Banjir Dampak Pembangunan Apartemen

Banjir Dampak Pembangunan Apartemen

BANJIR: Puluhan rumah warga di kawasan Jatinangor kini terus-terusan direndam banjir.

PEWARTA: IST

JATINANGOR – Maraknya kerusakan lingkungan di Jatinangor, disebut-sebut sebagai imbas dari pembangunan apartemen.

Menurut Litbang Perkumpulan Aktivis Gerakan Djatinangor (Pagerdjati) Ramadhan, masyarakat harus sadar dan berinisiatif mengawasi pembangunan proyek apartemen. Sebab, Undang-Undang memberikan hak gugat kepada masyarakat atas pembangunan konstruksi.

“Satu hal yang patut disyukuri bersama adalah bahwa sekali pun negara ini didera krisis energi, kita masih bisa menyaksikan begitu banyaknya proyek properti bermunculan dan tengah dibangun, baik swasta maupun pemerintah. Baik berupa mall, perkantoran, apartemen, rusunami/rusunawa, mau pun perumahan individu. Bersyukur karena realitas tersebut di satu sisi merupakan salah satu indikasi pergerakan aktivitas ekonomi dan distribusi kekayaan yang terus berlangsung,” katanya, kemarin.

Namun, di sisi lain, patut dicermati pula bahwa pembangunan proyek properti tidak jarang menimbulkan ongkos social. Yaitu konflik dan perselisihan antara masyarakat di lingkungan proyek dengan kontraktor pelaksana/pimpinan proyek.

Masyarakat merasa pembangunan proyek telah meresahkan dan mengganggu kenyamanan atau ketenangan lingkungan. Sebab berlangsung hingga malam hari alias 24 jam terus-menerus. Bahkan, menurutnya, menyebabkan kerusakan rumah/bangunan akibat kerasnya getaran tiang/pondasi proyek.

“Sementara pihak kontraktor bersikukuh melanjutkan pembangunan karena sudah mengantongi izin-izin dari instansi terkait,” tuturnya.

Dia mencontohkan, beberapa Pembangunan Apartemen Pinewood, Skyland, Easton Park dan Taman Melati, konflik antara warga dengan pengembang atas pembangunan apartemen.

“Lalu bagaimana perangkat hukum daerah maupun pusat mengatur kegiatan pembangunan proyek yang berdampak pada gangguan terhadap lingkungan. Dan bagaimana agar jaminan kenyamanan masyarakat dapat senantiasa berlangsung dengan tetap mendukung kegiatan pembangunan proyek,” sebutnya.

Menikmati suasana lingkungan yang layak, teratur, baik, aman dan tenang merupakan hak setiap orang. Dari aspek legalitas-formal hal tersebut merupakan amanat

Disebutkannya, pada Pasal 5 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman serta Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pada sisi yang lain, setiap orang/badan yang berkepentingan juga diberi wewenang membangun rumah/perumahan di lingkungan tertentu, sekalipun bisa berdampak pada masalah kenyamanan/ketenangan lingkungan, sesuai syarat-syarat yang ditentukan. Demikian ditegaskan juga Pasal 6 ayat (1) dan7 ayat (1) UU Nomor 4 Tahun 1992.

“Kedua kepentingan di atas memunculkan satu kekhawatiran, friksi atau pertentangan antara hak untuk hidup di lingkungan yang aman, tenteram dan aman di satu pihak, dengan hak untuk mendirikan dan membangun rumah/perumahan di pihak lain yang menimbulkan ekses kebisingan/kegaduhan. Memang, Pasal 29 dan Pasal 38 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi telah memberi peluang bagi masyarakat yang dirugikan atas kegiatan pekerjaan konstruksi untuk mengajukan gugatan hukum ke pengadilan,” jelasnya.

Namun regulasi tersebut, tidak serta merta menyelesaikan masalah. “Kebutuhan dan tuntutan untuk hidup aman dan tentram bagi masyarakat adalah hal yang mendesak, karena sehari-hari mereka tinggal di lingkungan di mana lokasi proyek tersebut menimbulkan kebisingan/kegaduhan. Padahal untuk mendapatkan hak melalui gugatan memerlukan waktu yang panjang, setidaknya enam bulan untuk tingkat pengadilan negeri (tingkat pertama),” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, Anggota Komisi A Dudi Supardi mengatakan, pembangunan apartemen memang harus dikaji lagi izinnya. Sebab sejauh mana apartemen itu digunakan untuk hunian mahasiswa.

“Kebutuhannya untuk berapa orang. Kalau apartemen yang sudah ada sudah mencukupi, ngapain membangun lagi apartemen karena akan mubazir,” tukasnya. (imn)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.