oleh

Diskusi FKPS: Ternyata, Tidak Mudah Melakukan Poligami (bag 1)

Hingga saat ini, sebagian masyarakat masih menganggap poligami sebagai hal yang tabu. Yang menentang, pun tidak hanya kalangan wanita, namun kaum lelaki tidak sedikit yang mencibir. Namun, persoalan tabu itu, bagi pelaku poligami diharapkan tidak lagi menjadi persoalan di saat semuanya dikembalikan pada aturan yang ditetapkan Allah SWT dan Rasulullah SAW. Berikut liputannya.

Handri S Budiman, Haurgombong

Rona berseri, tampak terlihat dari wajah-wajah peserta Silaturrahim & Rapat Kerja Nasional (Shilatkernas) Forum Keluarga Poligami Sakinah (FKPS). Saat memperkenalkan diri di hadapan ratusan peserta Shilatkernas, mereka sangat percaya diri memiliki istri lebih dari satu. Bahkan semakin banyak istri–maksimal empat sesuai syariat ajaran agama Islam–,maka semakin riuh pula sambutan dari hadirin yang memenuhi ruangan pertemuan di kompleks Masjid Pondok Pesantren Internasional Asy-Syifa Wal Mahmudiyyah, Pamulihan, Sumedang, itu.

Tak hanya itu, Silatkernas yang digelar Sabtu (2/1), pun dihadiri kalangan kaum istri, baik istri pertama, kedua maupun seterusnya. Dari sikap para istri pun, satu sama lain, sangat terlihat akrab meski mereka memiliki suami yang sama. Tidak ada istilah istri tua maupun muda, semua berbaur saling menyemangati para suami yang duduk di barisan depan. Kondisi ini, sangat kontras dengan cerita-cerita dalam film maupun sinetron, dimana istri pertama seolah-olah merasa dinomorduakan, begitupula istri kedua yang seolah-olah digambarkan sebagai wanita perebut suami orang.

Malah, para istri ini pun duduk dalam satu karpet yang dibentangan di ruangan tersebut. Begitu pula dengan anak-anak yang mereka bawa. Tidak ada anggapan ibu tiri kepada istri kedua dan seterusnya. Justru, anak-anak sangat akrab bersama istri kedua dari ayah mereka. Terdengar, kepada ibu kandung menyebut dengan istilah “Ummi” (Ibuku, red) dan “Bunda” kepada istri kedua sang ayah. Sekali lagi, sangat terlihat kontras dengan cerita-cerita film maupun sinetron yang menggambarkan ibu tiri itu sebagai sosok yang kejam dan hanya mengincar harta suami.

Peserta yang hadir, pun tidak hanya dari Sumedang. Melainkan, banyak dari luar daerah. Seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan dan wilayah lainnya di tanah air. Ada yang turut membawa dua istri, tiga maupun empat-empatnya sekaligus. Dan, mayoritas usia para peserta, baik dari kalangan suami maupun istri, tergolong relatif muda-muda, di bawah 40 tahunan. Dan yang menarik, peserta yang hadir, ada yang masih berstatus memiliki satu istri. Dan, sebagian besarnya memang berniat mempelajari ilmu berpoligami.

Ya, setelah menyimak penuturan ceramah dari narasumber pertama, Pimpinan Umum Pondok Pesantren Internasional Asy-Syifa Wal Mahmudiyyah KH M Muhyiddin Abdul Qodir Al Manafi MA, ternyata memang tidak mudah melakukan poligami (beristri lebih satu). Ternyata, untuk berpoligami, para suami dituntut mempelajari dahulu ilmunya. Sehingga, saat menikah lagi, tidak ada perselisihan dengan istri pertama. Bahkan, saat suami berniat berpoligami, justru istri pertama mendukung. Begitu pula dengan istri kedua, mendukung saat suami hendak menikah untuk yang ketiga kalinya.

Bahkan, dengan guyonan khas kaum al fakir, beber Abuya, sapaan KH M Muhyiddin Abdul Qodir Al Manafi MA, untuk praktik poligami umumnya dilakukan empat golongan kaum lelaki. Pertama, ulama, karena mereka dianggap memenuhi syarat dengan keilmuannya. Kedua, pejabat. Dengan pangkat dan jabatannya, mereka diyakni bisa menafkahi dengan pendapatannya yang tergolong cukup besar. Ketiga, konglomerat. Yakni, dengan harta yang melimpah dinilai mampu menafkahi istri-istri dan anak-anak mereka. Sedangkan terakhir, kisah Abuya, adalah golongan orang gila.

