Hanya 11,6 Persen Bumdes yang Aktif

CIMANGGUNG – Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), menjadi lembaga usaha yang bisa memberdayakan masyarakat desa. Namun dari 74.910 desa yang baru mempunyai bumdes, sebanyak 18.446 desa (24,68%) dari jumlah itu hanya terdapat 2.146 yang aktif atau hanya sekitar 11,63%.

Seperti dikatakan Sekcam Cimanggung Juni Sujatnika, dalam sebuah acara pelatihan bumdes di Desa Sindangpakuon, kemarin (17/7). “Jadi 75% desa yang ada di Indonesia belum mendirikan Bumdes. Kenapa karena pertama bingung/belum paham, kedua trauma, ketiga kesulitan SDM, keempat ragu-ragu atau takut karena tidak memahami payung hukumnya dan kelima merasa tidak punya potensi,” katanya.

Menurut Sekcam, selain kelima alasan itu, ada juga yang merasa tidak punya modal. Padahal dalam PP 43/2015 dan UU Desa Nomor 6/2014, bahwa sumber-sumber penyertaan DD bisa digunakan untuk penyertaan modal di bumdes. Sementara sumber lain bisa digali dari masyarakat.

“Ada yang ragu-ragu berkaitan dengan aturan karena pada pasal 87 UU desa menyatakan desa dapat membentuk bumdes sehingga menimbulkan opini sebagai pilihan. Sedangkan apabila tidak membentuk, desa akan kehilangan kesempatan besar untuk menjadi pemain bukan penonton mengelola aset-aset desa,” tuturnya.

Lanjut Juni, apabila dikelola pihak lain, maka desa akan menjadi penonton, buruh atau karyawan saja dan penikmat kekayaan desa orang orang di luar desa. Dengan bumdes, maka desa mempunyai kesempatan luas untuk merubah nasibnya dengan memgelola potensi yang ada di desanya untuk kemakmuran masyarakat desanya.

“Kenapa desa tidak sejahtera karena PADes kecil, maka stategi terbaik adalah dengan Bumdes. Untuk pengembangan bisnis dikenalkan Kanvas Model Bisnis yaitu Segmen Pelanggan, Value propitions (proposisi nilai) mis kualitas, kuantitas dan harga. Kemudian, saluran, bagaimana kita mencapai pelanggan cari perusahaan berkomunikasi dengan pelanggan, Hubungan pelanggan, Revenue streams, arus pendapatan, nilai apakah pelanggan mau benar-benar membayar, dan Key resources sumber daya utama (manusia, branding dll),” jelasnya.

Selain itu, ada juga faktornya Key activities, Key partnership (supplier, investor, pengelola, Cost structure (gaji pegawai, biaya operasional dll). Sementara itu bagi sebagian bumdes yang masih dalam tahap belajar maka pendampingan dan penyertaan pengurus Bumdes untuk mengikui pelatihan di institusi yang terpercaya merupakan solusi terbaik. Disamping pemberian motivasi, bimbingan dan pembinaan dari pihak manapun sangat diperlukan.

Acara pelatihan ini, lanjut Sekcam berisi tentang Prukades (Produk Unggulan Kawasan Pesesaan), Embung Desa, Raga Desa (Sarana Olahraga Desa). (imn)

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.