oleh

Hidup Sederhana

Bismillaahir rahmaanir rahiym.
Alhamdulillah. Shalawat dan salam bagi Sayyidina Muhammad beserta Keluarga, para sahabat, dan umatnya. Amin yra..
Hidup sederhana adalah kondisi kehidupan yang sering didengar dan cukup familier bila mendengar kalimat itu. Namun hingga kini belum membaca kriteria yang disepakati dan sebuah testimoni hidup sederhana itu seperti apa. Namun demikian penulis memberanikan diri untuk memunculkan topik ini untuk berbagi pemikiran berdasarkan kemampuan yang ada selama ini.
Hidup sederhana adalah kemampuan mengelola kehidupan dengan cukup terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan pokok walaupun potensi melebihinya. Orang hidup miskin dan mengkonsumsi apa adanya serta hidup yang paspasan dengan memanfaatkan yang sudah ada, tidak termasuk kriteria hidup sederhana. Apalagi kalau hidup lebih besar pasak daripada tiang. Hidup sederhana itu ada pada orang berada (kaya) tapi tidak serta merta kekayaannya dijadikan sumber kemewahan hidupnya apalagi foya-foya (konsumtif).
Bila yang miskin atau yang pas-pasan hidup apa adanya, itu biasa, memang harus begitu. Tapi kalau orang berada (kaya) hidup “sederhana”, itu luar biasa. Karena hidup sederhana sesungguhnya merupakan “buah” dari kemampuan mengendalikan diri atau nafsunya, sehingga harta yang ada bisa disyukuri dan dikelola dengan baik dan mengikuti syari’at Islam. Demikianpun yang miskin dan pas-pasan bisa hidup apa adanya, tidak lebih besar pasak daripada tiang, asal dalam konteks tasyakur, juga luar biasa.
Namun kini realita masih menunjukkan ketimpangan atau kesenjangan miskin dan kaya itu masih cukup tinggi. Penyebabnya bermacam-macam. Bisa karena faktor kebijakan (termasuk kurangnya lapangan kerja), sumberdaya manusia (termasuk pendidikan belum mengantarkan alumni siap kerja), kurangnya motivasi dari lingkungan termasuk keluarga, dsb.
Kondisi ini disatu sisi merupakan sunnatullah tapi di sisi lain merupakan tantangan dan tugas manusia untuk bisa meminimalisir tingkat kesenjangan itu. Manusia sebagai makhluk yang diberikan kelebihan oleh Allah dengan sumber daya yang lebih lengkap dibandingkan dengan makhluk – makhluk lainnya.
Kondisi ini juga menunjukkan belum bisa bersinerginya antara pemerintah, kaum aghniya dan masyarakat miskin. Bila para pihak sudah bersinergi, maka hidup sederhana bisa membudaya dalam kehidupan kaum aghniya, kerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan di kalangan miskin juga akan bergerak semarak, dan pemerintah pun akan mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan visi – misi yang telah disepakatinya.
Berdasrkan akhlak yang mulya, maka dengan hidup sederhana in syaa Allah tidak akan ada KKN, dengan hidup sederhana karyawan akan memiliki etos kerja yang tinggi. Dengan hidup sederhana tidak akan ada persaingan yang tidak sehat. Eksekutif, legislatif, dan yudikatif akan terjalin mitra yang berkualitas tinggi.
Untuk itulah Islam mengajarkan agar kaum kaya (aghniya) berbagi. Maka ada kewajiban bersyukur dan zakat. Demikian pula pada setiap orang, apalagi orang miskin, agar bekerja keras berjuang untuk mencukupi kehidupannya.
Baik terhadap orang kaya maupun terhadap orang miskin, Allah mengingatkan ancaman-Nya bila “membangkang”.
Di akhirat nanti setiap manusia akan akan diminta pertanggung jawaban dalam hal antara lain :

  • tentang usia (hidup) digunakan untuk apa saja?
  • tentang ilmu, apakah diamalkan?
  • tentang harta (ditanya dua hal) dari mana sumbernya/cara memperolehnya dan digunakan apa.
    Kemudian Allah mengingatkan secara keras terkait kekayaan dan pola hidup, antara lain :
  1. Allah telah melimpahkan rizki yang banyak, ibadah sebagai bukti berayukur (QS al-Kautsar);
  2. Diwajibkan zakat dan sjadaqah bagi yang mampu (al – Quràn, al Hadits).
  3. Bila bersyukur, maka Allah akan menambahkan rizki, bila kufur ingat siksa Allah (al-Quràn)
  4. Bermegah – megahan bisa melalaikan keta’atan dan segala kenikmatan akan dimintai pertanggung jawabannya (al-Quràn)
  5. Neraka wael bagi para pengumpul harta ((QS al-Humazah)
  6. Jangan hidup boros, sesungguhnya para pemboros itu saudara setan (QS al Isra : 26-27);
  7. Yang berfoya-foya di dunia dan tidak bersyukur akan menerima kitab catatan amal dari arah belakang (QS al-Inayiqaq)
    Dan banyak lagi keterangan dari al-Quràn dan al Hadits tentang hal ini.
    Sementara yang sudah dijamin menjadi ahli surga dijanjikan oleh Allah adalah orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. Wallaahu a’lam.
    Hadaniyallaahu wa iyyaakum.**

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed