oleh

Bakan Kondang Diteror Bencana

Warga Patut Waspada Pergerakan Tanah

PASEH – Pergerakan tanah yang terjadi di Dusun Bakan Kondang RT 32 RW 8 Desa Bongkok Kecamatan Paseh patut diwaspadai warga setempat. Sebab, pergerakan tanah terjadi secara perlahan, tidak secara langsung.

Hal itu disampaikan Kepala Desa Bongkok Endut Muhtar melalui Sekretaris Desa Bongkok Udin Saepudin di kantornya, kemarin (20/3).
“Pergerakan tanah yang terjadi di Bakan Kondang bersifat ‘reuhreuy’. Tidak langsung terjadi pada saat itu juga,” ujar Udin.

Oleh karena itu, kata Udin, dihawatirkan pergerakan tanah tidak diketahui warga. Sehingga, bisa menimbulkan korban, baik korban luka bahkan korban jiwa.

“Warga di sekitar tempat pergerakan tanah harus selalu terjaga saat hujan lebat. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tandasnya.

Dijelaskan Udin, pergerakan tanah di Dusun Bakan Kondang terjadi biasanya setelah hujan lebat dan berlangsung lama. Setelah air meresap ke dalam tanah, pergerakan tanah terlihat beberapa jam kemudian.

“Biasanya tanah mengalami amblas sekitar lima hingga 10 centimeter terlebih dahulu. Secara perlahan akan membesar, tidak langsung besar amblasnya,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, dua rumah dibongkar warga secara bergotong royong di Dusun Bakan Kondang RT 31 RW 8 Desa Bongkok Kecamatan Paseh, Minggu (18/3) lalu.

Kedua rumah dibongkar warga karena adanya hujan yang mengguyur secara terus menerus pada Sabtu (17/3) siang sampai malam. Sehingga, menyebabkan terjadinya pergerakan tanah di daerah tersebut.

“Bahkan, satu rumah yang dibongkar sudah mengalami miring dan sebagian materialnya ambruk. Makanya, warga terpaksa menurunkan seluruh material rumah tersebut,” ujar Ketua BPD Desa Bongkok Didin Nurodin saat itu.

Didin menambahkan, kedua rumah itu milik Esih, 70, dan Wiwin, 37. “Kini, kedua keluarga itu telah diungsikan ke saudaranya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Didin menuturkan, sebelumnya Sabtu (17/3) masih di tempat yang sama sebuah pagalangan kayu milik Iyat juga mengalami ambruk. Beruntung dalam kejadian itu di dalam bangunan tidak ada satu orang pun pegawai.

“Alhamdulillah, kejadian itu tidak menimbulkan korban luka ataupun jiwa. Karena, seluruhnya pegawai sedang berada di luar bangunan,” jelasnya.

Kata Didin, kawasan itu merupakan daerah langganan pergerakan tanah. Hal itu terjadi sejak tahun 2010 dan setiap tahun dipastikan bergerak, terutama saat musim hujan datang.

Sebelumnya, di daerah itu telah dilakukan pembongkaran rumah milik lima warga. Masing masing atas nama Maman, Mawi, Aja, Epong dan Abas.

“Namun, hingga sekarang belum direlokasi ke tempat yang telah disediakan dengan alasan tidak ada biaya untuk relokasi. Mereka masih tinggal di orang tua ataupun keluarganya masing-masing,” jelasnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed