Agar Tidak Pudar, Seni Buhun Perlu Perhatian

CONGGEANG – Seni Jentreng Jambret merupakan seni buhun yang berasal dari Desa Babakan Asem, Kecamatan Conggeang. Dahulu, seni ini dipentaskan apabila ada acara “Guar Bumi”, sebuah acara ketika penduduk Desa Babakan Asem akan memulai musim menanam padi. Selain itu, Jentreng Jambret juga dipentaskan ketika ada “Hajat Uar”, sejenis acara hajat lembur.

Seiring dengan perkembangan, kini, Jentreng Jambret juga ditampilkan pada acara-acara khitanan, pernikahan, kenaikan kelas bagi siswa-siswi SD. Selain itu, pernah juga dipentaskan pada acara Perkemahan Jamran di Kecamatan Conggeang. Dalam seni buhun ini menampilkan empat personil. Terdiri dari dalang, juru kawih, pemegang alat kecapi dan pemegang alat piul.

Seni ini berisi obrolan antara Dalang, pemegang kecapi dan pemegang piul. Obrolan yang ditampilkan berupa pepatah dan guyonan yang disesuaikan dengan alur ceritanya. Terdapat empat tokoh di dalam alur cerita Jentreng Jambret. Diantaranya, Ki Madlain, tokoh yang selalu bercerita kemana saja, tidak jelas arah obrolannya, tetapi pada akhirnya selalu pas dengan keadaan.

Tokoh kedua, Ki Mastanu, orang yang selalu “olo-olo”. Tokoh ketiga, Ki Eweng, tokoh yang digambarkan selalu menghibur dengan banyolannya dan terakhir, Ki Bajul, tokoh yang digambarkan begajulan dan nakal.

Sekertaris Desa Babakan Asem sekaligus tokoh seni Jentreng Jambret, Eman Irmana mengatakan, seni ini berasal dari seni beluk yang dikembangkan dengan tambahan alat musik, kecapi dan piul. Bahkan, dalam acara perkemahan Jamran Kecamatan Conggeang ditambah memakai gendang dan gong.

“Saat itu, pertama kalinya ditampilkan di acara perkemahan di Kecamatan Conggeang,” katanya kepada Sumedang Ekspres, belum lama ini.

Dikatakan Eman, selama ini lingkung seni yang terus berupaya mengembangkan seni Jentreng Jambret Lingkung Seni Wargi Saluyu, Kampung Naringgul, Desa Babakan Asem.

Sebut Eman, pementasan salah satu seni buhun ini sering dilakukan oleh lingkung seni Wargi Saluyu, tetapi baru terbatas di Kecamatan Conggeang. “Belum pernah mentas keluar kecamatan,” tandasnya.

Lingkung seni Wargi Saluyu, lanjutnya, sering melakukan pentas apabila ada permintaan. Lingkung seni ini juga terus melakukan latihan rutin supaya seni ini tetap lestari.
Eman berharap adanya perhatian dari berbagai pihak terkait seni buhun di Sumedang ini. Baik dari sisi pengembangan maupun regenerasi.

“Seni ini harus tetap lestari dan menjadi salahsatu ciri khas Desa Babakan Asem khusunya dan Kecamatan Conggeang umumnya,” pungkasnya. (atp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.