oleh

Banyak Warga Tak Paham PSBB

Toko non sembako harus tutup

SUMEDANGEKSPRES.COM – Pemerintah menyayangkan banyak warga Sumedang belum paham prosedur Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Terutama di wilayah perkotaan, petugas banyak menemukan warga yang tidak memakai masker atau pun tidak berjarak.

Sebab itu, aparat gabungan kembali dikerahkan untuk melakukan sosialisasi dan tindakan kepada warga yang melanggar.

Kabid Penegakan Perda (Gakda) Satpol-PP Kabupaten Sumedang, Deni Hanafiah mengatakan, kegiatan dikhususkan bagi para pelanggar, pihaknya pun lebih menekankan penegakan hukum.

“Semua pihak harus mendukung, diterapkannya PSBB tahap dua, mulai dari pemerintah daerah sampai kepada warga,” kata Deni kepada wartawan, kemarin (11/5).

Deni menyebut, dalam upaya mendukung diberlakukannya PSBB tahap kedua, aparat gabungan terdiri dari Satpol PP, Polres dan Kodim 0610.

Deni menerangkan, kawasan perkotaan menjadi titik fokus menindak warga yang melanggar. Untuk itu pula, pihaknya akan fokus pada dua swalayan ternama di Kota Sumedang.

“Pihak swalayan sebetulnya sudah memberikan imbauan kepada masyarakat, akan tetapi masih banyak warga yang tidak mematuhi standar parameter yang dibuat oleh manajemen,” tambahnya.

Dia mengatakan, sudah meminta kepada petugas keamanan dan bagian informasi swalayan, agar selalu mengingatkan konsumen, untuk memperhatikan standar kesehatan.

“Kita sudah intruksikan agar konsumen memerhatikan parameter kesehatan atau prosedur standar kesehatan yang dibuat pihak manajemen. Di antaranya, untuk di kasir dibatasi dengan garis-garis pijakan di bagian tempat ngantre untuk bayar. Garis-garisnya kita batasi dengan ukuran satu meter. Lalu ketika konsumen masuk swalayan diwajibkan cek suhu tubuh oleh sekuriti,” ucapnya.

Terakhir, Deni menjelaskan, kegiatan ini dilakukan sebagai antisipasi pencegahan penyebaran Covid-19 di Kabupaten Sumedang, bahkan pihaknya telah menindak pertokoan yang nekat buka.

“Untuk di sekitaran pasar semi modern, kita telah tindak beberapa toko yang nekat terus berjualan. Padahal sebelumnya sudah ada larangan untuk berjualan,” pungkasnya. (rif)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed