Gunung Geulis Banyak Dialihfungsikan

Peliput/Editor: IMAN NURMAN

Gunung Geulis Banyak Dialihfungsikan

KAKI GUNUNG: Salah satu sudut Kaki Gunung Geulis ini telah banyak dialihfungsikan. (Foto: DOK/SUMEKS)

CIMANGGUNG – Kawasan Gunung Geulis yang berlokasi di tiga kecamatan yakni Cimanggung, Jatinangor dan Tanjungsari, banyak dialihfungsikan menjadi lahan perumahan. Akibatnya, ekosistem di gunung tersebut rusak. Banyak tumbuhan yang tadinya menyerap air, menjadi tidak berfungsi karena ditebang dan dijadikan areal pemukiman.

Ketua Forum DAS Citarum Korwil Sumedang Saepudin mengatakan, hampir sebagian wilayah di kaki Gunung Geulis baik di Cimanggung, Jatinangor dan Tanjungsari, sudah beralihfungsi.

“Kalau berbicara banjir jangan di hilir saja, tetapi harus dari hulunya. Misalkan gunungnya harus hijau dan saluran airnya jangan dirusak. Kalau hulunya rusak ya banjir pasti ke daerah yang lebih rendah,” kata Saepudin, kemarin (7/11).

Terpisah, Dosen Ilmu Hayati ITB Dr Yayat Hidayat juga menuturkan, selain aturan dari pemerintah harus tegas, penggarap lahan (petani) juga harus diberikan wawasan mengenai cara bertani yang baik. Sebagai contoh, lahan perbukitan tidak baik ditanami singkong.

“Hal ini sangat riskan terjadinya erosi tanah yang tinggi pada saat panen di musim hujan. Kenapa karena ketika memanen singkong otomatis tanah akan terangkat. Ketika hujan maka tanah akan terbawa air hingga jadilah banjir lumpur,” katanya.

Maka alternatif lain, katanya, bisa diganti dengan tanaman yang apabila dipanen tidak digali (dicabut akarnya). Seperti tanaman kopi dan lada perdu. Praktik menanam rumput di tebing teras, pun dapat menahan erosi tanah dan menjadi pasokan pakan ternak warga.

“Menanam tanaman kopi dan lada memiliki resiko erosi tanah yang rwndah dan nilai ekonomi yang  lebih tinggi ketimbang menanam singkong atau umbi-umbian, meskipun waktu panen perdananya butuh waktu lebih lama,” tuturnya.

Sebagai contoh menanam kopi perlu waktu dua tahun untuk memanenya. Tetapi setelah dua tahun bisa dipanen tiap enam bulan. Kemudian buah-buahan seperti nangka, mangga, jengkol, petai bisa menjadi alternatif tanaman yang ditanam di daerah lereng.

ITB sendiri, kata dia, mengelola beberapa kawasan hutan yang dijadikan hutan pendidikan. Seperti yang ada di Jatiroke Jatinangor, Cikahuripan dan Sawahdadap Cimanggung, Cinanjung Tanjungsari dan Mangunarga Cisempur.

“ITB diberi kewenangan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengelola  Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Gunung Geulis seluas 338, 31 ha sebagai hutan pendidikan, yang berlokasi di Kabupaten Sumedang Jawa Barat.  Dalam hal ini ITB diberi amanah untuk mengelola KHDK hutan pendidikan Gunung Geulis  dengan baik berdasarkan data saintifik dan memberikan dampak kepada pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitarnya, meuwujudkan moto “leuweung hejo masyarakat ngejo,” jelasnya. (imn)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.