Irigasi Baru Jebol

Irigasi Baru Jebol

TAHAN: Seorang petani di Blok Ranca Desa Bojongloa Kecamatan Buahdua, saat membetulkan penahan tebok irigasi yang jebol akibat tidak adanya pondasi, Rabu (21/9).(ATEP BIMO ARIO SUTEJO/SUMEKS)

PEWARTA: atep bimo

Dua Bulan Saja Tembok Retak-retak
BUAHDUA – Petani di Blok Ranca, Desa Bojongloa, Kecamatan Buahdua, mengeluhkan jebolnya irigasi. Dimana irigasi yang pengerjaannya dilakukan dari anggaran perubahan 2015 (November-Desember) kini jebol sepanjang lebih dari 50 meter.

Pantauan Sumeks, daerah irigasi tersebut mengalami jebol dari pertengahan hingga ujung pekerjaan. Selain jebol, sebagian irigasi kondisinya juga sudah miring pada temboknya.
Seorang petani setempat, Apih Eman mengatakan, irigasi diperkirakan sepanjang sekitar 135 meter. Sejak sebulan hingga dua bulan setelah selesai pekerjaan irigasi tersebut, tembok sudah mulai mengalami retak-retak.

“Irigasi saat itu hanya bisa dimanfaatkan oleh petani sekitar satu musim. Diperkirakan hanya dua atau tiga bulan saja dapat dimanfaatkannya,” kata Eman di sawahnya, Rabu (21/9).

Eman menyebutkan, saat ini kondisi irigasi untuk aktivitas para petani pun sangat sulit. Irigasi mengalami jebol terparah sekitar dua bulan lalu. Sehingga untuk menahan tembok irigasi agar tidak roboh, harus menggunakan bambu di beberapa titik.
“Kini, irigasi tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para petani di sekitar irigasi. Banyak irigasi yang sudah mengalami bocor-bocor,” ujarnya.

Disebutkan Eman, potensi air yang melalui irigasi itu cukup besar, dan digunakan sebagai sumber pengairan bagi para petani. Air dapat menjadi sumber pengairan bagi ratusan hektar sawah yang terdapat di tiga blok, diantaranya blok Ranca, Blok Mojok, serta Blok Bebedahan.

Diduga, kata dia, pekerjaan tembok irigasi yang tidak berkualitas menyebabkan cepat rusaknya irigasi tersebut. Pihak kontraktor, dinilai hanya menempelkan tembok pada pematang sawah, dan tidak menggali pematang sawah sebagai pondasi terlebih dahulu.
“Lebar irigasi setebal 30 centimeter dengan ketinggian 60 centimeter, juga menjadi beban. Sehingga tembok irigasi mudah retak, miring hingga terakhir jebol,” terangnya.
Disamping itu, kata dia, gerusan air yang cukup besar dan melintas di irigasi, mempercepat rusaknya irigasi. Pasalnya, irigasi tidak mempunyai tahanan karena tidak adanya pondasi galian.

Sebenarnya, sebut Eman, irigasi tidak perlu terlalu lebar dan tinggi. Namun asalkan adanya pondasi juga sudah cukup.

“Hal itu sudah dikomplain oleh beberapa warga ke pihak kontraktor. Namun komplain warga tidak diindahkan olek kontraktor tersebut. Bahkan beberapa warga sudah memprediksi kekuatan tembok irigasi tidak akan bertahan lama,” jelasnya.

Diakui Eman, bahan-bahan yang digunakan untuk tembok irigasi, mempunyai kualitas cukup baik. Terbukti, dengan pasir dan batu yang digunakan tidak berasal dari daerah lain.
“Seorang warga memilih bahan itu dari sekitar Kecamatan Buahdua. Dia memilihkan yang terbaik. Namun oplosan semen pada adukan diperkirakan kurang oleh kontraktor. Menyebabkan kualitas tembok sendiri kurang baik,” tegasnya.

Dirinya beserta para petani, telah melaporkan kejadian jebolnya irigasi ke pihak pemerintahan desa. Kata dia, desa telah melanjutkan laporan dan keluhan itu ke pihak yang lebih berwenang.

“Mereka akan memfasilitasi dengan pihak PU Binamarga. Selanjutnya pihak Binamarga juga akan berkoordinasi dengan kontraktor tersebut,” tutupnya. (atp)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.