oleh

Antara Tantangan dan Peluang untuk Kabupaten Sumedang

Pilkada di depan mata, masyarakat mungkin mulai terkotak-kotak sesuai dengan calon pemimpin idaman mereka.

Isu politik memang selalu asyik. Ramai untuk diperbincangkan, sedap untuk dibahas. Lebih panas bila diperdebatkan beramai-ramai.

Apapun itu semoga tidak menjauhkan kita dari kebutuhan dan tujuan dipilihnya pemimpin yaitu untuk membangun daerah kita jauh lebih baik. Khususnya membawa Sumedang menjadi maju dan nyaman bagi seluruh penduduknya.

Tentu kita tidak ingin daerah yang kita cintai ini tetap mengalami sandungan pelbagai masalah serupa. Sumedang tidak boleh tertinggal dari daerah lainnya. Dengan potensi yang ada dan fasililtas infrastruktur yang akan kita miliki, Sumedang menjadi daerah yang menarik dan menanti untuk dilirik.

Untuk mewujudkan kemajuan dan kenyamanan tersebut penyokong terbesarnya ada pada sektor perekomonian. Mari kita melihat kondisi di luar Sumedang dahulu, kemudian kita tarik hal-hal penting apa yang bisa kita masukkan dalam wacana membangun bagi daerah kita.

Saat ini geliat perekonomian dunia sedang tumbuh, akan tetapi pertumbuhan perekonomian tersebut ternyata tidak menciptakan banyak lapangan pekerjaan. Tidak semua sektor bisnis menjanjikan geliat yang serupa. Perkembangan teknologi yang pesat dalam satu dekade terakhir meningkatkan sektor ekonomi digital.

Dampak dari ekonomi digital ini adalah efisiensi, sehingga tidak membutuhkan banyak tenaga kerja. Bukan hanya terjadi di Indonesia, negara-negara dunia pun menghadapi masalah yang dilematis terkait isu pengangguran.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data pada tahun 2017 terjadi kenaikan jumlah pengangguran sebesar 10.000 orang dibandingkan tahun 2016. Apabila di tahun 2016 jumlah pengangguran di Indonesia adalah 7,03 juta orang, maka di kuartal ketiga 2017 angkanya menjadi 7,04 juta orang (BPS, 2018). Selain topik tentang calon bupati jagoan kita, mungkin tema berapa persen pengangguran kira-kira yang disumbang oleh Sumedang perlu juga kita bahas di kesempatan ngopi bersama teman-teman.

Pengangguran tercipta karena minimnya sektor formal yang bisa menampung mereka bekerja. Apalagi dengan adanya MEA yang ternyata memang mempersempit kesempatan kita mendapatkan pekerjaan. Efisiensi membawa pekerjaan-pekerjaan yang dikerjakan secara inhouse menjadi offshore alias lintas negara atau lintas benua.

Persaingan kita bukan lagi dengan Sinta atau Zaky yang dulu satu sekolah dengan kita pada salah satu SMA di Sumedang. Berkat teknologi kita bersaing dengan Edward atau Annie yang berasal dari negara lain. Tentu saja Edward dan Annie tidak perlu datang ke Indonesia untuk bekerja.

Sistem informasi menyediakan berbagai platform untuk membuat pekerjaan bisa dilakukan dari mana saja. Angka ketersediaan lapangan pekerjaan pada sektor formal pun terus menyusut. Sementara pembangunan tidak boleh ikut menyusut.

Dengan adanya MEA, negara-negara di ASEAN harus siap. Sebab bila mereka lemah maka negara tersebut akan menjadi incaran dari negara-negara lain yang lebih kuat dan siap. Pemerintah kita tentu saja tidak tinggal diam. Berbagai strategi untuk menguatkan ekonomi negara disusun. Salah satunya adalah dengan menumbuhkan wirausahawan di UMKM.

Rupanya Sektor UMKM ini memiliki peran penting dan strategi dalam pembangunan ekonomi. Terbukti saat krisis moneter melanda, sektor ini yang paling bertahan dibandingkan dengan sektor bisnis formal atau makro. Meski dikategorikan sebagai aktivitas ekonomi skala kecil namun sektor ini tetap akan tumbuh subur, bahkan berkembang seiring dengan pembangunan ekonomi global dan modernisasi. Lepas terpuruknya kondisi kita di masa 1997-1998, hanya UMKM yang lebih banyak selamat.

Sektor informal ini juga memberi solusi menyerap tenaga kerja. Bagi kelompok masyarakat kecil, sektor informal berperan seperti pahlawan karena dapat dijadikan sebagai sumber utama dan/atau alternatif pendapatan. Sejak akumulasi jumlah penduduk di kota-kota besar maupun kecil tidak dapat tercakup dalam peluang kerja formal yang ada, penduduk yang tidak mampu berkompetisi dalam sektor formal cenderung masuk ke sektor informal. Sektor informal ini diisi oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

UMKM akan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, Presiden Jokowi pernah menyatakan hal ini. Bahkan pada level ASEAN pun sektor ini memberikan kontribusi yang menjanjikan. Sekitar 88,8-99,9 % bentuk usaha di ASEAN adalah UMKM. Karenanya negara-negara ASEAN sadar betul bukan hanya upaya-upaya menumbuhkan atau menciptakan UMKM baru saja, namun juga pengembangan dan ketahanan UMKM perlu diutamakan. Sebab tidak semua wirausaha memiliki jaminan bahwa bisnisnya akan berhasil dengan sempurna sesuai dengan business plan yang mereka buat di awal pendirian.

Ilustrasi inilah yang harus masuk ke dalam wacana siapa pun yang menjadi pemimpin Sumedang ke depannya. Untuk membuat Sumedang maju dan nyaman kita mesti menguatkan UMKM yang sudah tumbuh dan muncul di Sumedang. Wirausahawan ini jangan hanya menjadi angka-angka fantastis tetapi tidak mampu bertahan dan berkembang. Sebab merekalah yang akan turut berperan membangun dan menolong Sumedang.

Esensi dari pembangunan ekonomi daerah adalah kerjasama pemerintah dan masyarakat dalam mengelola potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh daerah tersebut. Interaksi di antara keduanya menjadi bahan pertimbangan dan analisis bagi pembuat kebijakan, pemilik usaha dan institusi-institusi perekonomian untuk menciptakan dampak positif terhadap daerah tersebut.

Kepada calon pemimpin Sumedang yang akan terpilih, untuk mewujudkannya selain perencanaan yang matang di atas kertas. Ada strategi lain juga yang harus diperhatikan yaitu pembangunan karakter wirausahawan. Untuk menciptakan UMKM yang sukses maka program yang digelar haruslah menitik beratkan pada pembangunan karakter yang tepat. Bukan program pengembangan berdasarkan ilmu-ilmu bisnis semata. Sikap mental dan pola pikirnya harus dibentuk sejak awal untuk membidik kesuksesan dengan tepat. Inilah yang akan menjadi kunci kesuksesan mereka dalam mengembangkan usaha.

Saya yakin apabila program seperti ini digelar kepada para pelaku UKM dan juga generasi muda Sumedang, maka tidak hanya sektor ekonomi yang akan kuat tetapi juga menular pada bidang-bidang lainnya. InsyaAllah cita-cita kita untuk Sumedang yang maju dan nyaman akan tercapai.(*/penulis H Nana Mulyana, Ketua PHRI Kabupaten Sumedang)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed