Diminta Bayar Rp 1,5 Juta

**Untuk  ‘Admin’ Orang Dinas

KOTA – Sejumlah guru honorer di Kabupaten Sumedang mengeluh dengan adanya pungutan liar yang diduga dilakukan oknum kepala sekolah. Menurut informasi yang berkembang nilai pungutan bervariatif mulai dari Rp 1,5-3 juta itu sebagai uang ‘admin’ orang-orang Dinas.

Informasi itu menyebar setelah pemilik akun Nya Uli We memosting keluhannya terkait dengan pungutan liar tersebut di Group Facebook Sumedang Tandang.

Manawi didieu aya guru honorer sapertos abdi anu t acan kalebet sareng teu acan kenging Honda(honor daerah)… Sekedar berbagi wae ieu mah sareng sekedar naroskeun….. Abdi kamari diajengkeun Honda ku kepsek teras wae cariosna teh cair anu ageungna Rp. 375.000……eta teh duka sasasih duka per triwulan abdi t ngartos da t aya rincianana…. Tapi abdi teh disuhunkeun artos 1,5jt saurna kanggo admin….. Cik manawi didieu aya nu sami ngalaman sapertos abdi kedah kumaha tah????  Pan saur abdi nu bodo mah eta anggaran teh ti pemerintah tapi naha meni kedah diartosan deui nya….,” tulis pemilik akun Nya Uli We.

Postingan itu pun mendapat beragam komentar, Syahrudin D’Bardin menanggapi postingan Nya Uli We, dia bahkan membenarkan adanya kejadian tersebut.

sami teh, kasus na sareng istri abdi. Awalna ditawisan inctv honda ku ketua FKTH, tapi aya biaya admin Rp. 1.250.000. Saurna kanggo ka Orang Dinas. Ku pun istri nembe diwaler “Bade Pikir2 heula”. Tos 2 minggon nembe diwaler “Moal Ngiringan”. Tapi nu Aneh, Inctv nu pun Istri malah cair. Padahal tos dbedokeun. Trs pencairan na TUNAI, SANES TRANSFER ke rekening masing2. Saatos kitu KETUA FKTH nyarios. Nu cair inctv pun istri, tp artosna bade dikanu saneskeun kanu ngiringan NYOGOK. ARI DATA NU DPT NU ISTRI SAYA. Coba pabeulit nya….. Yang seharusnya KETUA FKTH itu memperjuangkan hak Anggotanya. Ini malah sibuk mencari keuntungan,” tulis Syahrudin D’Bardin.

Salahseorang honorer yang bersedia menjadi narasumber Sumedang Ekspres membenarkan terkait dengan hal itu. Dia merupakan guru honorer yang terjaring penerima honorer daerah (Honda).

”Saya merasa senang, karena kepala sekolah sedang memperjuangkan honor itu,” kata Sumber Sumeks, yang demi keamanan identitasnya tidak disebutkan saat dihubungi melalui telepon selulernya, Senin (8/4).

Lebih lanjut dia menyebutkan selang beberapa hari kemudian, uang itu cair dan langsung dia terima. Namun, kebahagiaannya itu pudar seketika setelah kepala sekolah meminta uang sebesar Rp 1,5 Juta, dengan alasan, untuk administrasi.

”Kalau sebelumnya tahu harus bayar sejuta setengah, saya akan menolaknya,” tambahnya.

Bahkan, dia berniat mengembalikan uang itu, namun yang didapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari sang kepala sekolah. ”Abdi teh meni hareneg, hanjelu sareng bingung, ari kedah mayar sakitu dina waktos anu sakedap. (Saya bingung kalau harus bayar segitu, dalam jangka waktu yang singkat, red),” katanya.

Bahkan menurut informasi dari kepala sekolahnya, jika uang tersebut tidak dibayar segera, maka pengajuan yang lain pun akan tersendat. ”Da saurna teh ayeuna mah mau tidak mau cenah upami teu bayar nu sanesna teu tiasa diajengkeun cenah (Katanya sekarang, mau tidak mau, katanya. Kalau tidak dibayar yang lainnya tidak bisa diajukan, katanya, Red.),” tambahnya seraya menyebutkan di sekolahnya ada empat orang yang diajukan Honda.

Dugaannya makin kuat jika uang yang dikumpulkan tersebut masuk pungli, lantaran pemberi uang tidak menerima berkas apa pun sebagai bukti pembayaran.

”Saya harus bagaimana pak, karena honor ini tidak bisa dibatalkan, sedangkan untuk membayar Rp 1,5 Juta, saya uang dari mana?” keluhnya.

Senada diungkapkan honorer lainnya, yang merasa keberatan dengan uang adminintrasi, yang sangat memberatkannya itu.  (nur)

Ikuti Kami di Sosial Media:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.