Guru Tonggak Kemajuan Bangsa

Peliput/Editor: IMAN NURMAN/SUMEKS

Guru Tonggak Kemajuan Bangsa

SYUKURAN: Forkopimka Jatinangor mengucapkan selamat Hari Guru Nasional pada upacara HUT PGRI, kemarin. (IMAN MURMAN/SUMEKS)

JATINANGOR – Ratusan guru se-Kecamatan Jatinangor mengikuti Upacara Peringatan Hari Guru Nasional ke-73 bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka) Jatinangor di halaman kantor Kecamatan Jatinangor, Senin (26/11).

Camat JatinangorSyarif E Badar mengatakan, memaknai peringatan hari guru berarti mengaitkannya dengan sejarah. Berdasarkan referensi yang didapat, lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia.

PGRI, kata camat merupakan cikal bakal organisasi guru pertama di Indonesia. Yang mana, hingga hari ini organisasi PGRI diisi oleh para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah.

“Diperingatinya setiap tanggal ini, sebagai Hari Guru Nasional adalah berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 78 Tahun 1994 sebagai bentuk penghormatan kepada guru,” ujarnya.

Menurut Syarif, guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Kenapa dia disebut dengan pahlawan? tentunya, karena seorang guru sangat memberikan pengaruh bagi kehidupan manusia di muka bumi.

“Sosok seorang guru, memang berbeda dengan pahlawan yang gugur di medan perang, pahlawan yang rela mengorbankan jiwa dan raganya. Namun, guru adalah orang yang mau membagikan ilmunya, menjadi sosok pengganti orang tua di sekolah. Seseroang yang mampu mengubah pola piker, sehingga bisa mengubah hidup kita menjadi lebih baik,” terangnya.

Di tempat yang sama, Danramil 1005 Jatinangor Kapten Inf Rudhi Prasetijo berpendapat, siapapun orangnya pasti sudah mengetahui siapa yang disebut dengan pahlawan tanpa tanda jasa. Karena itulah, guru disebut dengan pahlawan tanpa tanda jasa. Tidak seperti pahlawan yang gugur di medan perang yang diberi gelar pahlawan reformasi, pahlawan revolusi dan pahlawan nasional.

“Guru mungkin tidak berharap ucapan selamat dari kita, tidak berharap hadiah dari kita, kejutan indah dari kita tapi sudah semestinya kita memperlakukannya secara istimewa seperti orangtua kita. Karena mereka adalah orangtua pengganti jika di sekolah. Tanpa mereka kita tidak bisa membaca, tidak bisa menulis, tidak bisa berhitung,” katanya.

Tanpa mereka, lanjut Danramil, seseorang tidak bisa menjadi seorang profesor, dokter, ataupun profesi yang saat ini dimiliki. Karena mereka adalah pahlawan semua, pahlawan tanpa tanda jasa. “Seorang yang memberikan jasa yang tidak bisa dibayar dengan apapun karena pengabdian mereka yang murni, tulus berbagi ilmu,” ucapnya.

Dikatakan, Rudhi, setiap orang tidak harus memberikan hadiah yang indah kepada mereka, ucapan selamat yang berlebihan, tetapi cukup menghormatinya, menghargainya dan menyanyanginya.

“Dan yang paling penting, anggaplah dia sebagai orangtua kita sebagaimana beliau menganggap kita sebagai anak mereka sendiri. Semoga, kita bisa mengambil maknanya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan, dan semoga para guru yang ada di Indonesia selalu berjaya,” katanya.

Sementara, Kepala PGRI Jatinangor Yayat Ruhiat mengatakan, dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional ke-73, PGRI Jatinangor telah menggelar berbagai perlombaan khususnya di bidang olahraga yang diikuti setiap guru dari berbagai SD, SMP dan SMA se-Kecamatan Jatinangor. (imn)

 

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.