DISKUSI FKPS: Calon Istri Terharu Dipeluk oleh Istri Pertama (Bag 3/Habis)

DISKUSI FKPS: Calon Istri Terharu Dipeluk oleh Istri Pertama (Bag 3/Habis)

BERPOSE: Sekjen FKPS Fakhruddin (kiri) foto bersama peserta Silaturahmi Forum Keluarga Poligami Sakinah di lingkungan Ponpes Asy-Syifa, Pamulihan, baru-baru ini. (HANDRI S BUDIMAN/SUMEKS)

PEWARTA: handri s budiman

Untuk menjalani rumah tangga secara poligami, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Meski pada akhirnya, sebagian besar pelaku poligami merasa hidup bahagia. Namun bukan berarti, sebelumnya tidak ada pergolakan batin dalam hati mereka. Baik di istri pertama maupun istri kedua. Tapi, setelahnya mereka menganggap, hal itu manusiawi. Berikut liputannya.

HANDRI S BUDIMAN, Haurgombong

DUKUNGAN para istri-istri kepada suami saat mengikuti silaturahmi Forum Keluarga Poligami Sakinah (FKPS) di kompleks Masjid Pondok Pesantren Internasional Asy-Syifa Wal Mahmudiyyah, Pamulihan, Sumedang, tak hanya di bibir semata. Keikutsertaan para istri-istri ini, sepertinya ingin menunjukkan keharmonisan dalam keluarga meski berumah tangga secara poligami.

Baik istri pertama, kedua hingga keempat, terlihat cukup seksama mengikuti tausyiah yang disampaikan Pimpinan Umum Pondok Pesantren Internasional Asy-Syifa Wal Mahmudiyyah KH M Muhyiddin Abdul Qodir Al Manafi MA dan Dr Dliyauddin Qoewadi MA. Dengan mengikuti tausyiah ini, para istri-istri ini pun mengaku semakin yakin dengan janji Allah, terkait suratan takdir yang mereka jalani.

Rahmi (29), misalnya. Meski awalnya tidak terbersit untuk berumah tangga secara poligami, toh pada akhirnya, ia menerima jalan hidupnya ini. Bahkan, saat ini perempuan yang berprofesi sebagai dosen di Kota Bogor itu, mengaku bahagia, berumah tangga dengan suami yang sebelum meminangnya, memang berstatus sudah beristri.

Namun, diakui dia, bukan tidak ada pergolakan batin saat sang suami hendak menjadikannya sebagai istri kedua. Padahal, ketika dipinang sang suami, ia baru saja lulus strata dua (S2) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

“Awalnya sempat berpikiran, kok gini ya, dilamar sama orang yang sudah memiliki istri. Tapi, saat itu suami terus menyakinkan, jika pernikahan poligami ini hanya diniatkan untuk ibadah. Bahkan, istri pertama pun sudah memberikan izin,” tutur Rahmi.

Namun, sebut Rahmi, saat itu ia masih ragu sampai pada akhirnya, istri pertama dari suaminya, menelepon mengajaknya silaturahmi ke rumah. “Waktu itu, hati ini masih bergejolak. Antara yakin dan tidak. Sampai akhirnya tiba di rumah suami, ternyata saya langsung dipeluk istri pertama. Tidak ada tersirat kekecewaan dalam dirinya. Justru, mendukung untuk menjalani rumah tangga secara poligami,” kenangnya.

Terkait rasa keadilan yang diberikan suami kepada ia dan istri pertama, ia mengacungi jempol. Baginya, adil bukan berarti harus sama. Misalnya saja, kata Rahmi, kunjungan suami ke kediamannya di Bogor hanya dua hari. Sedangkan empat hari lainnya, tinggal bersama istri pertama. “Jadi, saya tidak menuntut suami agar tinggal bersama saya lebih lama. Karena saya sadar, dari istri pertama, suami sudah dikarunia empat anak, sedangkan saya baru satu anak. Itu salah satu pertimbangannya. Dan, saya menerima,” ucapnya.

Hampir senada diungkapkan Silvi (26). Perempuan asal Kota Bandung ini, mengaku terus mempelajari ilmu agama, dengan harapan rumah tangga yang dijalani bersama suami dan istri lainnya, tetap dalam koridor agama (ibadah). “Saya malah datang bersama istri lainnya dari suami. Kami baik-baik saja, hubungan saya dengan istri pertama cukup harmonis,” tuturnya.

Bahkan, diakui Selvi, ia kerap dititipi anak suami dari istri pertama. “Bahkan, yang mengantarkan ke rumah adalah ibu kandungnya sendiri. Itu kalau beliau (istri pertama, red) mengajar di sekolah. Sedangkan sore harinya, anak-anak kembali dijemput ibu kandung mereka,” ujarnya. Sehingga, kata dia, saat menghadiri acara silarturahmi ini, ia dan istri pertama dari suaminya ini, kompak datang bersamaan.

Sementara itu, terkait pengakuan dari para istri-istri ini, Sekretaris Jenderal (Sekjen) FKPS Fakhruddin berharap, tidak ada lagi cibirin miring kepada pelaku poligami maupun keluarga-keluarganya. Sebab, jebolan UIN Sunan Gunung Djati ini, mengaku, poligami bukanlah hal yang dilarang dalam agama. Meski, diakui dia, suami yang berniat poligami harus benar-benar menguasai ilmu-ilmunya.

“Kalau hanya dorongan syahwat semata tanpa didasari ilmu, tujuan pernikahan poligami pun bisa melenceng,” tegasnya.
Hal ini, seperti diutarakan Pimpinan Umum Pondok Pesantren Internasional Asy-Syifa Wal Mahmudiyyah KH M Muhyiddin Abdul Qodir Al Manafi MA, pada tulisan pertama. Bahwa, untuk melakukan pernikahan maupun poligami, maka haruslah terlebih dahulu mengarungi ilmu-ilmunya. ”Dari awal, Rasulullah SAW telah menerangkan bagaimana rentetan ilmu untuk melakukan pernikahan maupun poligami. Karena, tujuan dari pernikahan maupun poligami ini bermuara pada tujuan beribadah kepada Allah,” bebernya.

Sehingga, kata Abuya, sapaan KH Muhyiddin, di kala ada istri mengizinkan suaminya menikah kembali dengan syarat minta diceraikan dahulu, para kaum lelaki pun harus introspeksi. Sebab, bila berniat berpoligami, sedangkan kepada istri terdahulu, suaminya tidak bisa mendidik, maka pernikahan-pernikahan selanjutnya pun tidak mustahil bakal terjadi permasalahan-permasalahan serupa. “Untuk itulah, perlunya ilmu mengarungi poligami ini, baik bagi kaum lelaki maupun kaum perempuan. Kedua-duanya harus saling memahami ilmunya,” tegas Abuya.

Sehingga, di saat antara suami dan istri saling memahami ilmunya, maka terciptalah hikmah-hikmah dari poligami itu sendiri. Terang Abuya, beberapa diantara hikmah tersebut, yakni menjadi wasilah dalam membangun kekuatan, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Yakni, dua kekuatan yang disatukan dengan cinta. Sehingga, tercipta kekuatan yang dahsyat. Dan, tentunya diantara suami maupun istri-istri itu, saling men-tarbiyyah (mengingatkan/mendidik), satu sama lainnya,” katanya. (*/habis)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.