Dualisme Parpol Penyebab Pecah

Peliput/Editor: NET

Dualisme Parpol Penyebab Pecah

WAWANCARA: Pakar Politik dan Ilmu Pemerintahan Universitas Parahyangan Bandung Prof. DR. Asep Warlan Yusuf saat memberikan keterangan.

KOTA – Jelang pelaksanaan Pemilu munculnya dualisme partai kerap terjadi. Dan hal itu jelas akan memecah suara pada perolehan suara Pilkada. Menurut pakar politik dan ilmu pemerintahan Universitas Parahiyangan Bandung Prof. DR. Asep Warlan Yusuf, disebabkan oleh tiga faktor.

Ketiga faktor tersebut sanggup memecah suara yang ada didalam tubuh partai politik dalam memberikan dukungannya.

“Pertama, kurang solidnya, kurang kompak nya dan kurang bersamanya diantara pengurus partai. Jadi soliditasnya kurang sehingga suaranya jadi pecah,” kata Asep ketika dihubungi Sumedang Ekspres melalui telepon seluler, Kamis (14/12).

Menurutnya, lanjut Asep, ketidak solidan tersebut kemungkinan besar dipicu akibat tidak adanya wibawa dari para petinggi partai politik.

“Terjadi seperti itu karena mungkin tidak ada wibawa dari pengurus partainya. Sehingga terjadilah pecahnya dukungan itu,” ujarnya.

Faktor kedua, Asep mengatakan kemungkinan terjadi dari sisi perbedaan dalam hal kepentingan masing-masing.

“Ketika beda itulah nyambungnya kepada siapa yang cocok dengan jalan partai itu atau kepentingan si pasangan,” terangnya.

Adapun yang menarik dari kepentingan tersebut, setiap partai memiliki kepentingan yang berbeda. Bahkan bisa juga memiliki kepentingan yang sama. Diantaranya yang memiliki kepentingan secara idealisme, kepentingan secara pragmatis, dan ada juga yang lebih kepada kepentingan transaksional.

“Disitulah, siapa yang nyambung itulah yang menjadi dukungan. Jadi ini kepentingan antara si pengurus dengan calon yang didukung,” sebut Asep.

Sementara faktor ketiga menurut Asep dikarenakan partai politik memiliki sifat Sentralistik, Oligarkis, Elitis dan Up down dari pusat. Walaupun di daerah sudah kompak, akan tetapi di pusatnya masih memiliki problem. Sehingga menyebabkan tergantung kepada siapa rujukan dari daerah untuk dibawa ke pusat.

“Oleh karena itu boleh jadi berbeda dukungan ke bawahnya. Karena yang menjadi problem itu di pusat. Seperti misalnya yang saat ini alami dualisme itu PPP,” tutupnya. (bay)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.