Drainase Buruk, Jalan Bandung Garut Tergenang

Drainase Buruk, Jalan Bandung Garut Tergenang

TERGENANG AIR: Beberapa kendaraan harus hati hati saat melintasi Jalan Raya Bandung-Garut yang kembali tergenang air, kemarin.

PEWARTA: ENGKOS KOSWARA/SUMEKS

Peran Pemerintah Kurang Maksimal

SUMEDANG – Kawasan Dwi Papuri di pinggir Jalan Raya Bandung-Garut, tepatnya di wilayah Desa Sukadana Kecamatan Cimanggung kembali tergenang air. Air juga menggenang sebagian badan jalan nasional di Km 27+500.

Ketinggian air mencapai kurang lebih 30 cm mengakibatkan pengendara harus hati-hati.

Naiknya air ke badan jalan sering terjadi ketika hujan mengguyur. Akibatnya, kemacetan pun tidak bisa dihindarkan.

Menanggapi persoalan itu Ketua Komunitas Jaga Lembur sekaligus tokoh masyarakat Cimanggung H Dedi Supriatna mengatakan terjadinya luapan air di sekitar Cimanggung lebih disebabkan kesalahan drainase. Drainase di kawasan itu jarang dibenahi, bahkan sama sekali tidak ada pembenahan.

“Banjir dalam kasus ini adalah disebabkan oleh kesalahan sistem dan konstruksi drainase. Pembuatan saluran drainase yang salah dan tidak teratur akan memperbesar peluang banjir,” ujar Dedi saat berbincang dengan Sumeks, kemarin (7/11).

Dikatakan, saluran drainse bermasalah ketika tidak mampu mengakomodir debit saat banjir. Banyak faktor yang menyebabkan konstruksi drainase tidak memenuhi kriteria aman.

Kata Dedi, pertumbuhan wilayah dan perkembangan industri menimbulkan dampak yang cukup besar pada siklus hidrologi. Sehingga, berpengaruh besar terhadap sistem drainase.

“Sebagai contoh ada perkembangan beberapa kawasan hunian yang disinyalir sebagai penyebab banjir dan genangan di lingkungan sekitarnya. Hal ini disebabkan karena perkembangan urbanisasi, menyebabkan perubahan tata guna lahan. Sedangkan, siklus hidrologi sangat dipengaruhi oleh tata guna lahan,” kata Dedi.

Menurutnya, setiap perkembangan wilayah harus diikuti dengan perbaikan sistem drainase. Tidak cukup hanya pada lokasi yang dikembangkan, melainkan harus meliputi daerah sekitarnya juga.

Dedi menuturkan, setiap kegiatan yang melibatkan lahan sebagai objek, seperti perumahan, perkantoran dan industri harus mempertimbangkan aliran air hujan. Pengembangan lahan biasanya diikuti penambahan lapisan kedap air yang berakibat pada peningkatan laju dan volume aliran permukaan.

Pada beberapa lokasi pengembangan lahan, terangnya, penambahan lapisan kedap air besar dan pembangunan kolam penahan mungkin diperlukan untuk mengontrol kenaikan aliran permukaan.

“Besarnya beban aliran yang diterima oleh sungai-sungai pada musim penghujan menyebabkan sering terjadinya banjir akibat luapan air sungai. Banjir juga umumnya disebabkan oleh kurangnya daerah resapan air,” katanya.

Selama ini, menurut Dedi, disetiap musim hujan selalu timbul masalah banjir yang meresahkan masyarakat di sepanjang saluran drainase. Itu terjadi akibat kurangnya kapasitas tampung saluran drainase itu sendiri.

“Berdasarkan kondisi tersebut, maka dipandang perlu untuk melakukan suatu perencanaan pembenahan drainase yang selama ini belum tersentuh oleh pihak terkait di pemerintahan,”ucapnya.

Dikatakan Dedi, diperlukan peran serta masyarakat dalam hal ini. Salah satunya dengan melakukan pendekatan parsuasif dengan melibatkan seluruh masyarakat yang ada dalam pembangunan sistem drainase.

“Di samping itu, peraturan yang menjangkau perilaku masyarakat harus berjalan dengan baik dan konsekuen, serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memelihara drainase, meningkatkan rasa memiliki dan meningkatkan sifat peduli terhadap lingkungan,” pungkasnya. (kos)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.