Alfamart-Sumeks Gelar Pelatihan Manajemen Ritel

Peliput/Editor: ASEP NURDIN/SUMEKS

Alfamart-Sumeks Gelar Pelatihan Manajemen Ritel

FOTO BERSAMA: Peserta Pelatihan Manajemen Ritel foto bersama perwakilan Alfamart dan Sumeks, seusai acara yang berlangsung di Gedung PKK, Jalan Empang, Kabupaten Sumedang, Kamis (22/11). (FOTO-FOTO: MIFTAH/JOB UNPAD)

Berbagi Ilmu Menata Barang Dagangan Agar Dorong Penjualan

USAHA warung eceran yang menjual kebutuhan sehari-hari, kerap kali menjadi pilihan bagi mereka yang ingin memulai usaha. Selain modal yang relatif kecil, pengelolaan yang dianggap mudah, dan keuntungan yang relatif besar menjadi faktor penyebab orang tertarik memiliki usaha warung eceran.

Hal tersebut terungkap dalam pelatihan usaha mikro kecil dan menengah yang diselenggarakan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk bekerja sama dengan Harian Pagi Sumedang Ekspres, di Gedung PKK, Kabupaten Sumedang, Kamis (22/11).

Namun sayangnya, tidak sedikit usaha mikro kecil dan menengah tersebut yang tidak berkembang, bahkan merugi karena pengelolaan yang tidak baik.

“Salah satu contoh penyebab kerugian, yakni karena tidak ada pencatatan dan pemisahan antara barang yang menjadi modal usaha dengan yang dikonsumsi sendiri,” tutur Branch License Manager Alfamart Bandung Reynaldi, kemarin.

Kondisi ini, mendorong Alfamart sebagai salah satu ritel modern, untuk menjalankan pelatihan manajemen ritel yang dapat diikuti oleh pemiliki usaha warung.

Dalam pelatihan tersebut, para peserta memperoleh materi terkait dengan manajemen penataan barang, pengaturan stok barang, manajemen keuangan (cash flow), tips mengamati tren pasar terkait produk yang sedang diminati, serta pelayanan.

Menurut Reynaldi, mayoritas para pedagang telah menjalankan usahanya sesuai dengan prinsip manajemen ritel modern, namun tidak mengetahui mengapa hal tersebut harus dilakukan. Salah satunya, mengenai pentingnya pembukuan. “Mayoritas para peserta tidak membuat catatan pembukuan. Jadi jika ditanya berapa besar keuntungan harian yang diperoleh, pada umumnya peserta tidak tahu,” tutur Reynaldi.

Padahal, menurutnya, jika memiliki catatan keuangan, selain pemilik warung dapat mengetahui berapa keuntungan yang dihasilkan, juga dapat meningkatkan penjualan. “Karena berdasarkan catatan ini, nanti dapat dilihat produk apa yang nilai penjualannya paling tinggi, dan mana yang tidak. Lalu nanti dapat dikembangkan bagaimana cara mengoptimalkan barang-barang yang penjualannya rendah,” tambah Reynaldi.

Dalam pelatihan tersebut, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menata barang agar menarik konsumen. “Bukan hanya menjaga kebersihan, pemilik warung harus segera mengisi barang yang cepat habis, agar jangan terjadi lost salesatau kehilangan potensi penjualan,” jelasnya.

Alfamart juga telah meluncurkan Alfamikro, yakni aplikasi khusus bagi pemilik warung yang tergabung dalam pedagang binaan Alfamart. “Dengan Alfamikro pada pemilik warung bisa melakukan pemesanan barang dengan lebih mudah dan lebih cepat. Pemilik warung diajak untuk melek teknologi akan semakin berkembang,” tambahnya.

Pelatihan manajemen ritel merupakan salah satu corporate social responsibility yang dijalankan Alfamart, sebagai bentuk dorongan pada usaha ritel tradisional. Alfamart juga memiliki program yang berorientasi membantu usaha mikro kecil dan menengah dengan membantu pemenuhan pasokan barang melalui program Outlet Binaan Alfamart (OBA). (adv/nur)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.