”Kenapa yang terakhir ini disebut orang gila? Karena mereka berpoligami tidak didasari ilmu, tidak memiliki pangkat pula, harta pun tidak ada. Inilah poligami yang hanya didasari hawa nafsu belaka. Sehingga, dengan modal nekat ini, bukan keluarga sakinah yang terwujud melainkan huru-hara dalam rumah tangga sehingga melenceng dari maksud dan tujuan pernikahan,” beber Abuya.

Sebab, ujar Abuya, tujuan dari pernikahan maupun poligami itu, seharusnya mampu membentuk keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Sehingga, istilah ”Rumahku Surgaku” benar-benar bisa terwujud. ”Yakni, dalam artian mampu membangun rumah tangga yang didalamnya penuh sifat-sifat menuju ahli surga. Antara suami istri dan anak saling mengingatkan, khususnya dalam persoalan ibadah. Sehingga Rumahku Surgaku bukan menjadi slogan semata, namun benar-benar menuju pada ahli surga,” jelas Abuya yang juga mengaku berpoligami ini.

Untuk itu pula, Abuya menuturkan, untuk melakukan pernikahan maupun poligami, maka haruslah terlebih dahulu mengarungi ilmu-ilmunya. ”Dari awal, Rasulullah SAW telah menerangkan bagaimana rentetan ilmu untuk melakukan pernikahan maupun poligami. Karena, tujuan dari pernikahan maupun poligami ini bermuara pada tujuan beribadah kepada Alloh,” bebernya.

Sehingga, kata Abuya, di kala ada istri mengizinkan suaminya menikah kembali dengan syarat minta diceraikan dahulu, para kaum lelaki pun harus introspeksi. Sebab, bila berniat berpoligami, sedangkan kepada istri terdahulu, suaminya tidak bisa mendidik maka pernikahan-pernikahan selanjutnya, pun tidak mustahil bakal terjadi permasalahan-permasalahan serupa. Untuk itulah, perlunya ilmu mengarungi poligami ini, baik bagi kaum lelaki maupun kaum perempuan. Kedua-duanya harus saling memahami ilmunya,” tegas Abuya.

Sehingga, di saat antara suami dan istri saling memahami ilmunya, maka terciptalah hikmah-hikmah dari poligami itu sendiri. Terang Abuya, beberapa diantara hikmah tersebut, yakni menjadi wasilah dalam membangun kekuatan, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Yakni, dua kekuatan yang disatukan dengan cinta. Sehingga, tercipta kekuatan yang dahsyat. Dan, tentunya diantara suami maupun istri-istri itu, saling men-tarbiyyah (mengingatkan/mendidik), satu sama lainnya,” katanya.

Abuya mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW men-tarbiyyah istri-istrinya, sehingga mereka tidak hanya menjadi ibu rumah tangga, melainkan pendidik. Pendidik pun bukan hanya bagi anak-anaknya, melainkan keturunan-keturanannya sehingga menjadi orang besar. Begitu pula, para istri-istri nabi ini, dididik menjadi daiyah-daiyah bagi kalangan sahabat di kala itu,” kisah Abuya.

Selain itu, terang Abuya, hikmah dari poligami yang didasari niat beribadah kepada Alloh, akan membentuk kaum laki-laki yang lebih unggul dan lebih cerdas. Sebab, kaum laki-laki ini dituntut tidak hanya membentuk keluarga sakinah dalam satu keluarga, akan tetapi beberapa anggota keluarga dari istri-istri lainnya.

”Misalnya, laki-laki dituntut harus adil. Tentunya keadilan secara dzahir atau tampak. Kemudian, laki-laki juga dituntut untuk lebih cerdas dalam mencari nafkah bagi keluarga dan keturunan dari istri-istrinya. Begitu pula dengan kekuatan fisik, kaum laki-laki dituntut untuk melayani istri dengan sama. Dan, tentunya sang suami dituntut memiliki keilmuan sehingga bisa tercipta keluarga poligami sakinah,” tutupnya. (bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed