Gojek Belum Diizinkan di Sumedang

Peliput/Editor: Asep Herdiana/Iman Nurman

Gojek Belum Diizinkan di Sumedang

TEMPAT DAFTAR: Sejumlah kendaraan roda dua terparkir di Komplek GIM yang menjadi lokasi untuk pendaftaran gojek. (ASEP HERDIANA/SUMEKS)

SUMEDANG – Pemerintah Kabupaten Sumedang melalui Dinas Perhubungan, sejauh ini belum pernah mengeluarkan izin terkait gojek. Meskipun beberapa hari lalu, ada pendaftaran untuk peserta angkutan berbasis online hingga terdaftar puluhan anggota.

Kabid Angkutan pada Dinas Perhubungan Aep Saepudin, mengakaui kalau pihaknya tidak mengetahui di Sumedang ada pendaftaran peserta gojek. “Terus terang saya tidak tahu ada proses pendaftaran peserta gojek di Sumedang, karena memang pihak dishub sendiri tak pernah memberikan izin. Jangankan izin, koordinasi untuk penerimaan peserta saja tak ada,” katanya kemarin (30/7).

Sejauh ini, memang belum ada peraturan perundangan undangan yang mengatur tentang gojek tersebut. Sehingga untuk di Kabupaten Sumedang, mana bisa ada gojek sepanjang peraturannya belum ada. Namun untuk beberapa kota dengan katagori kota metropolitas memang ada aturannya tentang gojek. Sementara Sumedang sendiri bukan kota metropolitan.

“Untuk beberapa kecamatan di Sumedang seperti Jatinangor, Tanjungsari dan Cimanggung memang masuk dalam kawasan metropolitan area Bandung, dan bisa dilakukan kendaraan online. Namun untuk roda empat bukan roda dua, itupun prosesnya masih belum tuntas,” terangnya.

Jadi lanjut Aep, dirinya merasa heran ketika di Sumedang ada informasi pendaftaran gojek yang dilakukan salah satu perusahaan. Dan dengan adanya gojek yang tiba-tiba muncul di Sumedang, jelas akan menimbulkan gesekan dengan pengendara ojek tradisional. Apalagi kalau keberadaannya tanpa izin dan aturan yang jelas sehingga rawan tindak pidana.

Sementara itu informasi di lapangan, pihak EO gojek Traveloka telah membuka pendaftaran di Kabupaten Sumedang dengan menyewa tempat di Gedung Graha Insun Medal (GIM). Namun demikian, dari rencana membuka pendaftaran, ternyata hanya berjalan sekitar empat hari saja menyusul adanya ketidak beresan soal izin. Dan selama waktu itu, sedikitnya ada 80 peserta yang mendaftar dengan latar belakang profesi yang berbeda.

“Ah saya mah iseng saja daftar, lumayan langsung menang jaket dan juga gratis daftarnya,” terang salah seorang peserta yang sempat di temui di Komplek GIM. (her)

Komentar

10 Responses to "Gojek Belum Diizinkan di Sumedang"

  1. Putra sumedang  9 September 2017 at 6:44 PM

    Inilah pikiran orang2 yang ga mau maju. Kaku ga mau menerima teknologi… sementara transport yg sekarang mahal dan tidak nyaman apalagi aman

    Balas
  2. Usep  20 September 2017 at 7:46 AM

    Duh sangat disayangkan sekali min kalo go jek mulai beroprasi, yah itu pasti meningkatnya tindak kriminal bakal kles antara ojek pangkalan dengan go jek! Ngeri pokonya, walaupun kehadiran go jek ada sisi baiknya bagi pengembangan tranportasi sumedang namun bakal lebih banyak negatitifisme nya!

    Balas
  3. Denny Loureiro  3 Oktober 2017 at 6:57 PM

    Sangat disayangkan, kendaraan berbasis online se-engganya dapat memperkecil angka pengangguran di kota sumedang,huft…

    Balas
  4. djadja  22 Oktober 2017 at 9:36 PM

    ketika “yang murah, yang praktis dan yg cepat” dilarang. seharus nya pemerintah atau institusi terkait mengijinkan adanya angkutan Online. karna apa? masyarakat membutuhkan angkutan berbasih online yg MURAH, CEPAT, dan PRAKTIS.seharusnya juga kita mengikuti zaman. zaman skrg sgala sudah praktis dan ONLINE jadi kenapa harus di larang2. biarkan sumedang maju seperti kota2 lainnya, biarkan org2 khususnya mahasiswa mencari uang sndiri dengan cara menjadi ojek online tersebut.TOH UANGNYA HALAL

    Balas
  5. Zaki  4 November 2017 at 7:01 PM

    Klo gk mau jdi kriminal knpa gk ikut jdi ojek online?
    Ceuk papatah kolot ge ” kudu mi indung ka waktu mi bapa ka zaman”. pasrah wae atuh teu mampuh mah

    Balas
  6. Ades  9 November 2017 at 6:48 AM

    Kemajuan teknologi itu harus,kenapa di halanghalangi

    Balas
  7. Andri  11 November 2017 at 1:15 AM

    Namanya teknologi nah gak bisa dibendung, lambat laun juga ojek pangkalan bakal diganti sama online semua. Gini pola pemikiran pendidikan rendah mah. Dulu pas ada delman kemudian digantikan angkot apakah mereka demo besar besaran ? Apakah kuda delman pada kabur ? Tidak, mereka menerima kemajuan teknologi dengan lapang dada. Nah kenapa sekrang disaat ada ojek online dan taksi online serasa semua bagai perang dingin ? Harusnya semua pihak itu bermusyawarah bersama. Pro kontra emang selalu ada terlepas dri smua itu saya mah berfkir buat kemajuan kota sumedang kenapa gk boleh sih. Kalau ngebahas rejeki mah percaya alloh mah maha adil. Tong sirik k rejeki batur banyak berdoa dan ikhtiar kuncina !!!!

    Balas
  8. Deviana  20 November 2017 at 11:18 PM

    Untuk orang2 yg berpikiran ortodok, yg hidupnya gak mau maju gak mau berubah mungkin kehadiran gojek menjadi halangan. Padahal gojek yang berbasis online sangat besar manfaatnya. Di era yg serba digital, kemajuan teknologi bukan untuk dihindari tapi kita mau gak mau harus bisa beradaptasi. Makanya tinggal pilih kalo mau tetap hidup, ya hrs melek teknologi. Kalo tidak ya kita modar.

    Balas
  9. Ade pongky  10 Januari 2018 at 12:28 AM

    Saya sangat SETUJU dengan adanya GOJEK beroperasi di kota Sumedang.karena membantu masyarakat dalam transportasi super murah dan angka pengangguran…harusnya pemda setempat mendukung

    Balas
  10. Dicky  15 Februari 2018 at 5:06 PM

    Jangan menyalakan GO-JEK, angkutan berbasis online juga karena menuruti kebutuhan masyarakat yg berpikir maju dan tau teknologi. Apa salahnya ojek pangkalan ikut Go-Jek sambil mangkal juga, kan penghasilan bisa Doble.
    Mikir tuh panjang, jangan pendek. Emg zaman makin maju cukup dgn mangkal aja… Coba d pikirkan !

    Balas

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.