oleh

Dewan Enggan Komentari Revitalisasi Alun alun

KOTA – Sejumlah anggota DPRD Kabupaten Sumedang, enggan mengomentari proses Revitalisasi Alun-alun Sumedang. Padahal, tenggat waktu pengerjaan yang hanya 98 hari itu, sudah habis sejak Desember 2019 lalu.

“Jangan saya, yang lain saja,” ujar salah seorang anggota dewan, seraya menunjuk rekan sesama dewan lainnya.

Begitu pula, saat Sumeks meminta pendapat dewan lain, tak ada yang berani berkomentar. “Ke anggota komisi 4 saja,” ujar anggota dewan dapil 6 tersebut.

Namun demikian, saat menuju ke ruangan Komisi 4, tidak ada satu anggota pun di ruangan tersebut.

Sementara itu, saat Sumeks hendak mengonfirmasi ke Kejaksaan, terkait tugas fungsinya sebagai Tim Pemantau Proyek Revitalisasi, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) tidak ada di tempat.

Berdasarkan keterangan Satpam, Kajari sedang melakukan pengobatan cuci darah di RSUD Sumedang. Sedangkan para Kepala Seksi, tidak ada yang berani memberikan keterangan.

Terpisah, Pemerhati Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sumedang, Asep Surya meminta
Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat diminta turun tangan untuk mengusut pengerjaan proyek penataan Alun-Alun Sumedang yang diduga telah menyalahi aturan.

“Kami berharap Kejati untuk turun langsung untuk mengusut dan membongkar masalah proyek gagal yang telah menyerap anggaran pemerintah cukup besar itu,” kata Asep.

Lantaran pengerjaan proyek tersebut dinilai gagal. Sebab, pengerjaan proyek tersebut hingga saat ini belum selesai. Ia menduga pembangunan proyek sudah menyalahi aturan dari kontrak yang sudah diteken sebelumnya.

Lebih lanjut, Asep mempertanyakan anggaran Rp16 miliar yang diserap dari hibah APBD Provinsi Jawa Barat untuk pengerjaan proyek penataan Alun-Alun Sumedang.

“Itu anggaran sangat besar, masa hasilnya cuma segitu,” ucapnya.

Menurut informasi yang diterima Asep, material untuk proyek revitalisasi Alun-Alun Sumedang itu di impor dari luar negeri.

“Pertanyaannya, sejauh mana sih bagusnya material yang di impor dari luar negeri itu, dan saya pikir di Indonesia pun masih ada material yang bagus,” kata dia

Selain itu, kata Asep, pengerjaan revitalisasi sesuai kontrak sudah melewati tahun anggaran, sehingga pelanggarannya sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Dengan begitu sudah jelas masuk dalam Sisa Lebih Pembayaran Anggaran (Silpa).

“Kontraktornya sudah tidak profesional. Kalau profesional pasti tepat waktu. Kami meminta Kejati Jawa Barat untuk turun langsung mengusut tuntas dugaan pelanggaran tersebut,” tuturnya

Menurut Asep, proyek revitalisasi Alun-alun sudah tidak benar. Karena, kata dia, tidak ada pekerjaan yang lewat dari tahun anggaran, itu sudah dianggap Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa).

Atas dugaan tersebut, ditambahkan Asep, pihaknya akan melaporkan dugaan kasus tersebut ke Kejaksaan Tinggi Jawa Barat.

“Sudah, kami sudah membuat draf untuk melapor ke Kejati,” ujarnya.

Untuk diketahui, PT Pilar Indo Sarana dan Sub Kontraktor CV Gelora Karya Panikel selaku kontraktor proyek pengerjaan penataan Alun-Alun Sumedang tersebut sudah meneken kontrak dengan Pemkab Sumedang dengan Nomor Kontrak 04/SP/PPK/PEN – ALN/PKPP/2019.

Dalam pelaksanaan pengerjaannya yang tertera dalam kontrak perjanjian tertulis waktu pelaksanaan selama 98 hari, dengan batas akhir 20 Februari 2020. Pembiayaanya mencapai Rp16.092.406.271.

Sementara itu, diberitakan sebelumnya, proyek revitalisasi ini juga mendapat sorotan berbagai pihak. Pasalnya, proyek yang diagendakan rampung akhir tahun itu, hingga kini belum beres.

Pengamat Kebijakan Publik Dadan A Setiawan mengatakan, pemberi kontrak seharusnya memberi teguran kepada pengusaha, akibat keterlambatan dalam pekerjaan.

“Pengusaha juga tidak ada alasan terlambat dengan dalih apapun, kecuali bencana alam, tegasnya.

Sedangkan jika keterlambatan itu gara-gara seringnya turun hujan, kata Dadan, sangat tidak tepat untuk dijadikan

sangat tidak tepat untuk dijadikan sebuah alasan.

“Hujan mah bukan bencana dan itu harus diperhitungkan pengusaha sejak awal. Lagian, kenapa pengusaha berani mengambil pekerjaan itu,” tegas Dadan.

Pantauan di lapangan, kawasan Alun-alun masih tertutup untuk umum. Sekeliling masih tertutup seng. Warga pun masih dilarang untuk masuk. (red/tim) 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 komentar

  1. Banyak orang yang telah meraih puluhan juta rupiah hanya dengan bermain game di dupa88,net sekarang saatnya giliran kamu untuk seperti mereka kunjungi situsnya dan bergabunglah sekarang juga

News Feed