Belajar di Luar Kelas, Siswa SMPN 7 Kunjungi Museum

Belajar di Luar Kelas, Siswa SMPN 7 Kunjungi Museum

KUNJUNGAN MUSEUM: Sejumlah siswa SMPN 7 Sumedang mengunjungi Gedung Pusaka di Museum Prabu Geusan Ulun, Kamis (7/2).(IIS SULASTRI/SUMEKS)

PEWARTA: IIS SULASTRI/SUMEKS

KOTA- Sebanyak 162 siswa kelas VIII SMPN 7 Sumedang, melakukan kunjungan ke Museum sebagai pelajaran di luar sekolah, Kamis (7/2). Dengan didampingi tujuh guru sebagai pembimbing bersama beberapa guide dari pihak Museum, siswa-siswi SMPN 7 berkeliling mengunjungi gedung-gedung yang ada di dalam Museum Prabu Geusan Ulun.

“Ini merupakan program belajar di luar kelas dengan melakukan kunjungan untuk pelajaran IPS. Berlatar dari muatan lokal yang ada pada kurikulum 2013, di mana harus ada belajar di luar kelas dengan mengunjungi Museum bahkan situs-situs,” tutur salah seorang guru IPS SMPN 7 Sumedang, Andi Kusmana SPd di sela kunjungan berlangsung.

Selain sebagai program yang termuatkan dalam kurikulum 2013, Andi menyebutkan, kunjungan siswanya kali ini bertujuan harus mengenal sejarah yang bermuatan lokal. Kunjungan ini pun, bukan yang pertama kalinya, karena sebelumnya pernah hanya tidak rutin setiap tahun. “Ini kan kelas VIII, sebelumnya kelas VII, dan nanti mungkin kelas IX,”tambahnya.

Diutarakannya, memilih Museum Prabu Geusan Ulun sebagai tujuan kunjungan, karena dianggap memiliki unsur sejarah yang lengkap jika dibanding mengunjungi situs-situs. “Siswa yang ikut serta ini ada 162 orang dengan 7 guru sebagai pembimbing. Walaupun kegiatan ini di luar sekolah yang memunculkan kekhawatiran tersendiri, tapi dengan komposisi jumlah guru demikian dirasa sudah cukup,” timpalnya.

Disebutkannya, guru pembimbing yang mendapingi tidak hanya dari guru IPS. Tapi ada juga guru Matematika, PKN dan Prakarya. “Guru yang mendampingi berdasarkan kepanitian dan juga guru wali kelas,” ujarnya.

Andi menuturkan, setelah siswa melakukan kunjungan, mereka juga diarahkan untuk menyusun laporan dari hasil kunjungan tersebut. “Diharapkan minimal mengenal sejarah lokal dan budaya yang ada serta mengetahui peninggalan-peninggalan awal kerajaan Sumedang. Nanti mereka menulis hasil kunjungan menjadi bentuk laporan secara perorangan,” jelasnya.

Diakuinya, program kunjungan ini tidak mendapat komplen dari orangtua walaupun harus mengeluarkan biaya, bahkan orangtua mendukung. “Orangtua mengetahui anak-anak melakukan kunjungan ke Museum ini. Karena ternyata orangtua juga kadang-kadang tidak tahu yang ada di Museum ini, sehingga mereka mendukung jika anaknya melakukan kunjungan seperti ini,” ujarnya.

Dari kunjungan tersebut, Andi berharap tumbuh kecintaan siswa terhadap sejarah dan budayanya sendiri. Tentunya, agar siswa mengetahui peninggalan, kemudian sejarahnya dan mereka mencintai budaya wilayahnya sendiri. “Apalagi mereka sekarang lebih tahu budaya lain seperti Korea dan banyak lainnya, tapi budaya sendiri tidak tahu, itukan harus diperhatikan,” tutupnya.

Sementara itu, salahsatu karyawan Museum yang dikenal Ibu Neng memfasilitasi kunjungan siswa dengan memberikan pelayanan berupa mengenalkan peninggalan-peninggalan yang ada. “Mudah-mudahan setiap sekolah bisa mengajak anak-anaknya supaya datang ke Museum agar mereka mengetahui sejarah Sumedang. Karena melihat anak-anak sekarang itu lebih senang berkunjung ke mall-mall, Waterboom-waterboom, tapi kalau sejarah itu masih kurang,” ungkapnya. (cr1)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.