Cukup Fenomenal, Kemanakah ZA Berlabuh?

Cukup Fenomenal, Kemanakah ZA Berlabuh?

Handri S Budiman.Jurnalis

PEWARTA: REDAKSI/SUMEKS

TAK ada yang menyangka, suara yang yang diraih pasangan calon jalur independen, H Zaenal Alimin – Asep kurnia, begitu signifikan di pilkada 2018. Meski dalam perhitungan tabulasi KPUD Sumedang dan quick qount timses masing2 calon, pasangan ini berada diurutan kedua, faktanya pemilik jargon Semangat ini, bisa mengalahkan suara calon bupati/wabup yang diusung partai besar, seperti PDIP, Golkar, PKS, dan Gerindra.

Terlepas dari pilkada, pasangan ini seolah menjadi magnet baru bagi parpol2 di kabupaten Sumedang. 100 ribu lebih suara yang diraup ZA Akur, seolah menjadi rebutan parpol2, termasuk parpol besar yang suara calonnya di pilkada, jauh dari pasangan
tersebut.

Apalagi, tahun politik di tanah air,,saat ini justru sedang hangat hangatnya jelang pemilihan legislatif dan pilpres. Popularitas dan elektabilitas calon bupati/wabup ini pun masih terjaga baik di kalangan pemilih, khususnya para pejuang ZA.
Seusai Pilkada kemarin, tampak berduyun2 para pejuang ZA maupun simpatisannya, menyambangi rumah Zaenal Alimin di Perum Asabri, Bojong. Hal ini, menunjukkan militansi pemilih ZA, masih sangat kuat. Dan dari sekian banyak pejuang ZA, meminta mantan sekda ini, untuk memimpin perjuangan di pemilu legislatif tahun depan.

Nyatanya, bukan hanya pejuang ZA dan simpatisan, partai politik pun ada yang sudah terbuka meminang ZA untuk bergabung. Lantas, kemana beliau akan berlabuh? Wallualam, saat ini hanya beliau dan Tuhan yang tahu.

Dari kacamata politik, menjadi peluang besar untuk ZA melanjutkan karir politiknya. Meski berlatar belakang birokrat, diyakini pemikiran beliau tentang politik sudah cukup matang. Terlebih, kala menjabat sekda, beliau sering bersentuhan dengan orang2
politik di parlemen yang menjadi mitra kerjanya saat itu.

Beberapa kali pertemuan di sidang paripurna, ZA pun sepertinya cukup baik menghadapi “serangan2” para politisi. Terbukti, ketika sidang paripurna yang dihadirinya, selalu berakhir dengan baik, meski mungkin ada catatan2 dr para politisi parlemen ini.
Dan, kedewasaan/kematangan politik ZA, sangat terlihat saat dia, menjadi calon bupati, yang pertama menyambangi rumah calon bupati peraih suara terbanyak, H dony Ahmad Munir, dua hari setelah pilkada saat perhitungan suara belum usai. Dan kedewasaan politik ini, pun ditularkan kepada istri dan anak2nya, dengan mengajak serta mereka ke rumah Dony Munir, tentunya untuk mengucapkan selamat.

Raihan suara yang signifikan dan kematangan berpolitik ini, pun menjadi nilai plus ZA di mata para petinggi parpol. Dan, justru ini menjadi ujian baru bagi ZA setelah kontestasi di Pilkada.

Di satu sisi, ZA harus segera menentukan pilihan. Sedangkan di sisi lain, keputusan matang harus dipikirkannya secara cermat.
Apakah melanjutkan karir politik atau pensiun sama sekali.

Memang, tidak ada yang buruk di antara dua pilihan tersebut. Toh yang merasakan suasana hati, adalah ZA itu sendiri. Tapi, jika memang harus memilih terus berpolitik, Kemanakah ZA berlabuh?

Pasca kunjungan ke rumah H Dony Ahmad Munir, tampak sekali keakraban di antara keduanya. Tidak ada obrolan berat, justru yang ringan-ringan tapi penuh makna. Banyak kalangan, dengan mengenakan baju warna hijau saat bertandang ke rumah Dony, yang berspekulasi adanya deal-deal politik antara Dony dan ZA, yang memungkinkan ZA melanjutkan karir politik di PPP, partai utama pengusung Dony. Wallohualam, hanya beliau-beliau yang tahu.

Dan, peluang ZA bergabung dengan partai lainnya, semisal PDIP dan Golkar. Itu juga tidak menutup kemungkinan. Sebab, dengan raihan suara ZA di Pilkada, memungkinkan mendongkrak kembali popularitas kedua partai tersebut, yang di Pilkada ini, calonnya menempati urutan ketiga, di bawah ZA.

Jika pun akhirnya ZA bergabung dengan parpol pemilik kursi di parlemen, setidaknya ada yang harus dicermati. Meski parpol tersebut kepincut, ZA harus memberi daya tawar yang tinggi. Misal, ada kesepakatan dengan parpol, untuk menjadikannya prioritas.
Cukup berat memang. Tapi apa yang tidak mungkin dalam politik? Pengamanan suara partai dalam Pileg, lebih utama dari kepentingan pribadi kader.

Akan tetapi, meski daya tawar ini diterima para petinggi parpol besar, lantas bagaimana dengan kader-kader parpol yang sudah lebih lama berjuang?

Jika demikian, petinggi parpol harus memberikan pemahaman yang detail kepada kader, demi terdongkraknya suara di Pileg.
Lalu, bagaimana peluang parpol yang belum memiliki kursi di parlemen? Partai Nasdem, yang sedari awal terlihat mesra dengan ZA-Akur ketika proses Pilkada–meski dalam pilkada Nasdem tidak secara gamblang mendukung–pun bisa saja menjadi pelabuhan ZA.
Dengan kepengurusan yang baru di Sumedang, partai Nasdem terlihat cukup gress. Apalagi, kepengurusan sekarang ini, diisi kalangan anak-anak muda, salah satunya putra bungsu ZA, mughni, sarjana jebolan FISIP. Terlebih, Ketua DPD Nasdem Sumedang Reza Zaki dan Sekjennya, Riki Fajri, usai pilkada kemarin, langsung menyambangi rumah ZA.

Sebagai partai dengan kepengurusan yang baru, apalagi belum punya kursi di DPRD Sumedang, jika pun ZA bergabung, harus berjuang keras mendongkrak suara partai ini, dengan menjaga suara pemilihnya di Pilkada.

Tetapi tidak dinapikan, kemenangan Ridwan Kamil di Pilgub Jabar, sangat besar peluangnya, berefek bagi suara Nasdem di Pileg mendatang. Terlebih, RK diusung partai besutan Surya Paloh ini di Pilgub Jabar.

Jadi, bukan tidak mungkin pula, suara Nasdem di Sumedang akan bersinar, jika kepengurusan di Sumedang bisa memanfaatkan RK Effect di Pilgub Jabar dan menjaga suara ZA di Pilkada Sumedang.

Akan tetapi, semua itu kembali lagi pada suami dari Ani Gestaviani ini. Apakah akan melanjutkan di jalur politik atau benar-benar menikmati masa pensiun dengan keluarga? Menarik untuk ditunggu. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.