Jade Catat Rekor Dunia

Peliput/Editor: Andy/JE

Jade Catat Rekor Dunia

PAPARKAN INOVASI DESA: Kepala Desa Pasirsari Kecamatan Cikarang Selatan Kabupaten Bekasi Lamzah Hertansyah (berdiri) memaparkan program yang namai 717. Pasirsari adalah Desa Terbaik 2017. (ANDY RUSNANDY/JABAR EKSPRES)

Tekad Jabar Superpower Agribisnis

BANDUNG – Ribuan kepala desa dan lurah se-Jawa Barat berkumpul di Lapang Jababeka, Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Senin (11-12). Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menyebut, Jambore Desa (Jade) yang digelar dua hari ini diklaim sebagai kegiatan pertama kali di Indonesia dan dunia.

Deddy menegaskan, Jade dihadiri sebanyak 5.312 kepala desa dan 645 lurah se-Jawa Barat. Serta melibatkan 250 tenaga ahli dan pendamping desa. Belum ada di belahan dunia mana pun yang menggelar kegiatan dengan mengumpulkan para kepala desa dan lurah dalam satu acara. “Jambore Desa ini kali pertama digelar di Indonesia. Bahkan di dunia,” kata Deddy.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan pun merasa gembira danbahagia dengan kehadiran para kades dan lurah. Ia menyebut, Jade adalah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jawa Barat. Apalagi topik bahasan kegiatan terkait dengan pembangunan desa. “Hidup kades. Hidup lurah,” seru gubernur di hadapan para peserta jamboree.

Pria yang akrab disapa Aher ini mengungkapkan, pada dasarnya kemajuan suatu daerah terlihat dari hasil pembangunan di desa. Tren saat ini, kata Aher, negeri yang kaya raya merupakan negara yang mengawal dengan baik pengelolaan lahan daerahnya. Pengelolaan tersebut sudah dilakukan di berbagai negara. Salah satu yang berhasil yakni Sudan.

“Secara wilayah, Indonesia lebih baik dari Sudah. Hanya mereka berhasil meyakinkan dunia dengan pengelolaan lahan yang teliti. Di sana, tidak ada satu jengkal pun lahan yang tidak dikelola dengan baik,” kata dia.

Dampaknya, meski Sudan diembargo 21 tahun oleh Amerika, mereka hidup dengan aman dan nyaman, Tidak pernah kekurangan gandum, sayuran, daging, ikan, atau buah-buahan. Padahal, sebagai negara yang diembargo, putaran uang antarnegara berkurang. Begitu pun dengan pembangunan fisik yang tidak seberapa.

“Namun hebatnya masyarakatnya sangat makmur. Lebih hebatnya lagi, mereka dinyatakan sebagai negara dengan keamanan pangan paling tinggi,” tegasnya.

Aher mengungkapkan, sejumlah negara yang memiliki keamanan pangan tinggi dipastikan pengelolaan pedesaan dan pertaniannya dikelola dengan baik. Desa menjelma sangat hebat di beberapa negara kaya raya.

Dari hasil penelusurannya juga, negeri yang memiliki indeks kebahagiaan tertinggi dunia, sebut saja Skandinafia, Denmark, Swedia, Finlandia, ternyata berhasil mengelola desanya menjadi desa yang maju. Basis kemajuannya, kata dia, sebagai negara yang paling memuliakan perkebunanan, kehutanan, pertanian.

“Mereka menyatakan sebagai negeri superpower agribisnis. Saya hanya membayangkan Jawa Barat menjadi superpower agribisnis,” ucapnya.

Aher menegaskan, Jawa Barat memiliki tingkat kesuburan tanah lebih tinggi dari Sudan dan Maroko. Maka dari itu, kades tidak boleh merasa keliru dalam mengelola desa. Sebab, saat ini desa sedang mencari jati diri. “Sumber kekayaan berasal dari desa,” tegasnya.

Sehingga, semua pihak sepakat menyatakan untuk mengelola negara ini pembangunannya harus “mencicil” dari pinggiran. Hal ini tentu sesuai dengan nawacita Presiden. Di desa, terdapat banyak potensi. Mulai dari perikanan, pertanian, kehutanan. Jika bisa dikelola dengan baik, dibarengi dengan SDM yang mumpuni, akan jadi desa pemasok pangan yang paling hebat.

“Jabar bisa menjadi daerah paling makmur,” ujarnya semangat.
Seperti diketahui, Jade merupakan upaya pembinaan penyelenggaraan pemerintahan desa dan kelurahan di Jawa Barat. Khususnya pembinaan dalam pelaporan bantuan keuangan infrastruktur pedesaan dan tunjangan penghasilan aparatur desa.

“Dari tahun 2014 hingga 2017 ini seluruh kepala desa diberikan bantuan. Saat jambore nanti, mereka diminta untuk melaporkan hasil bantuan yang sudah diberikan dalam rentang waktu tiga tahun tersebut. Termasuk melaporkan kendala dalam pelaksanaannya,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Jawa Barat Agus Hanafi.

Agus menjelaskan, selama periode 2008 hingga 2018, telah terjadi transformasi kebijakan pembinaan pembangunan desa di Jawa Barat. Salah satu bentuk transformasi tersebut yakni kebijakan bantuan keuangan untuk pembangunan infrastruktur perdesaan dan tunjangan penghasilan aparatur pemerintah desa untuk seluruh desa di Jawa Barat.

Sejalan dengan kebijakan Pemprov Jabar tersebut, serta lahirnya kebijakan dana desa bersumber APBN mulai 2015 hingga sekarang, perhatian kebijakan terhadap kelurahan pun boleh dianggap belum mendapat sentuhan serius dari pemerintah.

“Sehingga kelurahan beranggapan dianaktirikan oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Padahal kelurahan memiliki posisi strategis dalam pelayanan publik maupun pemberdayaan masyarakat,” tuturnya.

Untuk itulah, kata dia, selain dalam upaya pembinaan penyelenggaraan pemerintahan desa dan kelurahan, khususnya untuk pembinaan pelaporan penggunaan bantuan keuangan infrastruktur pedesaan, Jade ini sebagai wadah untuk mencari rumusan solusi permasalahan pembinaan kelurahan. (and)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.