Dua Pelajar SMK Informatika Harumkan Sumedang Lewat Film

Peliput/Editor: ERWIN MINTARA D. YASA/SUMEKS

Dua Pelajar SMK Informatika Harumkan Sumedang Lewat Film

PAPARKAN: Sutradara Film Wakca, Baldan Muharrom sedang mempresentasikan isi darei Film Wakca, produksi dirinya dihadapan pelajar SMA se Sumedang, kemarin (25/8).(ERWIN MINTARA D. YASA/SUMEKS)

Angkat Tema Lingkungan di Ajang FLSN

Permasalahan sampah dan kerusakan lingkungan rupanya yang melatarbelakangi dua pelajar SMK Informatika Sumedang dalam membuat sebuah karya film pendek. Ya, film berdurasi beberapa menit ini mengangkat TPA Cibeureum Cimalaka yang kemudian lahir film berjudul Wakca.

ERWIN MINTARA, Kota
TAK ada yang beda dengan dua pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Informatika Sumedang ini. Ya, Badlan Muharrom dan Diky ini hamper sama dengan pelajar SMK seusianya. Yang membedakannya adalah keterampilannya dalam membuat film.

Dua anak ini telah membawa harum nama Sumedang di ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Provinsi Jawa Barat, yang dilaksanakan Juli 2018 lalu.

Di bawah bimbingan Ganjar Purnama, Baldan dan Diky terus berupaya tanpa kenal menyerah terus mengasah skillnya dalam membuat scene demi scene, frame demi frame, hingga menjadi sebuah film pendek.

Kegigihan dan totalitas mereka dalam membuat film pendek yang diikutsertakan pada festival tersebut ternyata membuahkan hasil yang membanggakan. Tidak hanya bagi almamater SMK Informatika Sumedang saja, tapi juga membawa nama harum Kabupaten Sumedang.
Film pendek hasil karya SMK Informatika Sumedang yang berjudul “Wakca” ini merupakan film karya dari Badlan Muharrom sebagai Sutradara dan Diky sebagai penulis. Film yang berdurasi hampir 10 menit ini menceritakan sebuah lingkungan yang tercemari oleh sampah yang sudah menggunung.

Sebagai rasa bersyukurnya, pembuat film Wakca ini mengajak kepada kawan-kawan SMK se-Sumedang, komunitas seni dan aktifis lingkungan untuk mengadakan Bedah Film Wakca dan Diskusi Lingkungan.

Bedah film Wakca dan Diskusi lingkungan dilaksanakan kemarin Sabtu (25/8), yang berlokasikan di Industri Kopi, Jalan Kutamaya Nomber 8A. Pada acara Bedah Film Wakca dan Diskusi Lingkungan ini dihadiri oleh perwakilan-perwakikan siswa SMA se-Sumedang.

Rangkaian acara dalam kegiatan Bedah Film Wakca dan Diskusi Lingkungan seperti biasanya pembukaan-pembukaan dari MC, tiga lagu Akustikan, dua stand up komedi, pemutar film Wakca, membedah film Wakca, diskusi lingkungan dan penutupan.

Dalam kegiatan Bedah Film Wakca dan Diskusi Lingkungan ini dihadirkan pasilitator yang handal dibidangnya, seperti Badlan sebagai sutradara film Wakca, Diky sebagai penulis film Wakca, Ganjar Purnama sebagai penikmat seni dan Jibriel Sopyan sebagai aktivis lingkungan.

Dalam bedah film Wakca, Baldan selaku sutradara dari film tersebut menjelaskan, film Wakca merupakan film yang menerangkan kenyataan alam di TPA Cibeureum-Cimalaka. Kata Wakca itu berasal dari bahasa Sunda, yang artinya kenyataan atau terus terang.

“Film ini berasal dari keresahan-keresahan kami saat melihat fakta yang ada di Cimalaka, kami mengekspresikan keresahan yang ada lewat film ini. Karena kalau bisanya alam itu di ekspos dengan alam yang indah dan bagus saja, nah disini kami bahas alam yang ruksak dampak ulah manusia itu sendiri,” jelasnya.

Pada film Wakca ini terlihat sosok perempuan bertopeng yang menari ditengah-tengah tumpukan sampah dan ibu-ibu yang dibungkus kepalanya memakai plastik sedang membuang sampah di TPA Cibeureum tersebut.

“Ya benar, penari itu mengisyaratkan sosok yang resah terhadap lingkungan, memakai topeng mengisyaratkan kegelisahan atau kemarahan mencari jati diri. Dan ibu-ibu yang berdaster mukanya ditutupi plastik itu mengisyaratkan masyarakat yang membuang sampah sembarangan tanpa mengenal resikonya,” katanya.

Proses pembuatan film Wakca ini dibutuhkan pengorbanan serta ujian yang berliku-liku dalam pembuatab film ini. “Kami shooting berangkat ke TPA Cibeureum itu pukul 19.00WIB, kami ngecamp di sana. Shubuhnya kami mulai shooting sampai jam 11.00, kami melakukan Shooting di TPA Cibeureum, Sasak Dua dan Pasar Cimalaka,” bebernya.

Dalam pembuatan film ini pun, lanjut dia, dihadapkan dengan permasalahan yang sedemikiannya. “Dalam pembuatan film ini kami tiga kali revisi, yang pertama shooting tidak puas, kedua munculnya ide dan tempat baru dan ketiga saat kami muncak Tampomas kami melihat sampah di sekitarnya,” ujar sutradara film Wakca Baldan.

Sementara itu, Diky selaku penulis film Wakca membeberkan perasaannya setelah mewakiki Sumedang dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (LFS2N) tingkat Jawabarat. Kata-kata bijak mengatakan, proses itu tidak akan menghianati hasil, ujian dan permasalah sudah kami lalui saat pembuatan film ini.

“Kami sangat bahagia karena telah menyelesaikan film Wakca ini, karena dengan film ini kami bisa menyampaikan pesan, keresahan, kegelisahan kita terhadap lingkungan,” tuturnya.

Pihaknya pun berharap film ini bisa mengingatkan lebih kepada teman-teman Sumedang agar selalu bijak dalam mengelola sampai jangan sampai kita membuat bencana dengan membuang sampah.

“Alam ini mari kita jaga, mulai dari sekarang mari kita bekerjasama untuk melindungin alam ini, karena waktu dulu juga Presiden Soekarno pernah mengatakan bahwa Sumedang itu terkenal dengan puser budaya dan kebersihannya,” harapnya. (**)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.