oleh

Gunung Kacapi Berkobar, Api Muncul saat Azan Magrib

KOTA – Api yang berkobar di blok Gunung Kacapi, Desa Bojongjati, Kecamatan Sumedang Utara, Jumat (16/10) petang, justru disambut sukacita sebagian warga setempat. Pasalnya, berdasarkan kepercayaan sebagian warga, hal itu jadi pertanda musim penghujan segera tiba. Mitos itu, sudah turun temurun dari leluhur dan tokoh masyarakat setempat.

“Kalau Gunung Kacapi ini sudah terbakar, maka ini pertanda akan segera turun hujan. Tahun lalu juga seperti itu (terbakar, red). Dan, tak lama hujan yang dinantikan turun juga,” kata Maman Jaelani (65), salah seorang warga setempat.

Maman yang bermukim di kaki bukit tersebut, mengatakan, api mulai terlihat sekitar pukul 17.45. Awalnya berasal dari bukit sebelah selatan, yang kemudian merembet hingga ke sebelah utara. “Awalnya di bukit sebelah utara, karena lahannya kering dan angin kencang, jadinya merembet sampai ke daerah sini,” ujarnya yang memperhatikan api dari jauh.

Perkiraanya, lahan yang terbakar itu, merupakan perkebunan warga yang sudah tidak ditanami di musim kemarau. Sebab, hampir seluruh lahan di blok Gunung Kacapi itu merupakan lahan tadah hujan, yang biasa ditanami palawija atau tanaman keras.
“Kalau musim kemarau ya dibiarkan kering saja, karena tidak ada air. Kecuali saat musim hujan, baru ditanam palawija. Selebihnya, hanya tanaman keras, ” terangnya.

Sementara itu, warga lainnya, Endah Juhariah (61), tidak terlalu khawatir dengan insiden tersebut. Sebab, permukiman warga jauh dari sumber api, dan jikalau sudah mendekat maka warga sudah siap-siap memadamkan api agar tidak merembet ke rumah warga. “Ya kami waspada saja, kalau sudah dekat kami baru bertindak,” ujarnya. (her)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed