oleh

Harga Rokok Naik, Nasib Petani Tembakau Terancam APTI Tomo Tolak Kenaikan Cukai

Isu kenaikan cukai tembakau, membuat banyak petani tembakau resah. Sebab, dengan naiknya cukai tembakau, otomatis harga rokok akan naik. Imbasnya, para konsumen rokok dihawatirkan beralih ke komoditas lain selain rokok. Begitu pula, yang terjadi kepada para petani tembakau di Kabupaten Sumedang, termasuk di Kecamatan Tomo dan Paseh.

Para petani tembakau di Kecamatan Tomo, banyak tersebar di Desa Jembarwangi, Desa Mekarwangi dan Desa Darmawangi. Para petani tersebut, menanam tembakau kurang lebih di lahan seluas 470 hektar.

Para petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kecamatan Tomo, siap ikut melakukan aksi menolak kenaikan cukai tembakau. Hal itu, diungkapkan salah seorang pengurus DPK APTI Kecamatan Tomo, Rohendi.

“Kami akan mengikuti aksi menolak kenaikan cukai tembakau. Sebelum ke Jakarta, kami akan bergabung, dan berkumpul dengan APTI dari Kecamatan lainnya di Sumedang,” kata Rohendi kepada Sumeks, melalui selulernya, Rabu (24/8).

Rohendi menambahkan, kenaikan cukai tembakau akan menyengsarakan para petani tembakau di Kecamatan Tomo. “Sehingga, para petani tembakau di Kecamatan Tomo, akan kehilangan penghasilan utama mereka,” ujarnya.

Dikatakan Rohendi, setiap hektar lahan akan menghasilkan kurang lebih 1,7 ton tembakau. Sementara, harga setiap kilogramnya, dipatok sekitar Rp3000. Maka, kata dia, dalam satu hektar, para petani akan kehilangan sebanyak Rp5,1 juta penghasilan kotor dalam sekali tanam.

“Hal itu, merupakan jumlah yang cukup besar bagi para petani tembakau,” jelasnya.

Terpisah, DPK APTI Kecamatan Paseh, Ana mengatakan, para petani tembakau di Kecamatan Paseh, juga merasa keberatan dengan kenaikan cukai tembakau. Menurutnya, tembakau dengan harga tinggi ataupun harga rendah, yang dirasakan para petani tetap saja.

“Kami sebagai petani tembakau, tetap seperti itu-itu saja. Tidak akan ada kemajuan ataupun peningkatan yang dirasakan. Apalagi, apabila cukai dinaikkan akan mematikan pencaharian petani,” jelasnya.

Dikatakan Ana, sebanyak kurang lebih 200 petani, akan kehilangan sebagian mata pencaharian apabila wacana cukai tembakau dinaikan terwujud. Mereka, katanya, menanam di lahan kurang lebih 30 hektar.
“Setiap hektarnya akan menghasilkan panen tembakau sebanyak satu ton pertahun sekali tanam. Sehingga para petani, akan kehilangan sebanyak 30 ton tembakau pertahun,” tuturnya.

Ana mengharapkan, harga tembakau wajar-wajar saja, tidak ada kenaikkan. Bagi para petani, hal itu cukup untuk menghidupi keluarga mereka.

“Harga yang wajar sudah cukup. Terpenting, budidaya dan pemasaran dari tembakau itu sendiri lancar,” tutupnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed