Banyak PJU Mati; Plosok Butuh Penerangan

Peliput/Editor: Igun gunawan

PJU MATI: PJU di Pusat Kota Sumedang tepatnya dari Alun-Alun Sumedang hingga Bundaran Mahkota Binokasih, sempat tak hidup hingga membuat jalan tersebut gelap pada Selasa (9/8) malam. IGUN GUNAWAN/SUMEKS

SITURAJA – Sejumlah penerangan jalan umum (PJU) di Jalan Provinsi Ganeas-Situraja, meski sudah terpasang namun sayangnya hampir rata-rata banyak yang mati. Seorang pengguna jalan Maulana yang melintas kawasan itu menyebutkan, lampu PJU yang mati didaerah yang paling rawan seperti di kawasan Cicapar, Kecamatan Situraja.

“Padahal ini, kalau tidak salah sebelum lebaran baru diperbaiki. Karena menghadapi arus mudik dan balik lebaran, tapi sekarang sudah mati lagi,” kata Maulana pada Sumeks, kemarin.

Ia tidak tahu apakah itu karena pengaruh kualitas lampunya yang jelek atau memang tidak ada pemeriksaan dari dinas terkait. “Ya, saya harap sih ada pengontrolan terhadap PJU-PJU yang mati itu. Apalagi ini kan masyarakat yang bayar, masa dikasih kualitas yang jelek,” ungkapnya dengan nada kesal.

Sementara itu, sejumlah kepala desa di wilayah yang jauh dari perkotaan, justru mengeluh tak memiliki penerangan jalan umum. Meski mereka sama-sama membayar iuran PJU yang dipotong saat membeli tarif listrik, namun nyatanya PJU tak bisa dinikmati oleh masyarakat di pelosok.

Bahkan termasuk jalan yang memiliki status jalan kabupaten, salahsatunya seperti ruas Jalan Cakrabuana yang menghubungkan antara Kabupaten Sumedang dan Majalengka, di sepanjang jalan itu tak satupun ada tihang PJU.

“Sepanjang jalan dari Desa Sukajadi-Ganjaresik-Cimungkal gelap. Padahal jalan kabupaten. Sampai malam pun jalan tersebut saat ini ramai dengan kendaraan,” ujar Kades Ganjaresik, Asep Sukmara, kemarin.

Ia meminta, pemerintah daerah memasang PJU di ruas jalan cakrabuana agar pengendara pada malam hari bisa lancar dan nyaman.
“Justru untuk mencegah kecelakaan dan kejahatan. Jalan Cakrabuana memang gelap sekali karena jarang ada pemukiman warga,” katanya.

Ruas jalan sepanjang 13 km tersebut merupakan akses lalu lintas ekonomi pertanian, yang biasanya ramai oleh kendaraan pengangkut hasil bumi pada malam menjelang dini hari.
“Jalan ini juga merupakan jalan perbatasan antar kabupaten. Sedangkan di wilayah Majalengka kalau malam sangat terang karena ada PJU,” ungkapnya.

Asep mengatakan, dulu sempat mengusulkan ke pemda untuk dipasangkan PJU di ruas jalan Cakrabuana. Namun sampai saat ini belum terealisasi.

“Sekarang ini tak hanya sebagai jalan pertanian, tapi juga jadi jalan wisata alam. Banyak warung-warung sebagai lahan usaha warga,” tuturnya. (eri)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.