Agro Bisnis Jadi Bidikan Academic Leadershif Grant (ALG) Jatigede

Agro Bisnis  Jadi Bidikan Academic Leadershif Grant (ALG) Jatigede

BERI PEMBINAAN: Prof Opan saat melakukan pembinaan kepada tokoh masyarakat di Desa Mekarasih. (HERI PURNAMA/SUMEKS)

PEWARTA: HERI PURNAMA/SUMEKS

Dongkrak Perekonomian Masyarakat Terdampak

Sebuah kenyataan, bahwa di kalangan warga terdampak Waduk Jatigede, permasalahan ekonomi masih membelit kehidupan mereka. Oleh sebab itu, Ketua Academic Leadershif Grant (ALG) Jatigede dari Pusat Studi Antropologi dan Pemberdayaan Fisip-Drpmi-Unpad Prof. Dr. Opan S. Suwartapraja, M.si, dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi, selain pendidikan melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (PKM).

HERI PURNAMA, Jatigede

AKSES jalan menuju wilayah Desa Mekarasih, Kecamatan Jatigede via wilayah Jatinunggal sangat begitu memprihatinkan. Kiloan meter jalan yang harus ditempuh membutuhkan energi maksimal dan cukup memakan waktu.

Tak banyak hal yang bisa dilakukan warga di Desa Mekarasih, selain berharap pemerintah dapat segera menuntaskan pembangunan Jalan Lingkar Timur untuk akses yang sempurna.

Setibanya tim dari Sumeks di satu desa yang merupakan desa penyangga warga terdampak Waduk Jatigede dari dua desa, yaitu eks Desa Leuwihideung dan eks Desa Sukakersa.

Masih belum nampak banyak perubahan di wilayah pemukiman relokasi warga terdampak, terutama dari segi ekonominya.

Hanya saja saat ini, hadir sosok yang peduli terhadap kehidupan masyarakat terdampak yang ada di wilayah Desa Mekarasih. Beliau merupakan Ketua Tim ALG Jatigede sekaligus Kepala Departemen Antropologi FISIP Universitas Padjajaran (Unpad). Beliau adalah Prof. Dr. Opan S.Suwartapraja,M.si, yang sebetulnya juga asal Desa Leuwihideung sebagai Orang Terkena Dampak (OTD).

Setelah pihaknya melakukan pemetaan sosial melalui sensus atau penelitian terhadap kondisi masyarakat yang merupakan korban terdampak pembangunan Waduk Jatigede, pasca perpindahan penduduknya, persoalan utama yang harus dibongkar adalah masalah perekonomian masyatakatnya.

Dikatakannya, awal Tahun 2017, pihaknya bersama dengan warga terdampak di Desa Mekarasih sudah mulai melestarikan tanaman indigofera dan rumput jenis odot. Tahun kedua (tahun 2018), tanaman tresebut sudah dapat berkembang dengan pesat. Warga pun sudah menanam hektaran tanaman tersebut.

Oleh sebab itu, di tahun ini ALG akan mencoba untuk memelihara 10 ekor domba, dan melakukan penelitian. Namun, butuh waktu berapa tahun dari 10 ekor domba sampai bisa menjual satu ekor setiap bulannya.

“Karena pakan sudah memadai, maka di sini kita akan melakukan penelitian untuk perkembangbiakan dari 10 ekor domba, sampai kita bisa menjual satu atau dua ekor domba setiap rahunnya,” ucapnya.

Opan berharap, dari hasil kerja keras warga dalam usaha agro bisinis ini, maka setiap bulannya warga harus bisa mendapatkan penghasilan minimalnya UMK Sumedang.

Tentunya, untuk lebih memperbesar lagi pendapatan setiap bulannya, maka setiap warga harus punya tiga sumber pendapatan. Artinya, jangan terpacu pada satu usaha saja. Misalkan usaha agro bisnis bisa dikolaborasikan dengan bertani dan juga bisa membentuk usaha lainnya, seperti kerajinan tangan atau hasil olahan warga, seperti kripik dan yang lainnya.

“Saya ingin setiap keluarga punya tiga sumber penghasilan,” ucapnya.
Salah satu tokoh masyarakat setempat, Asep mengaku bahwa pihaknya cukup optimis bisa mengembangkan ekonominya dengan menggeluti agro bisnis tersebut. Seperti yang sudah dijalaninya selama satu tahun ini bersama tim ALG Jatigede Pusat Studi Antropoligidan Pemberdayaan FISIP-DRPMI Unpad, dalam menyosialisasikan dan membudidayakan jenis rumput unggulan untuk pakan ternak.

Hasilnya, cukup untuk menyambung hidup. Hanya saja, pemasaran tanaman ini perlu dukungan dari dinas/Instansi terkait. Seperti Disbun dan atau Dinas Peternakan. Oleh sebab itu, ini perlu dikolaborasikan dengan pemeliharaan ternak seperti domba.

“Kalau pemasarannya bagus, dari bisnis bibit rumput indigofera saja sudah cukup menggiurkan,” ucapnya.
Namun dalam hal ini, warga berharap adanya peran pemerintah untuk membantu masyarakat mengembangkan usahanya itu. Bantuannya bisa berupa permodalan atau yang paling penting lagi dari segi pemasarannya.

“Ya kalau tanpa adanya dorongan dari pemerintah, bagaimana kita bisa maju,” pungkasnya. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.