Senin, 3 Agustus 2020

Sumedang Ekspres

Bacaan Utama Warga Sumedang

img

DITEMUI: Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Agus Wahidin saat ditemui di sela kerjanya. ASEP NURDIN/SUMEKS

BDR, Guru Bisa Lakukan Tujuh Metode

SUMEDANGESKPRES.COM – Upaya melancarkan sistem belajar dari rumah (BDR) selama Covid 19, Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang menyiapkan pedoman umum terkait strategi pembelajaran. Seperti dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Agus Wahidin.

Menurutnya, ada tujuh metode pembelajaran yang akan dijalankan oleh guru. Pertama pembelajaran virtual, yang porsinya hanya 15 persen. “Kalau yang internetnya ada, orang tuanya mampu, kurang lebih hanya tiga kali dalam sebulan,” katanya kepada Sumeks di kantornya, Rabu (22/7).

Pembelajaran kedua, Tematik Projek. Yakni menugaskan anak sesuai dengan kurikulum satuan pendidikan, untuk melakukan pekerjaan langsung. “Misalnya anak PAUD disuruh menanam biji tomat. Maka anak dibantu orang tuanya untuk menyiapkan tanah, polibag, menanamnya, menyiramnya. Setelah enam bulan tumbuh, maka anak akan merasa memiliki,” ujarnya.

Atau anak SD, ditugaskan menanam bunga dan anak SMP mendapat tugas membedakan antara beras biasa dengan beras ketan. “Nanti anak akan tahu beras jika diolah akan menjadi apa dan ketan jika diolah akan menjadi apa,” tuturnya.

Metode ketiga, guru menyusun modul dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Difoto dibagikan melalui aplikasi whastApp dan sebagainya. “Jika ada anak yang tidak memiliki android, bisa numpang ke temannya yang punya android atau belajar berkelompok,” katanya.

Metode keempat, Home Visit atau guru yang menyambangi rumah siswa. “Misalnya anak lima orang, bisa belajar di satu rumah,” katanya.

Kelima, pembelajaran melalui televisi dan radio. “Guru-guru sudah melakukan rekaman di tv dan radio lokal,” ucapnya.

Keenam melalui grup media sosial, seperti WhatsApp maupun Facebook dan ketujuh melalui pembelajaran berkala dan terukur. Berkala artinya, tidak boleh seorang guru¬† memberi kan tugas setiap hari, tetapi cukup seminggu sekali. Sedangkan terukur artinya bahwa pekerjaan anak harus menjadi kumpulan nilai. “Sehingga anak akan punya nilai apa di tengah atau di akhir semester,” ucapnya.

Dijelaskan, ketujuh metode tersebut, sifatnya komplementer atau saling mengisi dan melengkapi. “Kalau virtual tidak bisa dilaksanakan, maka home visitnya bisa ditambah dan begitu seterusnya,” terang Agus.

Metode yang diterpkannya itu, hanya ada di Sumedang. Karena kabupaten atau kota lain, sistem pembelajarannya hanya mengikuti juknis sebagaimana petunjuk dari kementerian. “Ini haya ada di Sumedng saja,” ucapnya.

Sementara itu Anggota DPRD Sumedang Rahmat Juliadi menyebutkan, pembelajaran secara daring memang sulit dilaksanakan di Sumedang. Pasalnya, baru sekitar 61 persen wilayah yang bisa dijangkau baik oleh jaringan internet, selebihnya cenderung labil. “Dari 61 pesen itu, hanya 50 persen yang memiliki akses internet termasuk alat seperti handphone atau laptop,” katanya.

Dari 50 persen itu, hanya sekitar 31 persen anak yang benar-benar memanfaatkan teknologi tersebut. “Jadi kalau sekolah-sekolah berharap bisa belajar dengan online, itu agak sulit,” katanya.

Bahkan sejumlah sekolah di kawasan timur Sumedang seperti Situraja dan Wado, ada yang mengatakan diawal, tidak bisa melakukan pembelajarn secara Daring. Namun sebagai solusinya, dengan metode home visit dan LKS, tentunya tinggal menambah prosentasi pembelajaran. (nur)