oleh

Diskusi FKPS: Kaget, Dua Perempuan Minta Dipersunting Berbarengan (Bag 2)

Perkenalan peserta Silaturrahim & Rapat Kerja Nasional (Shilatkernas) Forum Keluarga Poligami Sakinah (FKPS), menjadi salah satu sesi yang penuh takjub dan gelak tawa. Semua peserta memiliki cerita masing-masing. Ada yang cukup berat mengawali poligami, tapi tidak sedikit yang berjalan mulus-mulus saja.

HANDRI S BUDIMAN, Haurgombong

HAMPIR semua peserta Silaturrahim & Rapat Kerja Nasional (Shilatkernas) Forum Keluarga Poligami Sakinah (FKPS), memiliki cerita sendiri tatkala mereka memutuskan untuk berpoligami. Tantangan pertama, adalah saat harus “menaklukkan” hati istri pertama, agar meridoi suami menikah kembali. Setelah itu, untuk melangkah pada pernikahan ketiga dan keempat, sepertinya tidak ada cerita sulit lagi.

Dan, di antara ratusan peserta itu, salah satu yang menjadi perhatian adalah Khosyirin Koco Woro Benggolo (42). Betapa tidak, di saat dirinya belum memiliki niatan menikah, justru dianugrahi dua bidadari yang siap dipinang. Memang, lelaki asal Lamongan ini, sepertinya menjadi satu-satunya pelaku poligami yang sama sekali tidak mengalami tantangan untuk menyakinkan istri pertama, untuk melakukan poligami.

Ceritanya, pada 2002 silam, Khosyirin mengaku sedang semangat-semangatnya memperdalam ilmu agama dan menjalani bisnis di Ibu Kota, Jakarta. Kala itu, iapun memiliki cita-cita tidak akan menikah terlebih dahulu, sebelum dirinya bisa keliling Eropa. Namun, di tengah-tengah harapannya itu, berdering suara telepon dari Ummi (panggilan untuk sang ibu) dari Lamongan.

“Saat itu, Ummi menelepon, hanya menyuruh saya agar pulang ke Lamongan. Padahal, cita-cita saya keliling Eropa belum terwujud. Namun, saat itu saya langsung menuruti keinginan Ummi, pulang ke Lamongan,” kisah Gus Koco, begitu ia kerap disapa di kalangan kawan-kawannya di Non Government Organization (NGO).

Nah saat tiba di Lamongan inilah, hatinya mulai berdebar. Belum seminggu berada di kampung halaman, ia di hadapkan pada calon istri yang memang dipersiapkan oleh ummi dan abi (ayah)-nya. Bukan hanya satu calon, melainkan dua perempuan cerdas yang siap dipinang.

“Saya sendiri sempat ngukur diri, apa kelebihan saya sehingga ada dua perempuan yang siap menjadi calon istri saya. Saya merasa ganteng, tidak. Malahan kedua calon istri saya itu, tergolong dua wanita cerdas. Yang pertama berprofesi dokter, satunya lagi kepala sekolah di Madrasah Tsanawiyah,” kenangnya menceritakan pertama kali bertemu kedua calon istrinya itu.

Namun, saat itu pria yang juga akrab disapa Gus Khos di kalangan pesantren di Lamongan ini, belum langsung memutuskan memilih salah satu di antara keduanya. Bahkan, untuk berpoligami saat itu, pun tidak terpikirkan dalam benaknya.

“Ya sudah, saya minta kedua calon istri saya itu, untuk melakukan istikharah (salat meminta pilihan yang terbaik di antara beberapa pilihan, red) dulu. Bukan saya menolak, tapi saya masih heran saja, kok keduanya mau-maunya menjadi istri saya secara bersamaan. Kan sudah dibilang, saya ini tidak ganteng,” ujarnya dengan nada sedikit bergoyon.

Selang beberapa hari, rasa kaget bukan main kembali dialami Khosyirin. Sebab, dua perempuan bernama dr Dasih Sutrisni dan Mariati Bibit Fitriani SPdI, itu justru meminta Khosyirin untuk menikahi keduanya.
“Jujur saja, saya sangat kaget dan tersanjung juga. Dua perempuan siap menikah dengan saya. Meski baru saling mengenal. Tapi, itulah jodoh yang ditakdirkan kepada saya dan dua perempuan yang saat ini menjadi istri-istri saya,” tutur lelaki yang kini memimpin Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMA) dengan 57 cabang dibawahnya.

Uniknya, pernikahan keduanya dilakukan secara bersamaan. Antara nikah secara agama dan nikah yang tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA), hanya berselang sepuluh hari. “Ternyata rasa cinta itu tidak harus dijalani melalui proses pacaran. Kami menikah pun hanya kenal beberapa hari saya. Namun, cinta dan sayang di antara kami, tumbuh secara alami seiring menjalani proses berumah tangga. Dan inilah keunikan kami, tidak ada istilah istri pertama maupun istri kedua. Ya karena nikahnya secara bersamaan,” katanya.

Lantas bagaimana proses menjalani malam pertama? “Oh itu sudah bukan lagi bahasan untuk publik. Yang jelas, kami menikah secara bersamaan tapi kami tidak tinggal dalam satu atap. Masing-masing istri tinggal di rumah yang berbeda,” jelas bapak empat anak ini.

Bahkan, saat ini dirinya dihadapkan pada pilihan kembali menikah untuk ketiga kalinya. Uniknya lagi, bukan Khosyirin yang mencari-cari istri. Justru dari istrinya yang berprofesi sebagai dokter itulah. Ia dikenalkan pada seorang perempuan yang berpofesi dokter, yakni spesialis bedah.

“Nih, istri saya ngirimin foto di WashUp. Foto seorang perempuan yang katanya dokter spesialis bedah. Mas mau menikah dengan dia,” tutur Khosyirin membacakan salah satu pesan di WashUp sang istri yang dikirim kepadanya. (bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed