan Pendidikan Al Ma’some.(IMAN NURMAN /SUMEKS )

PEWARTA: IMAN NURMAN/SUMEKS

JATINANGOR – Minimnya penerapan budaya dan perilaku adat sunda oleh masyarakat pada zaman millenial ini, membuat Forum Pimpinan Kecamatan (Forkopimpa) dan Yayasan Pendidikan Al Ma’some, menggelar Focus Group Discusion. Acara tersebut, bertema Jaga Lembur, Jaga Lingkungan dan Lestarikan Alam di Hotel Jatinangor Desa Cibeusi, Sabtu (9/3). Tak tanggung-tanggung, budayawan sekaligus aktivis dan penyanyi Acil Bimbo, diundang untuk menjadi pembicara dalam agenda itu.

Budayawan Acil Bimbo mengatakan, jaga lembur, jaga lingkungan dan lestarikan alam, memang tiga hal yang harus ditanam dalam diri jiwa seseorang. Apalagi, berkaitan dengan pemilu serentak 17 April 2019, jaga lembur sangat diperlukan untuk menjaga pemilu damai dan kondusif.

“Jaga lembur dan jaga lingkungan adalah perilaku positif yang harus dimiliki tiap masyarakat ditengah perkembangan zaman dan budaya barat yang masuk ke Indonesia tanpa filter. Makanya kita wajib menyelenggarakan diskusi diskusi seperti ini agar tertanam di masyarakat,” kata Acil Bimbo kepada wartawan.

Menurut Acil, slogan jaga lembur ini datang dari wartawan senior dan budayawan, yakni Taufik Rohman. Dia mengatakan, “akur jeng dulur pancen dina dayeuh”. Artinya, kata dia, tingkatkan silaturahmi dan tetap mempertahankan tradisi dan adat budaya ketimuran.

“Marilah kita kedepan membangun budaya baru untuk perubahan-perubahan. Perubahan itu bukan perbedaan tetapi ke hal positif. Saat ini jamannya perubahan tetapi jangan perubahan menuju pasea (perselisihan),” katanya.

Menurutnya, dia kerap memberikan ceramah terkait lingkungan di beberapa kota di Jawa Barat, termasuk ceramah mengenai budaya. Dalam ceramahnya, dia selalu menekankan pertama alam pasea atau alam bencana. Hari ini terlalu banyak bencana alam yang muncul.

“Makanya saya berpendapat dari tiap daerah untuk muncul relawan relawan multi peran dalam hal gerakan sosial budaya. Relawan ini terdiri dari forum intelektual, penggerak masyarakat dan ibu ibu PKK,” sebutnya.

PKK, sangat luar biasa berperan dalam menciptakan gerakan budaya. Sebab, melalui ibu-ibu PKK lah, generasi muda lahir karakternya. “Sekarang sudah masuk budaya milenial. Namun jangan sampai budaya milenial itu merusak tatanan generasi budaya. Di Jatinangor forum intelektualnya harus kuat, karena ada beberapa pendidikan tinggi. Makanya pengembangan gerakan budaya baru harus terus dikembangkan disegala bidang,” ujarnya.

Kecamatan Jatinangor, lanjut Acil harus maju karena diapit oleh beberapa perguruan tinggi termasuk kawasan usaha. Mari kita jadikan Jatinangor sebagai kecamatan intelektual. Ajak kampus kampus untuk menggerakan kembali budaya silaturahmi dan diskusi.

Sementara itu Camat Jatinangor Syarif Effendi Badar mengatakan saat ini terjadi era perubahan yang sangat signifikan. Perubahan tersebut bukan hanya di Jabar tetapi secara nasional. Namun perubahan tersebut jangan menimbulkan konflik.

“Satu langkah untuk mempersatukan segenap komponen melalui pendekatan budaya. Permasalahan mendasar yang dapat menimbulkan perpecahan. Makanya salah satu upaya mencegahnya adalah membentuk relawan relawan multifungsi,” katanya.

Salah satu langkah yang bisa menangkal budaya luar dan memupuk terhadap lingkungan, lanjut camat, Pemkab Sumedang sudah membentuk visi misi Sumedang Agamis. Bahkan dalam menciptakan generasi muda millenial Pemkab Sumedang telah membentuk gerakan wirausaha muda.

“Kami mulai menekankan ditiap rumah menanam cabai dan tanaman yang bermanfaat. Jadi kalau satu pekarangan rumah menghasilkan satu kilo cabai, ada berapa kilogram kalau satu kecamatan menanam cabai,” tandasnya. (imn)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.