Bungsu Bandung Gelar Casting Garap Film Last Sinden

Peliput/Editor: iman nurman/rls

Bungsu Bandung Gelar Casting Garap Film Last Sinden

FOTO BERSAMA: Bungsu Bandung (tengah) foto bersama dengan peserta casting film Last Sinden Mustika Sumedang, kemarin. (ISTIMEWA)

Upaya meningkatkan seni dan budaya sunda, artis asal Sumedang Hj Mimi Setiawati (52) atau yang lebih dikenal dengan nama Bungsu Bandung menggelar casting untuk pembuatan Film Last Sinden Mustika Kembang Sumedang, di Jalan Kutamaya No 01 Nalegong RT 04 RW 10 Kelurahan Kutamaya Kecamatan Sumedang Selatan, Selasa (20/10).

Acara casting digeler selama tiga hari, sejak Minggu (18/10) hingga Selasa (20/10). Hal tersebut digeler sekaligus dalam upaya mecari generasi bibit-bibit warga Sumedang dalam meningkatkan seni dan budaya.

Bungsu Bandung mengungkapkan, salah satu upaya untuk lebih meningkatkan seni dan budaya dirinya menggelar casting yang bertemakan Last Sinden Mustika Tembang Sumedang. Untuk para peserta audensi pun tak hanya dari wilayah Sumedang, namun dari luar kota pun banyak pesertanya.

“Alhamdulillah para peserta casting ada kota-kota lain yakni dari Bandung, Majalengka, Banten, Garut, ada puluhan orang yang ikut. Sehingga waktu casting tak cukup satu hari. Makanya kami menjadwalkan tiga hari untuk casting, dari hari Minggu sampai Selasa,” ungkapnya.

Bungsu Bandung menyebutkan, ada yang berbeda dalam casting tersebut yakni, para peserta harus mampu ngawih.

“Dalam pembuatan film nanti akan memerankan saya (Bungsu Bandung,red) sejak, kecil, remaja, dewasa, sampai sekarang,” ujar penyanyi tembang Mobil Butut itu.
Bungsu Bangdung menceritakan dirinya, mempunyai Sanggar Kawih Bungsu Bandung yang berlokasi di tempat tinggalnya, yakni, Dusun Cimuruy Desa Mekermulya Kecamatan Situraja. Bahkan dengan adanya sanggar tersebut, telah banyak melahirkan para seniman-seniman dibidang seni kawih dan tembang pop sunda.

“Dalam berkarya dan berkreasi dibidang Seni Sanggar Bungsu Bandung, saya tidak akan pernah putus untuk melangkah mengabdikan diri, kepada bumi pertiwi agar tercipta generasi seni dimasa yang akan datang untuk melestarikan seni dan budaya khususnya di wilayah Kabupaten Sumedang,”katanya.

Bahkan, menurut Bungsu Bandung, Sanggar Seni Bungsu Bandung akan terus berperan aktif ikut serta dalam pembangunan di Kabupaten Sumedang dan meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di bidang seni. Sehingga bener-benar dapat dijadikan sebagai aset seni yang berkualitas.
”Saya pun minta dukungannya kepada sumua pihak dalam upaya meningkatkan seni dan budaya, makanya perlu dukungan baik masyarat, pemerintahan, Bupati, Wakil Bupati, Sekda, Dinas Kebudayan dan Pariwisata. Apalagi dengan dikenalnya Sumedang Puseur Budaya Sunda,” bebernya.

Dirinya mengaku, dengan rasa semangat yang tinggi terhadap seni. Telah terwujud Sanggar Kawih Bungsu Bandung dan tidak akan berhenti berkreasi pada suatu bidang kawih dan tembang saja. Dirinya akan terus menciptakan karya-karya seni, yang dapat diterima dan dinikmati oleh masyarakat banyak yang dapat dijadikan sebuah tontonan yang menjadi tuntunan.

“Akan kami ringkas dalam sebuah seni peran yang dijadikan film dokumenter dalam kisah The Last Sinden Mustika Kembang Sumedang, perjalanan kisah Bungsu Bandung yang akan bercerita lewat seni peran menjadi inpirasi kami untuk dijadikan sebuah tontonan yang sangat berharga dan berguna untuk memotivasi generasi muda dalam berkarya,” ungkapnya.

Dalam perencanaan produksi film The Last Sinden Mustika Kembang Sumedang. Bungsu Bandung mengaku, sebelumnya telah musyawarah dengan seluruh crew sanggar, sehingga dapat membentuk satu team produksi film yang berpengalaman dibidangnya.

Ase Sunarya (44) alah satu orang tua peserta mengaku, dirinya sangat mendukung dengan adanya casting. Pasalnya, dengan adanya casting sekaligus bisa kawih tersebut menjadi salah satu wadah para generasi muda-mudi dalam mempertahankan seni dan budaya sunda.

“Ada bedanya dalam casting yang digeler untuk pruduksi film The Last Sinden Mustika Kembang Sumedang, karena peserta tidak hanya bisa akting saja, namun harus bisa ngawih. Bahkan persoalan lolos dan tidak dalam casting itu bukan yang utama bagi saya sebagai orangtua, yang penting anak ada kemauan,” ujarnya.

Selvi Sintia Ningrat (15) salah satu peserta, warga Kampung Mekarbakti, RT 02/02, Desa Margamekar, Kabupaten Bandung mengaku, dirinya sangat senang bisa mengikuti casting dan didukung oleh orang tuanya.

“Saya tadi disuruh acting menangis, Alhamdulillah bisa sampai meneteskan air mata. Setelah itu disuruah ngawih Bangbung Hideung,” ujar peserta asal Bandung. (rls)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js